Thursday, November 13, 2014

Topeng Gegesik Asal Cirebon

Tari Topeng Asal Cirebon

Gegesik merupakan salah satu daerah di Cirebon yang memiliki tradisi topeng. Menurut sumber, Gegesik diambil dari nama leluhur yaitu Pangeran Gesang. Topeng Gegesik memiliki mempunyai gaya tersendiri yang berbeda dengan Topeng Cirebon lainnya.

Karakteristik Topeng Gegesik:

1. Topeng Panji
Berwarna putih dengan raut muka yang memancarkan keagungan dan ketenangan. Bentuk mulutnya renyah dengan senyum yang terkulum, matanya sipit dan hidungnya mancung. Sorot matanya terkesan selalu merunduk tajam, serta memiliki bentuk muka yang memancarkan kewibawaan. Topeng ini jika dipakai untuk menari, tatapannya akan menyudut 45 derajat. Topeng Panji berkarakter halus, kerap disamakan dengan tokoh Arjuna dalam cerita Mahabharata atau tokoh Rama dalam Ramayana.

Macam-macam Wanda pada Topeng Panji:
* Sabuk Inten
* Si Mangfu
* Si Rentang
* Si Madu
* Si Pekik
* Si Geger
* Geger Gandul

Gerakan dalam Topeng Panji seringkali dihubungkan dengan cerita Panji dan dianggap sebagai perwujudan dari tokoh Panji Inukertapati, terkadang disebut pula Panji Asmarabangun atau Panji Gagak Pernala.

Gerakan-gerakan dalam Topeng Panji memiliki beberapa interpretasi, antara lain:
* Gerakan tangan temple bahu diartikan sebagai tiruan pada jalannya Dewi Anggraeni.
* Cantel diartikan bahwa Raden Panji akan berhasil menikah dengan Dewi Anggraeni.
* Gerakan tangan di samping telinga diartikan sebagai saat-saat Raden Panji sedang memanggil-manggil Dewi Anggraeni.

Terdapat pula versi yang menyatakan bahwa Topeng Panji tidak berkaitan dengan cerita Panji. Disebutkan bahwa Panji diartikan sebagai yang pertama, berasal dari kata ‘siji’ yang artinya satu. Siji memiliki arti bahwa dalam tradiri Topeng Cirebon ini, Topeng Panji menjadi pengawal tarian atau urutan pertama dari tari topeng. Simbolisasi gerakan Topeng Panji dimaknai sebagai gerakan bayi karena cenderung kecil dan lebih banyak diam. Kepercayaan masyarakat pada latar belakang cerita merupakan bagian dari variasi kearifan lokal masing-masing daerah yang berbeda satu dengan lainnya.

2. Topeng Pamindo atau Samba
Topeng Pamindo umumnya berwarna putih dan memiliki raut wajah ceria, tatapan mata yang lurus ke depan dan sorot mata yang lincah. Terdapat hiasan rambut dan hiasan yang melengkung pada sisi pipi kiri dan kanan, disebut pilis. Di atas hidung terdapat hiasan Kembang Tiba yang menjadi pusat lengkungan hiasan pilis. Karakter Topeng Pamindo adalah banyak gaya, diartikan sebagai tokoh yang lincah atau ganjen. Topeng Pamindo yang berwarna merah muda dikaitkan dengan watak manusia yang rendah hati dan setia kawan.

Wanda pada Topeng Pamindo atau Samba, yaitu:
* Cibrak
* Wisunah
* Si Jimat
* Gondrong

Pamindo sendiri berasal dari kata “mindo” yang berarti kedua. Topeng Pamindo umumnya ditarikan pada kesempatan kedua dalam pertunjukan Topeng Cirebon. Gerakan-gerakan Topeng Pamindo digambarkan sebagai seorang remaja yang ingin tahu. Bentuk gerakannya cenderung lincah, berirama cepat dan patah-patah.

3. Topeng Rumyang
Topeng Rumyang berwarna merah muda tanpa hiasan rambut, karakter yang dimiliki pun menyerupai Topeng Pamindo yang lincah.

