Friday, November 22, 2013

Mengenal Sejarah Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah dan jawa timur


Kerajaan Mataram Kuno diperkirakan berdiri sejak awal abad ke-8. Pada awal berdirinya, kerjaan ini berpusat di Jawa Tengah. Akan tetapi, pada abad ke-10 pusat Kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur. Kerajaan Mataram Kuno mempunyai dua latar belakang keagamaan yang berbedaa, yakni agama Hindu dan Buddha.

Peninggalan bangunan suci dari keduanya antara lain ialah Candi Geding Songo, kompleks Candi Dieng, dan kompleks Candi Prambanan yang berlatar belakang Hindu. Adapun yang berlatar belakang agama Buddha antara lain ialah Candi Kalasan, Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Sewu, dan Candi Plaosan.

Kerajaan Mataram di Jawa Tengah
Kerajaan Mataram Kuno yang berpusat di Jawa Tengah terdiri dari dua wangsa (keluarga), yaitu wangsa Sanjaya dan Sailendraa. Pendiri wangsa Sanjaya adalah Raja Sanjaya. Ia menggantikan raja sebelumnya, yakni Raja Sanna. Konon, Raja Sanjaya telah menyelamatkan Kerajaan Mataram Kuno dari kehancuran setelah Raja Sanna wafat.

Setelah Raha Sanjaya wafat, kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno dipegang oleh Dapunta Sailendra, pendiri wangsa Sailendra. Para raja keturunan wangsa Sanjaya seperti Sri Maharaja Rakai Panangkaran, Sri Maharaja Rakai Panunggalan, Sri Maharaja Rakai Warak, dan Sri Maharaja Rakai Garung merupakan raja bawahan dari wangsa Sailendra. Oleh Karena adanya perlawanan yang dilakukan oleh keturunan Raja Sanjaya, Samaratungga (raja wangsa Sailendra) menyerahkan anak perempuannya, Pramodawarddhani, untuk dikawinkan dengan anak Rakai Patapan, yaitu Rakai Pikatan (wangsa Sanjaya).

Rakai Pikatan kemudian menduduki takhta Kerajaan Mataram Kuno. Melihat keadaan ini, adik Pramodawarddhani, yaitu Balaputeradewa, mengadakan perlawanan namun kalah dalam peperangan. Balaputeradewa kemudian melarikan diri ke P. SUmatra dan menjadi raja Sriwijaya.

Pada masa Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Mahasambu berkuasa, terjadi perebutan kekuasaan di antara para pangeran Kerajaan Mataram Kuno. Ketika Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa berkuasa, kerajaan ini berakhir dengan tiba-tiba. Diduga kehancuran kerajaan ini akibat bencana alam karena letusan G. Merapi, Magelang, Jawa Tengah.

Kerajaan Mataram di Jawa Timur
Setelah terjadinya bencana alam yang dianggap sebagai peristiwa pralaya, maka sesuai dengan landasan kosmologis harus dibangun kerajaan baru dengan wangsa yang baru pula. Pada abad ke-10, cucu Sri Maharaja Daksa, Mpu Sindok, membangun kembali kerajaan ini di Watugaluh (wilayah antara G. Semeru dan G. Wilis), Jawa Timur. Mpu Sindok naik takhta kerajaan pada 929 dan berkuasa hingga 948. Kerajaan yang didirikan Mpu SIndok ini tetap bernama Mataram. Dengan demikian Mpu Sindok dianggap sebagai cikal bakal wangsa baru, yaitu wangsa Isana. Perpindahan kerajaan ke Jawa Timur tidak disertai dengan penaklukan karena sejak masa Dyah Balitung, kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno telah meluass hingga ke Jawa Timur. Setelah masa pemerintahan Mpu Sindok terdapat masa gelap sampai masa pemerintahan Dharmawangsa Airlangga (1020). Sampai pada masa ini Kerajaan Mataram Kuno masih menjadi saatu kerajaan yang utuh. Akan tetapi, untuk menghindari perang saudara, Airlangga membagi kerajaan menjadi dua, yaitu Kerajaan Pangjalu dan Janggala.

