Thursday, July 10, 2014

Tari Kretek dari Kota Kudus Memiliki Makna Proses Pembuatan Rokok


Tari Kretek ini diilhami oleh pembuatan rokok yang berada di kota Kudus. Tarian jenis kreasi ini merupakan tarian yang menceritakan proses pembuatan rokok.
Penciptanya, seniman Endang dan Supriyadi, mempunyai Sanggar Tari Puringsari. Tema tarian ini diambil dari cara melipat rokok, cara membatil (menggunting ujung-ujung rokok), dan pengepakan.
Idih Tri Relianto menyampaikan itu di sela-sela Pameran Displai Data Hasil Penelitian yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Seni S2 semester III Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes), Senin (16/12), di rektorat lantai I kampus Sekaran. Pameran diikuti 33 mahasiswa selama dua hari (16-17/12).
Idih Tri Relianto mengemukakan, tari ini menceritakan awal mula pembuatan rokok kretek, yakni mulai dari cara memilih tembakau yang baik untuk dipakai membuat rokok. Setelah menjadi rokok, tugas buruh mbatil selanjutnya memotong bagian ujung rokok untuk merapikannya, kemudian buruh mbatil membawa rokok tadi ke mandor untuk diperiksa.
Ketika memeriksa rokok, sang mandor kadang memasang muka seram atau malah mesam-mesem kepada sang mbatik.
Untuk menambah suasana rancak dalam tarian ini, kata Idih Tri Relianto diiringi dengan gamelan jawa jenis pelog lancaran, ditambah dengan tembang kinanti kota kretek yang diiringi oleh terbang papat, jedor, bonang, saron, slentem, demung, kendang bem, kendang ciblon, dan ketipung.
Penarinya memakai kostum dan atribut Caping kalo, Konde Ayu, Cunduk, Suweng Markis, Kalung susun renteng 9 melambangkan wali sanga, Bros 5 melambangkan rukun islam ada lima, gelang lungwi, kebaya kartinian, selendang lurik, stagen, idep kalung susun pitu, jarik laseman, celanan rancingan kuning, epek timang (sabuk), dan gesper,” katanya.
Senada dengan Idih Tri Relianto, Angga Amoriska mengambil tema “Satu Jejak Penting Karya Mansyur Daman: Joko Linglung” (1988). Dia menengarai komik Indonesia tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Padahal, kata Angga Amoriska, karya Mansyur Daman bisa menjadi cerita bagi generasi untuk mencintai Indonesia.
“Ada anggapan bahwa orang mendengar kata komik itu identik dengan sisi negatif padahal tidak semua komik itu negatif. Bahkan ada peneliti komik Indonesia dari Perancis Marcel Bonneff meneliti komik Indonesia mempunyai peluang maju,” tegas Angga Amoriska.
Selain itu, dipamerkan pula, Tari Aplang Banjarnegara (Niansari Susapto Putri), Seni Kriya Miniatur Sepeda Kuno Desa Pohlandak Rembang ( Arif Bayu Dwi J), Tradisi Malam Jumat Kliwonan di Kabupaten Batang (Medi Prihatmana).
Kemudian Terbang Biola Sabdo Rahayu Desa Pekiringan Kabupaten Tegal (Mujiati dan Endri Muris Jatmiko), dan Perajin Wayang Kulit Ki Sudharjo Desa Ngablak Kecamatan Tayu Kabupaten Pati (Dian Purbarini).

Tuesday, July 1, 2014

Tari Ratéb Meuseukat diciptakan oleh Teungku Chik Asal Aceh


Tari Ratéb Meuseukat merupakan salah satu tarian Aceh yang berasal dari Aceh. Nama Ratéb Meuseukat berasal daribahasa Arab yaitu ratéb asal kata ratib artinya ibadat dan meuseukat asal kata sakat yang berarti diam.

Diberitakan bahwa tari Ratéb Meuseukat ini diciptakan gerak dan gayanya oleh anak Teungku Abdurrahim alias Habib Seunagan (Nagan Raya), sedangkan syair atau ratéb-nya diciptakan oleh Teungku Chik di Kala, seorang ulama diSeunagan, yang hidup pada abad ke XIX. Isi dan kandungan syairnya terdiri dari sanjungan dan puji-pujian kepada Allahdan sanjungan kepada Nabi, dimainkan oleh sejumlah perempuan dengan pakaian adat Aceh. Tari ini banyak berkembang di Meudang Ara Rumoh Baro di kabupaten Aceh Barat Daya.