Wanda dalam Topeng Rumyang, yaitu:
* Semang
* Golek
* Cibrak

Rumyang berasal dari kata ramyang-ramyang, artinya mulai terang. Bahasa Sunda menyebut ramyang-ramyang sebagai carancang tihang, suatu keadaan menjelang pagi yang masih samar atau remang-remang. Topeng Rumyang merepresentasikan kondisi ketika seseorang sudah mulai terang dalam melihat kehidupan di sekelilingnya. Topeng Rumyang umumnya ditarikan pada tarian ketiga, namun di beberapa daerah ditarikan sebagai tarian terakhir.

4. Topeng Tumenggung-Patih
Berwarna kembang terong muda atau dadu kelang, ada pula yang berwarna merah muda. Paranya gagah berani dengan kumis dan mata terbelalak. Topeng Tumenggung memiliki kumis yang terbuat dari kulit, sementara Topeng Patih kumisnya terbuat dari rambut. Terdapat pula hiasan tlenggong, tlingus dan pepasu.

Tari Tumenggung merupakan satu-satunya tarian yang mengandung unsur-unsur literer. Hal ini terlihat dari dialog antara Tumenggung Magangdiraja dengan Jingga Anom.

Tarian ini mengisahkan Tumenggung Magangdiraja yang hendak menaklukkan Jingga Anom yang tidak mau tunduk terhadap kekuasaan Raja Bawarna. Jingga Anom menolak untuk tunduk sehingga timbul peperangan. Membedakan Topeng Tumenggung dan Patih dapat diamati dari perbedaan bentuk kumisnya, juga terdapat perbedaan pada wanda:

Patih
* Tatag
* Perkicil
* Pelor
* Mimis

Tumenggung
* Slasi
* Drodos
* Sanggan


5. Topeng Jingga Anom
Berwarna jingga atau kuning kemerahan dengan karakter tari Buta (Danawa) yang berwatak kasar serta nakal.

Wanda pada Topeng Jingga Anom:
* Garjita
* Si Kekes
* Si Moreg
* Barong


6. Topeng Klana atau Rowana
Topeng Klana memiliki warna merah tua dengan raut muka yang galak, mata membelalak, mulut menyeringai, kumis melingkar, berjambang dan berjenggot. Karakter Topeng Klana disebut gagah perkasa atau gagah kasar. Topeng Klana kerapkali disamakan pula dengan tokoh pewayangan Burisrawa atau Rahwana.

Wanda pada Topeng Klana antara lain:
* Barong
* Wringut
* Drodos
* Golek

Topeng Klana menggambarkan seseorang yang sedang dilanda angkara murka, serakah dan zalim. Tarian Topeng Klana sering dikaitkan dengan cerita Panji. Unsur cerita dalam Topeng Klana mengisahkan seorang raja yang gagah perkasa bernama Klana Budanegara yang tergila-gila pada putri dari Bawarna yang bernama Dewi Tunjung Ayu, anak dari Prabu Lembu Amiluhur. Ragam gerak yang muncul dalam tarian ini terlihat dari gerakan depole atau pasir muih (pasir memutar).

Tuesday, November 11, 2014

Tarian Balean Dadas adalah Tarian Kebudayaan Masyarakat Kalimantan Tengah

Tari Balean Dadas

Dalam masyarakat tradisional banyak cara yang dilakukan untuk memperoleh kebahagiaan, kesehatan, dan kekayaan melalui tradisi-tradisi kebudayaan yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Salah satu cara yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Kalimantan Tengah dalam mengupayakan keberkahan kepada Tuhan, salah satunya adalah memohon kesembuhan kepada Tuhan dengan cara melakukan tarian Balean Dadas.
Tarian Balean Dadas adalah tarian kebudayaan masyarakat Kalimantan Tengah untuk meminta kesembuhan kepada tuhan bagi masyarakat yang sakit. Para penari Balean Dadas dengan memakai pakaian adat dayak yang khas penuh warna seperti hitam, putih, merah, hijau, dan kuning melakukan tarian Balean Dadas untuk memohon kesembuhan kepada Ranying Hatala langit (Tuhan) bagi mereka yang sakit. Selain itu, biasanya seorang dukun perempuan atau Balean Dadas ikut dalam tarian ini.
Saat ini, tarian Balean Dadas lebih banyak dilakukan pada saat acara-acara penyambutan atau peresmian. Hal ini mengingat bahwa dengan kemodernan proses menyembuhkan bisa dilakukan dengan cara yang lebih ilmiah. Akan tetapi kegiatan tarian Balean Dadas ini masih dilakukan oleh suku Dayak pedalaman. 



