Monday, November 3, 2014

Tari Tambun dan Bungai Dari Palangkaraya

Image : Tari Tambun Bungai

Tari tambun dan bungai, berasal dari daerah palangkaraya, Kalimantan Tengah. Tarian ini merupakan tari yang mengisahkan kepahlawanan Tambun dan Bungai dalam mengusir musuh yang akan merampas hasil panen rakyat. Tambun dan bungai adalah pejuang di Kalimantan Tengah. Tambun dan Bungai adalah tokoh legenda suku dayak ot Danum yang tinggal di tengah pulau Kalimantan khususnya wilayah Kabupaten gunung Mas. Tambun dan Bungai adalah saudara dari ayah mereka yang merupakan adik-kakak. Kedua orang ini, Tambun dan Bungai memiliki perasaan yang sama yaitu jika salah satu diantara mereka bersedih maka yang satu akan ikut merasakan kesedihan yang sama dialaminya. Keduanya memiliki karakter dan sifat yang sama. Mereka memiliki watak yang cerdas, lemah lembut, peramah, suka menolong sesama, sedikit menerima banyak memberi, cepat kaki ringan tangan, bijaksana, dan pantang menyerah untuk membela kebenaran.
Salah satu peristiwa penting yang memjadikan Tambun dan Bungai sebagai pejuang di Kalimantan Selatan adalah mereka selalu menang dalam pertempuran melawan musuh yang akan merampas tanah dan panen masyarakat setempat. Mereka akhirnya mendapat gelar dari Nyai Undang raja di Pematang Sawang yaitu gelar  “Tumenggung Tambun Terjun Ringkin Duhung dan “Tumenggung Bungai Andin Sindai”. 
Atas semua perjuangan Tambun dan Bungai, banyak orang yang menciptakan kebudayaan untuk mengenang Tambun dan Bungai salah satunya adalah Tarian Tambun dan Bungai. 

Asal-Usul Tari Selaras Pinang Masak Dari Jambi

Image : Tari Selaras Pinang Masak Asal Jambi


Tari Selaras Pinang Masak adalah sejenis tari Melayu dari Jambi dengan gerakan-gerakan yang sangat dinamis. Gerakan-gerakan tersebut lebih mirip kombinasi antara silat, aerobic, dan kungfu. Nama Selaras Pinang Masak ini diambil nama Puteri Selaras Pinang Masak yang konon memerintah Jambi pada zaman dahulu kala.

Konon, Putri Selaras Pinang Masak dulunya adalah istri dari Datuk Paduka Berhala. Datuk Padukan Berhala merupakan penguasa negeri Melayu Jambi yang berasal dari Turki. Namun hingga saat ini belum ada bukti nyata berdasarkan penelitian atau catatan sejarah yang relevan. Pasalnya, tidak ada satu silsilah yang mengurutkan dengan tepat dan dapat dipercaya secara keilmuan (nasab) tentang hirarki Sang Datuk, baik dari garis keturunan ayahnya maupun ibunya dengan raja-raja Islam penguasa daratan Eropa itu. 

Sebenarnya, cerita yang menarik lahir dari suami Putri Selaras Pinang Masak, yaitu Datuk Paduka Berhalo. Asal-usul Datuk menjadi teka-teki tersendiri bagi para sejarawan.Profesor Aulia Tasman, Ph. D, Pembantu Rektor IV Universitas Jambi menyatakan bahwa Datuk Paduka Berhala adalah Adityawarman. Profesor Aulia Tasman bersepakat dengan penelitian A. Jaffar, menurutnya, sebagai seorang Maharajadiraja, patung Adityawarman banyak disembah dan “dipertuhankan oleh rakyat yang saat itu mayoritas beragama Budha. Patung Sang Datuk kemudian dianggap sebagai berhala oleh orang-orang muslim. Dari sanalah mulai terciptanya Datuk Paduka Berhala. 

Versi di atas mendapat sanggahan dari be erapa kalangan. Pasalnya, dalam Kitab Undang Undang Tanjung Tanah, Naskah Melayu yang Tertua, 2006, Profesor Uli Kozok Ph.D, menuliskan bahwa Adityawarman wafat  sekira tahun 1375-1377. Pada Prasasti Batusangkar yang bertarikh 1375 disebutkan Adityawarman kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Ananggawarman. Wilayah terakhir pusat kerajaaan Pagaruyung yang dikuasai Adityawarman itu terletak di pedalaman Minangkabau. Hal tersebut terbukti dengan adanya makam Adityawarman di sana.