Pada mulanya Ratéb Meuseukat dimainkan sesudah selesai mengaji pelajaran agama malam hari, dan juga hal ini tidak terlepas sebagai media dakwah. Permainannya dilakukan dalam posisi duduk dan berdiri. Pada akhirnya juga permainan Ratéb Meuseukat itu dipertunjukkan juga pada upacara agama dan hari-hari besar, upacara perkawinan dan lain-lainnya yang tidak bertentangan dengan agama.

Saat ini, tari ini merupakan tari yang paling terkenal di Indonesia. Hal ini dikarenakan keindahan, kedinamisan dan kecepatan gerakannya. Tari ini sangat sering disalahartikan sebagai tari Saman milik suku Gayo. Padahal antara kedua tari ini terdapat perbedaan yang sangat jelas. Perbedaan utama antara tari Ratéb Meuseukat dengan tari Saman ada 3 yaitu, pertama tari Saman menggunakan bahasa Gayo, sedangkan tari Ratéb Meuseukat menggunakan bahasa Aceh. Kedua, tari Saman dibawakan oleh laki-laki, sedangkan tari Ratéb Meuseukat dibawakan oleh perempuan. Ketiga, tari Saman tidak diiringi oleh alat musik, sedangkan tari Ratéb Meuseukat diiringi oleh alat musik, yaitu rapa’i dangeundrang.

Keterkenalan tarian ini seperti saat ini tidak lepas dari peran salah seorang tokoh yang memperkenalkan tarian ini di pulau Jawa yaitu Marzuki Hasan atau biasa disapa Pak Uki.

Tari Perang Kebasaran Asal Minahasa


Kota Tomohon yang penduduknya sebagian besar adalah suku Minahasa, mempunyai tarian perang yang bernama Kabasaran. Kabasaran adalah sekelompok pria yang memakai baju adat perang Minahasa. Kabasaran juga sering disebut dengan Cakalele, tapi sebutan Cakalele adalah sama dengan tarian perang dari daerah Maluku. Pada saat ini Tarian Perang Kabasaran dipertunjukan pada saat-saat pawai dan juga pada waktu penjemputan tamu-tamu penting daerah.

Tarian ini merupakan tarian keprajuritan tradisional Minahasa, yang diangkat dari kata; Wasal, yang berarti ayam jantan yang dipotong jenggernya agar supaya sang ayam menjadi lebih garang dalam bertarung. Tarian ini diiringi oleh suara tambur dan / atau gong kecil. Alat musik pukul seperti Gong, Tambur atau Kolintang disebut “Pa ‘ Wasalen” dan para penarinya disebut Kawasalan, yang berarti menari dengan meniru gerakan dua ayam jantan yang sedang bertarung.

Tiap penari kabasaran memiliki satu senjata tajam yang merupakan warisan dari leluhurnya yang terdahulu, karena penari kabasaran adalah penari yang turun temurun. Tarian ini umunya terdiri dari tiga babak (sebenarnya ada lebih dari tiga, hanya saja, sekarang ini sudah sangat jarang dilakukan).

Babak – babak tersebut terdiri dari :

(1) CAKALELE, yang berasal dari kata “saka” yang artinya berlaga, dan “lele” aritnya berkejaran melompat – lompat. Babak ini dulunya ditarikan ketika para prajurit akan pergi berperang atau sekembalinya dari perang. Atau, babak ini menunjukkan keganasan berperang pada tamu agung, untuk memberkan rasa aman pada tamu agung yang datang berkunjung bahwa setan-pun takut mengganggu tamu agung dari pengawalan penari Kabasaran.

(2) Babak kedua ini disebut KUMOYAK, yang berasal dari kata “koyak” artinya, mengayunkan senjata tajam pedang atau tombak turun naik, maju mundur untuk menenteramkan diri dari rasa amarah ketika berperang. Kata “koyak” sendiri, bisa berarti membujuk roh dari pihak musuh atau lawan yang telah dibunuh dalam peperangan.

(3) LALAYA'AN. Pada bagian ini para penari menari bebas riang gembira melepaskan diri dari rasa berang seperti menari “Lionda” dengan tangan dipinggang dan tarian riang gembira lainnya. Keseluruhan tarian ini berdasarkan aba-aba atau komando pemimpin tari yang diseut “TUMU-TUZUK” (Tombulu) atau “SARIAN” (Tonsea). Aba-aba diberkan dalam bahasa Sub – etnik tombulu, Tonsea, Tondano, Totemboan, Ratahan, Tombatu dan Bantik. Pada tarian ini, seluruh penari harus berekspresi Garang tanpa boleh tersenyum, kecuali pada babak lalayaan, dimana para penari diperbolehkan mengumbar senyum riang.