Peninggalan Kerajaan Matarm Kuno
1. Komplek Candi Dieng di Banjarnegara, Jawa Tengah, merupakan peninggalan candi Hindu pada masa Kerajaan Mataram Kuno.
2. Candi Plaosan di Klaten, Jawa Tengah, salah satu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang berlatar agama Buddha.
3. Candi Gedong Songo di Ungaran, Jawa Tengah, merupakan candi peninggalan Kerjaan Mataram Kuno.
4. Arca Raja Airlangga, raja terakhir Kerajaan Mataram Kuno Jawa Timur, di Candi Belahan. Arca ini kini disimpan di Museum Trowulan.

Penyebab Kehancuran Kerajaan Mataram Kuno
Bencana alam karena letusan G. Merapi yang mengakibatkan berakhirnya Kerajaan Mataram Kuno dianggap sebagai paralaya atau kehancuran dunia.
Demikian informasi yang dapat saya sajikan untuk anda semua mengenai kerajaan mataram kuno yang berada di jawa tengah dan jawa timur, sekian dan terimakasih atas perhatianya.

Cara Bermain Permainan Tradisional Congklak

 
Congklak adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh Indonesia. Biasanya dalam permainan”Permainan Tradisional Congklak “, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan dan batu-batu kecil.

Nama di berbagai daerah Permainan Tradisional Congklak :
Di Jawa, permainan ini lebih dikenal dengan nama congklak, dakon, dhakon atau dhakonan. Di beberapa daerah di Sumatera yang berkebudayaan Melayu, permainan ini dikenal dengan nama congkak. Di Lampung permainan ini lebih dikenal dengan nama dentuman lamban, sedangkan di Sulawesi permainan ini lebih dikenal dengan beberapa nama: Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang dan Nogarata.
Permainan ini di Malaysia juga dikenal dengan nama congkak, sedangkan dalam bahasa Inggris permainan ini disebut Mancala.

Permainan congklak:
Permainan congklak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan mereka menggunakan papan yang dinamakan papan congklak dan 98 (14 x 7) buah biji yang dinamakan biji congklak atau buah congklak. Umumnya papan congklak terbuat dari kayu dan plastik, sedangkan bijinya terbuat dari cangkang kerang, biji-bijian, batu-batuan, kelereng atau plastik. Pada papan congklak terdapat 16 buah lobang yang terdiri atas 14 lobang kecil yang saling berhadapan dan 2 lobang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lobang kecil di sisi pemain dan lobang besar di sisi kananya dianggap sebagai milik sang pemain.

Pada awal permainan setiap lobang kecil diisi dengan tujuh buah biji. Dua orang pemain yang berhadapan, salah seorang yang memulai dapat memilih lobang yang akan diambil dan meletakkan satu ke lobang di sebelah kanannya dan seterusnya. Bila biji habis di lobang kecil yang berisi biji lainnya, ia dapat mengambil biji-biji tersebut dan melanjutkan mengisi, bila habis di lobang besar miliknya maka ia dapat melanjutkan dengan memilih lobang kecil di sisinya. Bila habis di lubang kecil di sisinya maka ia berhenti dan mengambil seluruh biji di sisi yang berhadapan. Tetapi bila berhenti di lobang kosong di sisi lawan maka ia berhenti dan tidak mendapatkan apa-apa.

Asal Mula Permainan Tradisional Gangsing


Gasing / Gangsing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkesetimbangan pada suatu titik. Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali. Selain merupakan mainan anak-anak dan orang dewasa, gasing juga digunakan untuk berjudi dan ramalan nasib.
Sebagian besar gasing dibuat dari kayu, walaupun sering dibuat dari plastik, atau bahan-bahan lain. Kayu diukir dan dibentuk hingga menjadi bagian badan gasing. Tali gasing umumnya dibuat dari nilon, sedangkan tali gasing tradisional dibuat dari kulit pohon. Panjang tali gasing berbeda-beda bergantung pada panjang lengan orang yang memainkan.

Jenis – jenis gasing

1. Gasing dari Jepang
Gerakan gasing berdasarkan efek giroskopik. Gasing biasanya berputar terhuyung-huyung untuk beberapa saat hingga interaksi bagian kaki (paksi) dengan permukaan tanah membuatnya tegak. Setelah gasing berputar tegak untuk sementara waktu, momentum sudut dan efek giroskopik berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya bagian badan terjatuh secara kasar ke permukaan tanah.