Sumber referensi :
http://kebudayaanindonesia.net/id/culture/881/tarian-balean-dadas

Tarian Dero atau Madero Asal Sulawesi Tengah

Tari Dero atau Madero

Tarian Dero atau Madero adalah tarian yang berasal dari Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Tarian ini merupakan salah satu tradisi masyarakat Suku Pamona yang masih dipertahankan sampai saat ini. Suku Pamona adalah masyarakat asli Kabupaten Poso yang mendiami hampir seluruh wilayah kabupaten bahkan sampai ke sebagian wilayah kabupaten Morowali. Nenek moyang suku pamona sendiri berasal dari Luwu Timur daerah yang masuk ke wilayah provinsi Sulawesi Selatan. Suku Pamona adalah kesatuan dari beberapa etnis di wilayah Sulawesi tengah. Meskipun demikian masyarakat Suku Pamona hidup rukun dan berdampinagn. Hal ini tergambar dari salah satu kesenian yang berasal dari suku tersebut yaitu tari dero poso.
Bagi masyarakat Suku pamona, Tari Dero adalah tari yang melambangkan sukacita atau kebahagiaan. Tarian ini telah lama dipertahankan oleh masyarakat Poso khususnya masyarakat di yang tinggal di sepanjang lembah danau Poso. Bagi masyarakat setempat tarian ini adalah  bentuk rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh. Tarian ini sudah dikenal sejaka masyarakat mengenal bertani atau bercocok tanam sebagai mata pencaharian. Dahulu tarian ini lazim dilakukan oleh masyarakat di masa panen terutama panen padi.
Tarian ini cukup sederhana, biasanya dilakukan di daerah atau lapangan yang luas. ini dikarenakan jumlah peserta tarian ini tidak dibatasi. Tarian ini disebut juga dengan Tari pontanu atau sejenis tarian yang mengajak para penonton ikut menari. Siapapun yang mau mengikuti tari ini bisa bergabung tanpa harus memikirkan skill atau bakat. Untuk melakukan tarian ini tidak sulit, para penari membuat sebauah lingkaran sambil berpegangan tangan kemudian melakukan hentakan kaki dua kali ke kiri dan dua kali ke kanan. Gerakan-gerakan ini dilakukan sesuai dengan irama pantun yang saling bersahutan. Tarian ini juga diiiringi oleh hentakan alat music ganda yaitu alat music tradisional sejenis gendang dan ngongi yaitu alat music tradisional sejenis gong yang dimainkan oleh para pemuda dan orang tua.
Selain sebagai ungkapan rasa syukur terhadap hasil panen, masyarakat Poso juga menganggap tarian Dero sebagai wujud kerukunan dan persahabatan serta sebagai kesempatan untuk mendapatkan jodoh. Tarian ini juga bisa dianggap sebagai tarian pemersatu karena dalam tarian unsur-unsur diskriminasi, sentiment agama dan ras serta kelas social tidak dihiraukan. Dalam tarian ini semua orang dari berbagai latar belakang adalah sama, yang ada hanyalah perasaan sukacita dan rasa syukur yang sama-sama dirasakan oleh para penari Dero Poso.
Tari Dero sampai saat ini masih menjadi tradisi yang masih dipertahankan oleh masyarakat setempat. Seiring dengan perkembangan zaman, eksistensi Tari Dero juga masih bertahan sebagai aset kebudayaan dari kabupaten Poso. Kekinian, tari dero tidak hanya dapat disaksikan atau diikuti pada saat panen saja, tari Dero juga biasa dilakukan saat malam setelah pesta pernikahan atau pada acara-acara besar adat.

Alat musik yang dipergunakannya pun tidak harus ganda dan ngongi, alat music modern seperti organ tunggal atau electune juga bisa menjadi pengiring tari pemersatu ini. Walaupun masih ada, tari dero kini hanya bisa ditemukan di beberapa desa atau daerah saja di Kabupaten Poso itu pun tidak sering dilakukan, dalam  setahun mungkin hanya 3 atau 4 kali kali kita bisa mengikuti tari Dero. Konflik  dan perselisihan antar agama dan suku yang terjadi di kabupaten Poso menjadi salah satu alasan tari dero sulit dijumpai. Hal ini seolah menjadi ironi bagi kehidupan masyarakat Poso yang dahulu cinta damai dan terkenal dengan tari Dero nya. 