Letak tersebut cukup jauh dari tanah Jambi secara geogrefis. Maka janggal bila kemudian masyarakat Jambi menyebut-nyebut Adityawarman sebagai Datuk Paduka Berhala. Padahal dalam prasasti atau cerita rakyat di Minangkabau sendiri tidak dikenal siapa itu Sang Datuk. Apalagi menghubung-hubungkannya sebagai orang yang sama dengan Adityawarman. 

Lantas siapa sebenarnya Putri Selaras Pinang Masak yang kemudian disebut-sebut pernah memerintah kerjaan Melayu Jambi setelah sang Datuk meninggal dan Orang kayo Hitam (yang diduga anak kandung Putri Selaras Pinang Masak dan Datuk Paduka Berhala) mendirikan Kerajaan Melayu Jambi.

Versi lain menyebutkan bahwa Datuk Paduka Berhala adalah Sayid Ahmad Tajjudin yang tersingkir dari Malaka saat terjadi perang. Bersama seorang sepupunya ia harus pindah ke suatu daerah di Selat Berhala pada 1513. Di sanalah, Sayid Ahmad Tajjudin menyiarkan agama Islam ke pesisir hingga pedalaman. Kemudian ia menikah dengan Putri Selaras Pinang Masak.

Dari latar sejarah yang masih menarik untuk terus digali, karakter Putri Selaras Pinang Masak sendiri tercermin dari gerakan-gerakan tari yang cenderung lebih mirip gerakan bela diri. Hal itu mencerminkan bahwa Putri Selaras Pinang memiliki karakter yang tegas dan berlawan dalam memimpin kerajaan yang diwariskan suaminya ketika itu. Namun dari semua itu yang terpenting adalah bahwa tarian Selaras Pinang Masak memiliki kekhasan yang berbeda dari tarian Jambi pada umumnya.

Sunday, November 2, 2014

Tari Sanghyang Dianggap Sakral di Masyarakat Bali

Image : Tari Sanghyang Dianggap Sakral di Masyarakat Bali
TARI SANGHYANG, TARI UPACARA YANG DIANGGAP SAKRAL DI MASYARAKAT BALI
Masyarakat Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu sangat percaya adanya roh halus dan jahat serta alam yang mengandung kekuatan magis. Untuk mengimbangi dan menetralisir keadaan tersebut masyarakat mengadakan upakara (upacara) yang dilengkapi dengan tari-tarian yang bersifat relegius antara lain Tari Sanghyang yaitu suatu tari upacara sakral yang berfungsi sebagai pelengkap upacara untuk mengusir wabah penyakit yang terdapat di suatu daerah tertentu.
Dalam keadaan sehari-hari, tari-tarian tradisional yang sakral seperti itu tidak dapat dinikmati di sembarang tempat dan waktu, berbeda halnya dengan tarian yang sudah dimodifikasi menjadi tontonan umum seperti tari barong, legong, baris, tari kecak dan sebagainya.
Tari Sanghyang ada beberapa jenisnya antara lain Sanghyang Dedari, Sanghyang Dewa, Sanghyang Deling, Sanghyang Dangkluk, Sanghyang Penyalin, Sanghyang Celeng, Sanghyang Medi, Sanghyang Bumbung, Sanghyang Kidang, Sanghyang Janger, Sanghyang Sengkrong dan Sanghyang Jaran.
Secara umum Tari Sanghyang berfungsi untuk mengusir wabah penyakit yang sedang melanda suatu desa (daerah) ataupun sebagai sarana pelindung terhadap ancaman dari kekuatan magis hitam (black magic). Tari yang merupakan sisa-sisa kebudayaan pra Hindu ini biasanya ditarikan oleh dua gadis yang masih kecil (belum dewasa) dan dianggap masih suci. Mereka, calon penari Sanghyang harus menjalankan beberapa pantangan, seperti tidak boleh lewat di bawah jemuran pakaian, tidak boleh berkata jorok dan kasar, tidak boleh berbohong, tidak boleh mencuri dan sebagainya, serta harus mengikuti petunjuk dan tata tertib desa yang telah ditentukan.
Penari Sanghyang pada waktu menari tersebut dalam keadaan tidak sadar (in trance) seperti kemasukan roh. Mula-mula calon penari dengan kerudung putih kepalanya diasapi dengan kemenyan dan nyanyian suci mengalun mengiringi upacara awal. Untuk menjaga agar dua penari ini tidak jatuh ketika memasuki alam tidak sadar, ditugaskan dua orang wanita. Kerudung putih akan dibuka setelah penari tadi sudah nadi (kehilangan kesadaran). Dalam keadaan seperti inilah mereka menari-nari, kadang-kadang di atas bara api dan selanjutnya keliling desa dengan maksud mengusir wabah penyakit. Biasanya atraksi ini dilakukan pada malam hari sampai tengah malam.
Image : Tari Sanghyang Dianggap Sakral di Masyarakat Bali