2. Gasing dari Indonesia

Gasing merupakan salah satu permainan tradisional Nusantara, walaupun sejarah penyebarannya belum diketahui secara pasti.

Di wilayah Pulau Tujuh (Natuna), Kepulauan Riau, permainan gasing telah ada jauh sebelum penjajahan Belanda. Sedangkan di Sulawesi Utara, gasing mulai dikenal sejak 1930-an. Permainan ini dilakukan oleh anak-anak dan orang dewasa. Biasanya, dilakukan di pekarangan rumah yang kondisi tanahnya keras dan datar. Permainan gasing dapat dilakukan secara perorangan ataupun beregu dengan jumlah pemain yang bervariasi, menurut kebiasaan di daerah masing-masing.

Hingga kini, gasing masih sangat populer dilakukan di sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan warga di kepulauan Rian rutin menyelenggarakan kompetisi. Sementara di Demak, biasanya gasing dimainkan saat pergantian musim hujan ke musim kemarau. Masyarakat Bengkulu ramai-ramai memainkan gasing saat perayaan Tahun Baru Islam, 1 Muharram.

Beragam nama gasing
Sejumlah daerah memiliki istilah berbeda untuk menyebut gasing. Masyarakat Jawa Barat dan DKI Jakarta menyebutnya gangsing atau panggal. Masyarakat Lampung menamaninya pukang, warga Kalimantan Timur menyebutnya begasing, sedangkan di Maluku disebut Apiong dan di Nusatenggara Barat dinamai Maggasing. Hanya masyarakat Jambi, Bengkulu, Sumatera Barat, Tanjungpinang dan Kepulauan Riau yang menyebut gasing. Nama maggasing atau aggasing juga dikenal masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Sedangkan masyarakat Bolaang Mongondow di daerah Sulawesi Utara mengenal gasing dengan nama Paki. Orang Jawa Timur menyebut gasing sebagai kekehan. Sedangkan di Yogyakarta, gasing disebut dengan dua nama berbeda. Jika terbuat dari bambu disebut gangsingan, dan jika terbuat dari kayu dinamai pathon.

Bentuk gasing
Gasing memiliki beragam bentuk, tergantung daerahnya. Ada yang bulat lonjong, ada yang berbentuk seperti jantung, kerucut, silinder, juga ada yang berbentuk seperti piring terbang. Gasing terdiri dari bagian kepala, bagian badan dan bagian kaki (paksi). Namun, bentuk, ukuran dan bagian gasing berbeda-beda menurut daerah masing-masing. Gasing di Ambon (apiong) memiliki kepala dan leher. Namun umumnya, gasing di Jakarta dan Jawa Barat hanya memiliki bagian kepala dan paksi yang tampak jelas, terbuat dari paku atau logam. Sementara paksi gasing natuna, tidak nampak.

Jenis gasing
Gasing dapat dibedakan menjadi gasing adu bunyi, adu putar dan adu pukul
Permainan gasing
Cara memainkan gasing, tidaklah sulit. Yang penting, pemain gasing tidak boleh ragu-ragu saat melempar gasing ke tanah.
Cara memainkan gasing:
-Gasing di pegang di tangan kiri, sedangkan tangan kanan memegang tali.
-Lilitkan tali pada gasing, mulai dari bagian paksi sampai bagian badan gasing. lilit kuat sambil berputar.

Thursday, November 21, 2013

Jenis Tari Berpasangan Asal Jawa Tengah


Seni tari tidak sekedar sebagai ungkapan ekspresi saja, akan tetapi telah berkembang sesuai dengan kebutuhan sosial masyarakat Indonesia. Tari menjadi sarana upacara keagamaan, acara adat, hiburan kerakyatan, pagelaran dan pendidikan. Dalam hal ini tari mempunyai fungsi yang lebih penting dalam tata kehidupan masyarakat.

Di Jawa Tengah khususnya pada seni tari tradisi gaya Surakarta tari berpasangan dibedakan menjadi dua, yaitu : Wireng dan Pethilan

1) Jenis Tari Wireng
Tari berpasangan jenis wireng adalah bentuk tari berpasangan yang menampilkan tema keprajuritan.
Ciri-ciri tari wireng:
a. Ragam gerak (sekaran) bisa sama atau berbeda.
b. Busana kedua penari bisa sama atau berbeda.
c. Ada ragam gerak perangan.
d. Tidak ada yang kalah dan menang.