Busana yang digunakan dalam tarian ini terbuat dari kain tenun Minahasa asli dan kain “Patola”, yaitu kain tenun merah dari Tombulu dan tidak terdapat di wilayah lainnya di Minahasa, seperti tertulis dalam buku Alfoersche Legenden yang di tulis oleh PN. Wilken tahun 1830, dimana kabasaran Minahsa telah memakai pakaian dasar celana dan kemeja merah, kemudian dililit ikatan kain tenun. Dalam hal ini tiap sub-etnis Minahasa punya cara khusus untuk mengikatkan kain tenun. Khusus Kabasaran dari Remboken dan Pareipei, mereka lebih menyukai busana perang dan bukannya busana upacara adat, yakni degan memakai lumut-lumut pohon sebagai penyamaran berperang.

Tari Pho dari Aceh


Tari Pho adalah tari yang berasal dari Aceh. Perkataan Pho berasal dari kata peubae, peubae artinya meratoh atau meratap. Pho adalah panggilan atau sebutan penghormatan dari rakyat hamba kepada Yang Mahakuasa yaitu Po Teu Allah. Bila raja yang sudah almarhum disebut Po Teumeureuhom.

Tarian ini dibawakan oleh para wanita, dahulu biasanya dilakukan pada kematian orang besar dan raja-raja, yang didasarkan atas permohonan kepada Yang Mahakuasa, mengeluarkan isi hati yang sedih karena ditimpa kemalangan atau meratap melahirkan kesedihan-kesedihan yang diiringi ratap tangis. Sejak berkembangnya agama Islam, tarian ini tidak lagi ditonjolkan pada waktu kematian, dan telah menjadi kesenian rakyat yang sering ditampilkan pada upacara-upacara adat.

Tarian Cendrawasih diciptakan oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem


Tari Cendrawasih merupakan tari duet yang ditarikan oleh penari putri, kendatipun dasar pijakannya adalah gerak tari tradisi Bali, beberapa pose dan gerakannya dari tarian ini telah dikembangkan sesuai dengan interpretasi penata dalam menemukan bentuk - bentuk baru sesuai dengan tema tarian ini. Busana ditata sedemikian rupa agar dapat memperkuat dan memperjelas desain gerak yang diciptakan.

Tarian ini di ciptakan oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem (yang juga sebagai penata busana dari pada tarian ini) dalam rangka mengikuti Festival Yayasan Walter Spies. penata tabuh pengiring adalah I Wayan Beratha dan I Nyoman Widha pada tahun 1988

Tarian Lenso dari Maluku Untuk Mencari Jodoh


Tarian Lenso adalah tarian muda-mudi dari daerah Minahasa (sulut) dan daerah Maluku,Tarian ini biasanya di bawakan secara ramai-ramai bila ada Pesta. Baik Pesta Pernikahan, Panen Cengkeh, Tahun Baru dan kegiatan lainnya.

Tarian ini juga sekaligus ajang Pencarian jodoh bagi mereka yang masih bujang...mau coba?

Lenso artinya Saputangan. Istilah Lenso, hanya dipakai oleh orang-orang (masyarakat di daerah Sulut, sebagian Sulteng dan daerah lain di Indonesia Timur)

Manfaat Tari Tanggai/Tari Tepak Dari Sumatera Selatan


Tari tepak atau tari tanggai yang biasa digelarkan untuk menyambut tamu-tamu terhormat. Tarian ini memiliki persamaan dengan tari Gending Sriwijaya. Perbedaannya pada jumlah penari dan busananya. Tari tepak atau tanggai dibawakan oleh 5 penari sedangkan tari Gending Sriwijaya 9 penari.

Busana penari tepak atau tanggai ini tidak selengkap busana dan asesoris penari Gending.Kelenturan gerak dan lentiknya jemari penari menunjukan betapa tulusnya tuan rumah memberikan penghormatan kepada tamu.

Perpaduan gerak gemulai penari dengan harmoni lagu pengiring yang berjudul enam bersaudara melambangkan keharmonisan hidup masyarakat Palembang.Tari Tanggai sering dipergunakan dalam acara pernikahan masyarakat Sumatera Selatan, acara-acara resmi organisasi dan pergelaran seni di sekolah-sekolah.

Sanggar-sanggar seni di kota Palembang banyak yang menyediakan jasa pergelaran tarian tanggai ini, lengkap dengan kemewahan pakaian adat Sumatera Selatan
◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Total Pageviews

Copyright 2013 Macam-Macam Tarian di Indonesia Template by Hand's. Powered by Blogger