Di Bali pengertian mengenal Tari Sanghyang ada beberapa jenis. Setiap kabupaten bahkan juga desa mempunyai ciri khas masing-masing. Misalnya pada jenis Tari Sanghyang Dedari, umumnya ditarikan oleh seorang atau dua gadis kecil, melalui upacara pedudusan (pengasapan) yang diiringi dengan nyanyian atau kecak dengan musik gending pelebongan. Dalam keadaan tidak sadar penari Sanghyang diarak memakai peralatan yang lazimnya disebut joli (tandu). Di Desa Pesangkan, Karangasem ada variasi lain yaitu dua gadis penari tadi menari di atas sepotong bambu yang dipikul, sedang di Kabupaten Bangli penari Sanghyang menari di atas pundak seorang laki-laki, Jenis tari Sanghyang seperti ini juga dikenal dengan nama Tari Sanghyang Dewa. Mungkin tingkatan dedari (bidadari) dan dewa dalam hal ini dianggap sama
Selain itu dikenal juga dengan nama Tari Sanghyang Deling. Tari ini ditarikan oleh dua gadis dengan membawa deling (boneka dari daun lontar) yang dipancangkan di atas sepotong bambu. Deling ini dianggap dapat kemasukan roh suci lalu diarak sambil menari. Sanghyang Deling dulu terdapat di sekitar danau Batur. Gamelan (musik) yang dipergunakan sangat sederhana yaitu hanya seruling dan gendang. Sekarang tarian ini sudah tidak dijumpai lagi di tempat tersebut. Namun demikian tarian yang hampir sama dengan Sanghyang Deling dapat dijumpai di Tabanan dan diberi nama Sanghyang Dangkluk
Ada pula Tari Sanghyang yang mempergunakan rotan sehingga disebut Sanghyang Penyalin (penyalin berarti rotan). Tari ini ditarikan oleh seorang laki-laki dan sambil mengayun-ayunkan sepotong rotan panjang dalam keadaan tidak sadar
Di Desa Pesangkan dan Duda. Karangasem ada lagi jenis Tari Sanghyang yang digemari oleh anak-anak, yang disebut Sanghyang Celeng (celeng "berarti, babi). Tarian ini ditarikan oleh seorang anak-laki yang berpakaian serat ijuk berwarna hitam. Ia menari dan mnirukan gerakan-gerakan jalannya seekor babi, berkeliling desa dengan maksud mengusir roh jahat yang mengganggu ketenteraman desa. Dalam jenis yang sama di Bali utara dikenal juga Tari Sanghyang Memedi (memedi berarti mahluk halus). Penarinya berpakaian istri daun atau pohon padi sehingga menyerupai memedi. Penari Sanghyang Memedi juga menari dengan tidak sadarkan diri setelah diisapi dengan kemenyan.
Di Desa Sanur Denpasar yang juga dikenal dengan pantainya yang indah mempunyai Tari Sanghyang yang hanya ditarikan pada malam bulan purnama yang disebut dengan Sanghyang Bungbung, dengan mempergunakan potongan bambu yang diberi lukisan orang sebagai pelengkap. Tari ini ditarikan oleh seorang wanita yang juga dalam keadaan tidak sadar
Jenis Tari Sanghyang lainnya yaitu Sanghyang Kidang, yang hanya dijumpai di Bali utara, ditarikan oleh seorang wanita. Dalam keadaan tidak sadar penari menirukan gerakan-gerakan seekor kidang (kijang). Tarian ini diiringi dengan nyanyian bersama tanpa mempergunakan alat musik.
Tari Sanghyang yang sudah mengalami perkembangan dan perubahan yang sudah dikenal luas sampai sekarang adalah Sanghyang Janger. Dulu tarian ini ditarikan dalam keadaan tidak sadar dan bersifat sakral, namun kemudian mengalami perubahan dan menjadi Tari Janger yang diiringi dengan cak. Tari ini dapat disaksikan luas seluruh pelosok Pulau Dewata dengan makna yang sudah berbeda.
Tari Sanghyang yang juga dikenal luas di Bali adalah Sanghyang Jaran. Penyebarannya hampir pada setiap kabupaten. Penarinya biasanya terdiri dari dua laki-laki. Bentuk kuda yang dipergunakan bervariasi. Di Bali selatan terbuat dari kayu dan rotan dengan ekor pucuk kelapa dan penari meniru gerakan kuda dalam keadaan tidak sadar. Di Bali utara penarinya memakai topeng kuda dan diiringi dengan kecak.
Di tengah derasnya arus kebudayaan asing yang melanda pulau Bali, beberapa Tari Sanghyang di beberapa tempat pada masyarakat Bali masih diyakini membawa mujizat dan keselamatan. Sementara itu para seniman juga cukup jeli mengembangkan dan menggali tari-tari tradisional yang disakralkan menjadi tari yang dapat dinikmati sebagai hiburan tanpa harus kesurupan.