Contoh bentuk tari wireng:
a. Karakter putri:
1. Tari Retno Tinanding
2. Tari Retno Ngayudo
b. Karakter putra alus:
1. Tari karno tanding
2. Tari Panji kembar
c. Karakter putra gagah
1. Tari lawung
2. Tari bogis kembar
3. Tari bondoyudo

2) Jenis Tari Pethilan
Tari berpasangan jenis pethilan adalah bentuk tari berpasangan yang mengambil (mengangkat) cuplikan suatu peristiwa dari sebuah cerita.

Ciri-ciri tari pethilan:
a. Ragam gerak (sekaran) bisa sama atau berbeda.
b. Busana kedua penari bisa sama atau berbeda
c. Ada ragam gerak perangan.
d. Dua tokoh sejenis atau lawan jenis.
e. Ada tokoh yang kalah (mati)

Contoh tari jenis pethilan:
a. Karakter putri dengan putri:
1. Tari Srikandi Mustokoweni
2. Tari Srikandi Larasati
3. Tari Adanenggar Kelaswara
b. Karakter putri dengan gagah:
1. Tari Srikandi Cakil
2. Tari Srikandi Buriswara
3. Tari Srikandi Bisma

Selain tari berpasangan jenis wireng dan pethilan ada juga jenis tari berpasangan yang tidak menceritakan tentang peperangan tetapi bercerita tentang pencintaan (kasmaran).

Contoh tari berpasangan yang bertema percintaan adalah:
1. Tari Endah
2. Tari Karonsih
3. Tari Lambang Sari
4. Tari Dri Asamara
5. Tari Enggar-enggar

Di Jawa Tengah juga ada jenis tari berpasangan yang tidak termasuk jenis wireng maupun pethilan diantaranya adalah:
1. Tari Regol Gunungsari
2. Tari Klana Sembung Langu
3. Tari Dayun Minak Jinggo

Jawaban Soal Kesenian Materi Tari

 
1. Tari adalah ungkapan jiwa atau ekspresi manusia yang dituangkan melalui gerak terangkai dan berirama yang mengandung unsur keindahan.
2. Fungsi seni tari, ada 7:
   a. Untuk kegamaan: perayaan hari raya, contoh kong huchu
   b. Untuk pendidikan : menambah wawasan tentang tari
   c. Untuk komunikasi
   d. Untuk rekreasi : untuk melepaskan kejenuhan ataupun menghilangkan kesedihan (yang sifatnya     menghibur).
   e. Untuk artistik.
   f. Untuk guna/terapan : Dalam menciptakan sebuah karya tari selalu memperhitungkan nilai guna tari.
   g. Untuk kesehatan : menyehatkan badan
3. Jenis tari ada 3, yaitu Tari tunggal, tari berpasangan, dan tari kelompok.
4. Gerak tari adalah gerak dari seluruh anggota badan yang selaras dengan irama (bunyi musik) yang sesuai dengan maksud dan tujuan dalam menari. Yang meliputi:
   a. Gerak kepala
   b. Gerak badan
   c. Gerak tangan
   d. Gerak kaki
5. Musik tari adalah iringan dalam melakukan gerak tari yang meliputi:
   a. Musik internal : kaset, CD, radio
   b. Musik eksternal : gong, gamelan, gendhang, dll.
6. Tari tunggal adalah bentuk penyajian tari yang dibawakan/ditarikan oleh satu penari (individu) baik oleh penari laki-laki atau penari perempuan.
7. a. Tari berpasangan adalah bentuk penyajian tari yang dibawakan oleh dua orang penari yang satu dengan yang lain ada unsur saling melengkapi.
   b. Tari kelompok adalah tari yang dilakukan oleh lebih dari dua orang penaru tanpa ada unsur saling melengkapi.
8. Tata rias adalah suatu keindahan yang meliputi penampilan wajah.
Contoh : a.Lipstik, b. Bedak, c. Aesedo, d. Blush on, e. celak, f. maskara, g. milk rose, h. pensil alis, i. eye shadow.
9. Tata busana adalah suatu keindahan yang meliputi penampilan busana.
Contoh : a. selendang, b. mahkota, c. sanggul, d. jilbab, e. kebaya, f. rok, g. jarit, h. kalung, i. gelang.
10. Tari yang ada di daerahmu. (Kebumen)
   a. Tari lawet
   b. Tari kuda lumping
   c. Tari wayang
11. Tari yang ada di Jateng
   a. Tari klono topeng
   b. Tari golek
   c. Tari Gambir anom
12. Pola lantai adalah garis-garis di lantai yang dimulai oleh penari pada saat melakukan gerak tari.
13. a. Wiraga : gerak badan
      b. Wirama : iringan/musik
      c. Wirasa : ekspresi jiwa
      d. Wirupa : tata rias dan tata busana
14. Unsur pendukung tari:
      a. iringan musik      f. pola lantai
      b. tata rias             g. properti
      c. tata busana        h. tata panggung
      d. gerak tari          i. jumlah penari
      e. ekspresi           j. keindahan tari
15. Contoh tari berpasangan:
      a. Tari Bambangan Cakil (Jawa Tengah)   
      b.Srikandi Mustokaweni (Jawa Tengah)
      c. Tari Oleg Tambulilingan (Bali)
      d. Tari payung (Sumatera)
      e. Tari pisau surit (Batak)
      Contoh tari kelompok:
      a. Tari Kecak (Bali)
      b.Tari Bedaya (Yogyakarta)
      c. Tari Lawung (Jawa Tengah)
      d. Tari Saman (Aceh)
      e. Tari Matia (Irian Jaya)