Pementasan Tari Telek di Banjar Adat Pancoran

Tari Telek

Tari Telek sampai saat ini masih dipentaskan secara teratur oleh sejumlah banjar/desa adat di Bumi Serombotan, Klungkung, seperti Banjar Adat Pancoran Gelgel dan Desa Adat Jumpai. Jenis tari wali ini merupakan tetamian (warisan) leluhur yang pantang untuk tidak dipentaskan. Warga setempat meyakini pementasan Telek sebagai sarana untukmeminang keselamatan dunia, khususnya di wawengkon (wilayah) banjar/desa adat mereka. Jika nekat tidak mementaskan Telek, itu sama artinya dengan mengundang kehadiran merana (hama-penyakit pada tanaman dan ternak), sasab (penyakit pada manusia) serta marabahaya lainnya yang mengacaukan harmonisasi dunia.
Keyakinan itu begitu mengkristal di hati krama Banjar Adat Pancoran, Gelgel dan Desa Adat Jumpai. Mereka melestarikan jenis kesenian ini dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi sehingga tak sampai tergerus arus zaman. Begitu kuatnya mereka menjaga tetamian leluhur ini, sampai-sampai seluruh pakem pada pementasan Telek dipertahankan secara saklek. Niki nak sampun ilu lan tetamian leluhur deriki. Sampun napetang. Tiang tan uning, ngawit pidan Telek deriki masolah (Kesenian Telek ini sudah ada sejak lama dan merupakan warisan leluhur.

Pantang tak Dipentaskan
Di Banjar Adat Gelgel, kata Pageh, Telek dipentaskan dua kali setahun yakni pada Buda Umanis Perangbakat (wali Ida Batara di Pura Dalem Guru, Pancoran) dan pada Buda Kliwon Paang (wali Ida Batara Gede). Kedua pementasan itu mengambil lokasi di jaba sisi Pura Dalem Guru. Setiap kali Telek dipentaskan, seluruh krama dipastikan menyaksikannya sekaligus memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pementasan Telek di Banjar Adat Pancoran, Gelgel sempat terputus beberapa tahun sebelum Gunung Agung meletus hingga tragedi berdarah G-30-S pecah. Dua tragedi besar itu sempat meluluhlantakkan kedamaian masyarakat di seluruh Bali. Guna mengembalikan kedamaian yang tercabik-cabik itu, para tetua di Banjar Adat Pancoran sepakat menggelar serangkaian upacara tolak bala. Salah satunya, menghidupkan kembali kesenian Telek yang mereka yakini sebagai sarana memohon keselamatan dunia-akhirat. Sejak saat itu, Telek kembali masolah (dipentaskan) hingga kini. Bahkan, pengempon Pura Dalem Guru sudah punya bhisama (kesepakatan) bahwa tari wali itu tetap harus masolah sampai kapan pun untuk menghindari kabrebehan (marabahaya).
Sementara di Desa Adat Jumpai, Telek dipentaskan setiap rahinan Kajeng Kliwon (lima belas hari sekali-red) serta piodalan di Pura Penataran Dalem Cangkring, Pura Taman Sari dan Pura Dalem Katulampa. Ini berarti, paling tidak tari wali ini dipentaskan sekitar 27 kali setiap tahunnya.

Sama dengan di Banjar Adat Pancoran Gelgel, krama Desa Adat Jumpai juga meyakini pementasan Telek ini sebagai sarana untuk memohon keselamatan segala makhluk bernyawa di dunia ini dari marabahaya. Ditegaskannya, pihaknya pantang tidak mementaskan tarian ini pada hari-hari yang telah ditentukan. Kecuali, jika di desa itu dalam waktu bersamaan sedang mengalami kecuntakan karena ada krama yang meninggal dunia. Krama tidak berani tidak mementaskan tarian ini. Jika itu dilanggar, kami yakin akan terjadi suatu bencana yang membuat ketenteraman kami terusik. Misalnya, berjangkit wabah penyakit dan sebagainya, katanya seraya menambahkan, pementasan Telek di Jumpai tidak pernah terputus, terus berlangsung dari generasi ke generasi.