Makna Tari Sajojo Asal Papua

Image : Tari Sajojo Asal Papua

Tari Sajojo adalah sejenis tari pergaulan rakyat yang berasal dari Papua. Pulau yang paling Luas dengan Keadaan Geografisnya yang Terjal, terletak di ujung Timur Indonesia. Papua juga terkenal dengan Cartenz Pyramid, pemilik salju abadi di puncaknya, menjadi daya tarik tersendiri, bagi para wisatawan. Kemudian lautnya yang Terkenal Jernih dengan Pemandangan yang begitu Eksotik dan Biota laut yang masih langka pun ada di Papua. Selain keindahan alamnya, kesenian dan budaya tradisional Papua adalah kekayaan tersendiri yang diciptakan dan dimiliki oleh masyarakat Papua.
Papua adalah provinsi yang kaya dengan seni budaya dan suku adatnya, masyarakatnya telah memiliki dan mengembangkan seni tarinya tersendiri baik secara turun temurun atau seni tari kontemporer sebagai bentuk ekspresi diri, salah satunya adalah tarian sajojo ini. Lirik lagu dalam tarian sajojo bercerita tentang seorang gadis cantik yang diidolakan oleh pemuda-pemuda di kampungnya. Salah satu jenis tari pergaulan ini mulai populer pada tahun 1990-an. Awalnya di kalangan militer yang pernah tugas di Timor, Maluku dan Irian. Tari Sajojo, memiliki kekhasan pada gerakannya yang meloncat bongkok, dengan dimulai dari kaki kiri. Iringan musik Sajojo, biasanya beirama Cha Cha Cha Ambon medly.
Saking populernya tarian dan nyanyian Sajojo ini, kita dengar dimana-mana, hingga banyak sekolah, lembaga dan kelompok masyarakat memperlombakan tarian Sajojo. Bahkan tari sajojo telah dimodifikasi menjadi senam meski tanpa meninggalkan unsur-unsur aslinya. 
Kepopuleran tari Sajojo didukung pula oleh karakter tarian itu sendiri. Jenis tarian Sajojo adalah tarian grup yang tidak dibatasi jumlah penarinya. Seperti halnya tarian Yospan, siapa pun boleh turun dalam kesukarian sebuah kebersamaan. Ditambah dengan iringan musik yang dinamis, menghentak dan menggembirakan. Sehingga sangat kentara nuansa kebersamaan dan pergaulannya. Inilah salah satu karakter menonjol dari karya seni tradisional masyarakat Papua daerah pantai. Mereka telah mampu berkomunikasi dengan masyarakat kota dan masyarakat luar sudah tidak asing bagi mereka.