Soal Kesenian Materi Tari

Tuesday, November 19, 2013

Soal Kesenian Materi TARI

1. Definis tari
2. Fungsi tari
3. Jenis tari
4. Gerak tari
5. Musik tari
6. Tari tunggal
7. a. Tari berpasangan
    b. Tari kelompok
8. Tata rias dan 5 contohnya
9. Tata busana dan 5 contohnya
10. Tari yang ada di daerah mu (Kebumen)
11. Contoh nama tari dari Jateng 3 saja
12. Pola lantai
13. Unsur keindahan tari
14. Unsur pendukung tari
15. 5 nama tari berpasangan/kelompok


Jawaban

Rangkuman BAB I Materi TARI


1. Jenis tari dibagi menjadi 2 yaitu, tari tradisional dan kreasi baru.
2. jenis tari tradisional yaitu semua tarian yang telah mengalami perjalanan sejarah cukup lama.
3. tari primitif merupakan ungkapan kehendak/keyakinan.
4. tari klasik adalah tarian yang telah mencapai keindahan yang tinggi.
5. tari rakyat yaitu tarian yang hidup dan berkembang dikalangan rakyat jelata.
6. tari kreasi baru merupakan karya tari garapan baru.
7. tari tunggal merupakan bentuk karya tari yang ditarikan oleh seorang penari.
8. dalam menarikan bentuk tari tunggal secara perseorangan perlu memperhatikan beberapa hal berikut:
   - penari harus mempunyai keterampilan menari yang bagus.
   - penari harus menguasai gerak tari.
   - penari dapat mengolah rasa sesuai dengan karya tarinya.
   - penari dapat menyesuaikan dengan iringan tarinya.
   - penari harus menguasai ruang pentas.
   - penari mempunyai tanggung jawab yang besar.
9. Bentuk tari berpasangan yaitu bentuk karya tari yang ditarikan oleh dua orang penari atau secara berpasangan.
10. Bentuk tari kelompok yaitu bentuk karya tari yang ditarikan oleh banyak penari.
11. Keindahan dalam karya tari terlihat dari beberapa hal berikut:
   - adanya keselarasan antara gerak tari anggota badan yang satu dengan anggota badan yang lainnya.
   - adanya keselarasan gerak dengan irama.
   - adanya penghayatan , pengungkapan, dan ekspresi ragam gerak.
Penataan tata rias dan busana.
Penggunaan alat untuk melakukan gerak tari.
Penguasaan ruang pentas.
Penggunaan bentuk pola lantai.
◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Total Pageviews

Copyright 2013 Macam-Macam Tarian di Indonesia Template by Hand's. Powered by Blogger