Bertopeng Putih
Menurut Pageh dan Tabig, tarian Telek ini dibawakan oleh empat penari pria yang masih berusia anak-anak sampai memasuki masa truna bunga (akil balik-red). Keempat penari itu memakai topeng berwarna putih dengan karakter wajah yang lembut dan tampan serta diiringi gong kebyar tabuh bebarongan. Baik di Banjar Adat Pancoran maupun Desa Adat Jumpai, tarian ini tidak berdiri sendiri. Tetapi senantiasa dirangkaikan dengan tari Jauk, topeng Penamprat, Batara Gede (barong), Rarung dan Batara Lingsir (rangda). Seluruh unsur tarian itu berpadu membangun satu-kesatuan cerita yang utuh dengan durasi sekitar dua jam. Akhir pertunjukan diwarnai dengan atraksi narat/ngunying yaitu menusukkan keris ke dada penarat bersangkutan maupun ke dada Batara Lingsir.
Pageh maupun Tabig menuturkan, saat atraksi narat itu berlangsung, baik penarat dan pemunut rangda dalam kondisi kerawuhan (trance). Telek bukan merupakan tarian lepas. Seluruh pertunjukan itulah yang difungsikan untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan,\\\\\\\" ujar kedua tokoh sepuh itu.

Menurut Pageh, tidak ada ketentuan yang mengatur secara tegas batasan usia penari itu. Namun, Telek di Banjar Pancoran senantiasa dibawakan penari anak-anak sejak turun-menurun. Pasalnya, topeng dan gelungan (hiasan kepala-red) Telek itu memang dirancang seukuran wajah dan kepala anak-anak, sehingga orang dewasa tidak pas memakainya. Bahan baku topeng Telek menggunakan kayu pule yang juga lazim digunakan sebagai bahan baku tapakan (topeng) barong dan rangda. Topeng Telek ini merupakan tetamian leluhur dan tidak ada krama yang tahu pasti kapan topeng itu dibuat. Topeng Telek tidak berubah ataupun diganti, misalnya dengan membuat topeng yang berukuran lebih besar sehingga bisa digunakan orang dewasa. Jika warna topeng itu sudah buram, masyarakat hanya sebatas ngodakin (pengecatan ulang). Bukan topengnya yang diganti. Hal yang sama juga berlaku untuk tapakan barong dan rangda. Sebelum tari Telek dipentaskan, seluruh penari wajib mengikuti persembahyangan di pura agar pementasan yang dilakoninya direstui Tuhan.

Tanpa Pelatih Khusus
Klian Pura Dalem Guru Banjar Adat Pancoran I Nyoman Suana mengatakan pihaknya sadar betul bahwa kesenian telek beserta tarian lain yang menyertainya tidak boleh punah dari wilayahnya. Pasalnya, tarian ini sudah diyakini oleh seluruh krama sebagai sarana memohon keselamatan. Kesadaran itu akhirnya mewajibkan mereka secara terus-menerus mencetak penari-penari Telek. Uniknya, proses alih generasi ini tanpa melibatkan pelatih khusus. Artinya, penari Telek sebelumnya punya kewajiban moral untuk mewariskan keterampilannya kepada generasi berikutnya. Sambung-menyambung.

Dalam satu generasi, ada delapan anak yang dipilih untuk mendalami tari Telek. Kendati penari yang terpakai hanya empat orang. Empat penari bertindak sebagai penari inti, sementara empat penari lainnya sebagai penari pengganti jika salah satu di antara penari inti berhalangan tampil karena sakit dan sebagainya. Proses regenerasinya sangat sederhana. Pailetan, gerak tari maupun teknik pementasan yang tersaji dalam Telek yang ada saat ini semuanya tidak mengalami perubahan. Telek tetap lestari di Banjar Adat Pancoran karena keyakinan bahwa tarian ini akan menghadirkan keselamatan dan kedamaian bagi warga tetap tertanam kuat.

Monday, November 3, 2014

Tari Tauh Jambi Dari Lekuk

Image : Tari Tauh Jambi


Tari Tauh Jambi merupakan tarian khas Daerah Lekuk 50 Tumbi Lempur, Kecamatan Gunung Raya. Pergaulan atau hubungan muda-mudi (bujang gadis) digambarkan dalam tarian ini. Tarian ini telah ada sejak zaman dahulu sampai sekarang dan diwariskan secara turun temurun. Hingga akhirnya masyarakat tidak mengetahui siapa sebenarnya pencipta tarian yang telah mengakar ditengah-tengah masyarakat. Hari ini, tari Tauh Jambi sangat populer di Kabupaten Bungo sebagai tari tradisional yang sangat digemari masyarakat.  