Filosofi Tari Manukrawa Asal Bali

Image : Tari Manukrawa Asal Bali

Tarian manuk rawa pertama kali diciptakan pada tahun 1981 oleh I Wayan Dibia (koreografer), dan I Wayan Beratha (komposer). Sebelum menjadi sebuah tari lepas, tari Manukrawa merupakan bagian dari sendratari Mahabharata Bale Gala-Gala karya tim sendratari Ramayana/Mahabharata Propinsi Bali yang ditampilkan dalam Pesta Kesenian Bali tahun 1980. Komposisi tari manuk rawa : Tarian yang dibawakan oleh sekelompok (antara 5 sampai 7 orang ) penari wanita ini merupakan tarian kreasis baru yang menggambarkan perilaku sekelompok burung (manuk) air (rawa) sebagaimana yang dikisahkan didalam cerita Wana Parwa dari Epos Mahabharata.
Dari Sejarah tari Manukrawa, Gerakan nya diambil dari tari klasik Bali yang dipadukan dengan gerakan tari dari Jawa dan Sunda, yang telah dimodifikasikan sesuai dengan tuntutan keindahan.
Filosofi
Seperti halnya tari Cendrwasih dan Tari Belibis dari Bali. Tarian Manukarawa terinspirasi dari burung Manukrawa sendiri.Manukrawa diambil dari kata Manuk yang artinya burung. Jadi manukrawa adalah burung yang hidup di rawa. Maka tidak heran jika tari Manukrawa menyerupai gerakan Manukarawa.Sebelum menjadi sebuah tari lepas, tari Manukrawa merupakan bagian dari sendratari Mahabharata Bale Gala-Gala  karya tim Sendratari Ramayana/Mahabharata Propinsi Bali yang ditampilkan dalam Pesta Kesenian Bali tahun 1980.
Tarian dan gerakan
Tarian ini menggambarkan sekelompok burung rawa-rawa yang sedang bercanda ria sambil mencari makan. Tari ini biasanya dipertunjukan atau dimainkan oleh anak kecil, bukan unuk dewasa. Dari segi gerakan tarian Manukarawa lebih banyak jongkok-berdiri.
Tujuan
Jika dilihat dari penari yang dilakukan oleh anak-anak, tidak seperti tari Bali lainnya yang cendrung dimainkan oleh orang dewasa dan mempunyai nilai magis, begitupun fungsionalitanya tidak sembarang dan pertunjukannyapun tidak dilakukan sembarang, hanya di hari-hari tertentu saja.Tari Manukwara sendiri tidak ada tujuan khusus. Secara umum tari Manukrawa hanya sebagai hiburan semata bagi anak-anak. Disamping sebagai media pembeljaran untuk mengenal burung manukrawa sendiri juga sebagai menganal mengenal tradisi Bali. Bagi saya sendiri sebagai penulis, tidak mungkin seoarang anak memainkan tari Kecak, Tari Pendet.
sumber : kebudayaanindonesia.net

Sejarah Tari Kupu-Kupu atau Tarum

Image : Tari Kupu-Kupu atau Tarum Asal Bali

Tari kupu-kupu atau tari kupu-kupu tarum adalah salah satu dari sekian banyak tarian yang berasal dari Bali. Keberadaan Bali dalam sisi seni budaya, keindahan alam dan religiusitasnya telah diakui dan dikenali oleh masyarakat Internasional. Maka tak heran jika banyak budayawan dan seniman Bali yang terkenal dalam pentas dunia seni internasional.
Menurut catatan sejarah tarian Bali, tari kupu-kupu diciptakan oleh diciptakan oleh I Wayan Beratha pada tahun 1960-an.  I Wayan Beratha adalah seniman Tari Bali yang lahir pada tahun 1926, di Banjar Belaluan Denpasar. Kini ia menetap di Banjar Abian Kapas Kaja. I Wayan Beratha hidup dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga seniman Bali. Kakeknya, I Ketut Keneng (1841-1926) juga adalah seniman Bali yang besar pada zamannya. Kakeknya adalah seorang ahli karawitan dan pagambuhan. Karena kebesaran nama dan karyanya, hampir sebagian besar kehidupan Pekak (Kakek) Kenengnya diabdikan untuk keluarga Puri Denpasar, sebagai seniman kesayangan Raja I Gusti Agung Ngurah Denpasar hingga Perang Puputan Badung meletus tahun 1906. Maka pantaslah darah seniman besar mengalir dalam I Wayan Beratha dan menciptakan karya-karya besar bagi masyarakat Bali dan Indonesia.
Tarian kupu-kupu adalah jenis tarian grup putri yang dimainkan oleh lima orang perempuan atau lebih. Tarian ini menggambarkan kupu-kupu berwarna biru tua atau tarum yang sedang terbang dan hinggap dari satu bunga ke bunga lainnya.
Secara filosofis, tarian kupu-kupu adalah penggambaran keindahan, kedamaian dan eksotoknya pulau Bali. Gerakan yang gemulai dengan komposisi gerak yang dinamis dan menawan, menjadikan tarian kupu- sedikit berbeda dengan nuansa yang diciptakan oleh tarian Bali pada umumnya sehingga lebih terkesan nuansa damai saat menontonya. Serta perpaduan warna kostum antara kain berwarna gelap dan terang seperti biru, kuning emas, dan hijau tua serta mahkota yang berkilauan dengan pernak-pernik keemasan, menggambarkan keindahan dalam kontrasnya perbedaan. Seperti keindahan alam, kondisi sosial, ragam karya seni, budaya serta keyakinan masyarakat Bali yang bersatu dalam keharmonisan gerak. Iringan musiknya pun, meski dengan alat yang sama yakni gamelan Bali, ada harmoni nada dengan birama yang lembut. Tidak menghentak-hentak seperti tari kecak.
Pemaknaan terhadap tarian kupu-kupu di atas, adalah cerminan dari cara berpikir Beratha yang mempunyai pandangan sangat terbuka, ia berusaha membuang fanatisme kedaerahan meski tidak sepenuhnya meninggalkan kekhasan budaya Bali. Dari segi seni karawitan, pada tahun 1957 - 1959, ia mulai menyadap pembauran warna gambelan yang meretas jauh pola-pola kedaerahan. Pola-pola ini menurutnya disebabkan oleh adanya kompetisi di zaman raja-raja yang berlangsung hingga zaman penjajahan. Maka ia memberanikan diri mempelajari karawitan Bali Utara dan mengajarkan karawitan Bali Selatan di seluruh Bali. Kemudian bersama I Cede Manik, I Wayan Beratha menjadi jembatan antara  gaya seni karawitan \"Bali Selatan dan Utara yang tentunya tercermin dan setiap tarian yang diciptakannya.
Apa yang dilakukan oleh Wayan Beratha terhadap kebudayaan Bali, bukan sebuah upaya perusakan tradisi atau melunturkan keadiluhungan seni tradisional, melainkan sebuah kebaruan agar kesenian tradisional di Bali menemukan dunianya yang beriringan dengan perkembangan jaman. Seperti yang telah kita saksikan dalam tarian kupu-kupu ciptaannya.

Soal Tari dan Kunci Jawaban

1. Tari Jaipong berasal dari Provinsi ......
a. Jawa Barat
b. Jawa Timur
c. Bengkulu
d. Bali

2. Tari Piring berasal dari Provinsi ......
a. Kalimantan Timur
b. Kalimantan Selatan
c. Sumatera Barat
d. Sumatera Utara

3. Di bawah ini manakah yang dinamakan dengan tari Remo ?
a.
b.
c.
d.

4. Tarian yang berasal dari Kalimantan Timur ini, dinamakan dengan tari ......
a. Selamat Datang
b. Perang
c. Inabar Illa
d. Saman Gayo

5. Tarian Selamat Datang berikut ini, berasal dari Provinsi ......
a. Maluku Utara
b. Bali
c. DKI Jakarta
d. Papua

6. Lagu Si Patokaan berasal dari Provinsi ......
a. Sulawesi Selatan
b. Sulawesi Tenggara
c. Sulawesi Tengah
d. Sulawesi Utara

7. Yang tidak termasuk lagu daerah yang berasal dari Provinsi DKI Jakarta adalah ......
a. Jali-jali
b. Kicir-kicir
c. Lir-ilir
d. Surilang

8. Lagu Soleram berasal dari Provinsi ......
a. Sumatera Selatan
b. Sumatera Utara
c. Sulawesi Tengah
d. Sulawesi Tenggara

9. Manakah diantara berikut ini, yang merupakan lagu daerah Jawa Timur ?
a. Gambang Suling
b. Keraban Sapi
c. Manuk Dadali
d. Ronggeng

10. Lagu Daerah Injit-injit Semut berasal dari Provinsi ......
a. Riau
b. Bengkulu
c. Jambi
d. Lampung

KUNCI JAWABAN
1. a. Jawa Barat
2. c. Sumatera Barat
3. a.
4. b. Perang
5. d. Papua
6. d. Sulawesi Utara
7. c. Lir-ilir
8. a. Sumatera Selatan
9. a. Keraban Sapi
10. c. Jambi
◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Total Pageviews

Copyright 2013 Macam-Macam Tarian di Indonesia Template by Hand's. Powered by Blogger