Perayaan-perayaan, kenduri Sko, dan penyambutan tamu menjadi helatan saat tarian ini ditampilkan didepan publik. Tarian Tauh Jambi biasanya ditarikan ketika menyambut Rajo dan  Berelek Gedang. Helatan yang paling sering dihiasi oleh tarian ini ialah Beselang Gedang atau gotong royong menuai padi ketika panen berlangsung. Oleh sebab itu, tarian ini juga menggambarkan perasaan suka cita dan syukur dari masyarakat adatnya.  

Seperti tarian Jambi pada umumnya, tarian ini dibawakan laki-laki dan perempuan secara berpasang-pasangan. Posisi tubuh dari tarian ini adalah kombinasi dari gerakan dalam posisi berdiri. Musik rebab, gong, dan nyanyian klasik yang disebut mantun mengiringi tarian ini. Empat laki-laki dan empat perempuan melenggok dalam alunan music melayu bersyair pantun. Uniknya, durasi tarian ini bergantung pada panjang pendeknya pantun yang disenandungkan dan kesanggupan penarinya sendiri. Tak jarang tarian ini berlangsung dari senja hari sampai pagi. 

Selain menggambarkan rasa syukur dan suka cita masyarakat adatnya, tarian dan nyanyian ini juga mengisahkan kehidupan masyarakat desa, percintaan, dan adat istiadat. Busana khas Lumpur berwarna coklat membalut tubuh para penari. Tak lupa tutup hiasan perak digunakan untuk mempercantik penampilan para penari. Seperti juga tarian khas Jambi pada umumnya, tari Tauh Jambi ini acap dilakukan di lapangan terbuka namun ada juga di dalam ruangan hal itu sesuai dengan waktu dan acara. 

Adapun musik pengiring ialah Kelintang Kayu, Gong, dan Gendang. Selain ketiga alat musik tersebut, biola digunakan sebagai alat musik melodik yang berlagam melayu. Pada saat sekarang Tari Tauh sering ditampilkan pada acara resmi yang diadakan Pemerintah kecamatan/kabupaten dan juga pada acara pernikahan. Sedangkan lagu yang mengiringi Tari Tauh adalah Krinok dan pantun-pantun anak Muda.

Tari Tambun dan Bungai Dari Palangkaraya

Image : Tari Tambun Bungai

Tari tambun dan bungai, berasal dari daerah palangkaraya, Kalimantan Tengah. Tarian ini merupakan tari yang mengisahkan kepahlawanan Tambun dan Bungai dalam mengusir musuh yang akan merampas hasil panen rakyat. Tambun dan bungai adalah pejuang di Kalimantan Tengah. Tambun dan Bungai adalah tokoh legenda suku dayak ot Danum yang tinggal di tengah pulau Kalimantan khususnya wilayah Kabupaten gunung Mas. Tambun dan Bungai adalah saudara dari ayah mereka yang merupakan adik-kakak. Kedua orang ini, Tambun dan Bungai memiliki perasaan yang sama yaitu jika salah satu diantara mereka bersedih maka yang satu akan ikut merasakan kesedihan yang sama dialaminya. Keduanya memiliki karakter dan sifat yang sama. Mereka memiliki watak yang cerdas, lemah lembut, peramah, suka menolong sesama, sedikit menerima banyak memberi, cepat kaki ringan tangan, bijaksana, dan pantang menyerah untuk membela kebenaran.
Salah satu peristiwa penting yang memjadikan Tambun dan Bungai sebagai pejuang di Kalimantan Selatan adalah mereka selalu menang dalam pertempuran melawan musuh yang akan merampas tanah dan panen masyarakat setempat. Mereka akhirnya mendapat gelar dari Nyai Undang raja di Pematang Sawang yaitu gelar  “Tumenggung Tambun Terjun Ringkin Duhung dan “Tumenggung Bungai Andin Sindai”. 
Atas semua perjuangan Tambun dan Bungai, banyak orang yang menciptakan kebudayaan untuk mengenang Tambun dan Bungai salah satunya adalah Tarian Tambun dan Bungai. 

Asal-Usul Tari Selaras Pinang Masak Dari Jambi

Image : Tari Selaras Pinang Masak Asal Jambi


Tari Selaras Pinang Masak adalah sejenis tari Melayu dari Jambi dengan gerakan-gerakan yang sangat dinamis. Gerakan-gerakan tersebut lebih mirip kombinasi antara silat, aerobic, dan kungfu. Nama Selaras Pinang Masak ini diambil nama Puteri Selaras Pinang Masak yang konon memerintah Jambi pada zaman dahulu kala.

Konon, Putri Selaras Pinang Masak dulunya adalah istri dari Datuk Paduka Berhala. Datuk Padukan Berhala merupakan penguasa negeri Melayu Jambi yang berasal dari Turki. Namun hingga saat ini belum ada bukti nyata berdasarkan penelitian atau catatan sejarah yang relevan. Pasalnya, tidak ada satu silsilah yang mengurutkan dengan tepat dan dapat dipercaya secara keilmuan (nasab) tentang hirarki Sang Datuk, baik dari garis keturunan ayahnya maupun ibunya dengan raja-raja Islam penguasa daratan Eropa itu. 

Sebenarnya, cerita yang menarik lahir dari suami Putri Selaras Pinang Masak, yaitu Datuk Paduka Berhalo. Asal-usul Datuk menjadi teka-teki tersendiri bagi para sejarawan.Profesor Aulia Tasman, Ph. D, Pembantu Rektor IV Universitas Jambi menyatakan bahwa Datuk Paduka Berhala adalah Adityawarman. Profesor Aulia Tasman bersepakat dengan penelitian A. Jaffar, menurutnya, sebagai seorang Maharajadiraja, patung Adityawarman banyak disembah dan “dipertuhankan oleh rakyat yang saat itu mayoritas beragama Budha. Patung Sang Datuk kemudian dianggap sebagai berhala oleh orang-orang muslim. Dari sanalah mulai terciptanya Datuk Paduka Berhala. 

Versi di atas mendapat sanggahan dari be erapa kalangan. Pasalnya, dalam Kitab Undang Undang Tanjung Tanah, Naskah Melayu yang Tertua, 2006, Profesor Uli Kozok Ph.D, menuliskan bahwa Adityawarman wafat  sekira tahun 1375-1377. Pada Prasasti Batusangkar yang bertarikh 1375 disebutkan Adityawarman kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Ananggawarman. Wilayah terakhir pusat kerajaaan Pagaruyung yang dikuasai Adityawarman itu terletak di pedalaman Minangkabau. Hal tersebut terbukti dengan adanya makam Adityawarman di sana.

Letak tersebut cukup jauh dari tanah Jambi secara geogrefis. Maka janggal bila kemudian masyarakat Jambi menyebut-nyebut Adityawarman sebagai Datuk Paduka Berhala. Padahal dalam prasasti atau cerita rakyat di Minangkabau sendiri tidak dikenal siapa itu Sang Datuk. Apalagi menghubung-hubungkannya sebagai orang yang sama dengan Adityawarman. 

Lantas siapa sebenarnya Putri Selaras Pinang Masak yang kemudian disebut-sebut pernah memerintah kerjaan Melayu Jambi setelah sang Datuk meninggal dan Orang kayo Hitam (yang diduga anak kandung Putri Selaras Pinang Masak dan Datuk Paduka Berhala) mendirikan Kerajaan Melayu Jambi.

Versi lain menyebutkan bahwa Datuk Paduka Berhala adalah Sayid Ahmad Tajjudin yang tersingkir dari Malaka saat terjadi perang. Bersama seorang sepupunya ia harus pindah ke suatu daerah di Selat Berhala pada 1513. Di sanalah, Sayid Ahmad Tajjudin menyiarkan agama Islam ke pesisir hingga pedalaman. Kemudian ia menikah dengan Putri Selaras Pinang Masak.

Dari latar sejarah yang masih menarik untuk terus digali, karakter Putri Selaras Pinang Masak sendiri tercermin dari gerakan-gerakan tari yang cenderung lebih mirip gerakan bela diri. Hal itu mencerminkan bahwa Putri Selaras Pinang memiliki karakter yang tegas dan berlawan dalam memimpin kerajaan yang diwariskan suaminya ketika itu. Namun dari semua itu yang terpenting adalah bahwa tarian Selaras Pinang Masak memiliki kekhasan yang berbeda dari tarian Jambi pada umumnya.
◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Total Pageviews

Copyright 2013 Macam-Macam Tarian di Indonesia Template by Hand's. Powered by Blogger