Tuesday, February 11, 2014

Sejarah Singkat Tarian Incling Asal Jawa Tengah


Incling merupakan tarian rakyat tradisional yang mempunyai tema cerita yang diambil dari cerita Panji. Kesenian incling ini dibawakan secara berkelompok dengan jumlah penari 15 atau 17 orang.Pertunjukan ini biasanya diadakan di tempat terbuka dengan durasi 3 sampai 4 jam. Meskipun penarinya laki-laki semua, tetapi ada peran wanita yang diperankan oleh laki-laki yang disebut “cepet wadon”. Selain itu, yang juga menarik dan disukai penonton adalah peran tokoh pentul, bejer, serta kethek atau kera. Beberapa grup Incling yang ada antara lain berada di desa Jatimulyo, kecamatan Girimulyo, desa Sindutan, kecamatan Temon, dan di desa Tanjungharjo, kecamatan Nanggulan.

 
Konon grup incling yang lama akan kehilangan ‘endang’ karena pindah ke grup Tarian Incling Jawa Tengah yang baru didirikan. Setiap grup kesenian tradisional sejenis jatilan dan incling dipercaya ada yang ‘menunggu’. Tak dapat dilihat dengan mata, namun dapat diketahui dalam setiap pementasan, karena pasti ada penari kemasukan jin yang biasa disebut masyarakat umum ndadi. ‘Endang’ merupakan sebutan ‘jin’ bagi kalangan sesepuh kesenian incling.



Sebagian sesepuh kesenian incling, melatih menari incling ke luar daerah menjadi pantangan. Pengalaman para perintis grup kesenian incling ‘Langen Bekso Winarso’. Menurut seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kecamatan Kokap yang mengisi hari tua menggeluti incling mengungkapkan, sesepuh grup yang pernah melatih grupnya jarang menerima tanggapan untuk pentas. Kejadian serupa dialami grup incling lain yang pernah melatih grup kesenian incling yang sekarang menjadi tempat belajar grupnya.

Sesepuh kesenian Tarian Incling Jawa Tengah akan selalu menolak jika diminta melatih grup kesenian incling yang baru berdiri. Alasan penolakan itu bukan karena khawatir grup incling yang baru itu akan menjadi kompetitor grup yang disepuhi.


“Ini menjadi pantangan bagi sesepuh kesenian incling yang menghendaki grupnya dapat bertahan lama. Ini bukan takut karena grup kesenian incling yang dilatih akan menjadi kompetitor baru,” kata Kastomo, anggota sesepuh grup kesenian incling ‘Langen Bekso Winarso’ di Gunung Rego, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap. “Orang yang ingin belajar incling harus datang, bukan sesepuhnya yang harus datang ke daerahnya untuk melatih”, katanya.



Terpisah, penasihat ‘Langen Bekso Winarso’ Samsunurudin mengungkapkan, grupnya berdiri pada 1989. Sejak mendirikan grup kesenian incling hingga sekarang, sering menerima tanggapan pentas di tempat orang hajatan. Tarian yang dipentaskan mengangkat legenda Babad Kediri. Salah seorang putra Samsunurudin, Suradi mengungkapkan, meskipun mengangkat legenda Babad Kediri, pementasan incling ‘Langen Bekso Winarso’ memiliki ciri khas yang tidak dimiliki grup incling lain. Pada awal pentas dan setiap adegan selalu disampaikan sinopsis sehingga penonton menjadi tahu jalan ceritanya.


Menurut sesepuh grup incling di Plaosan, Desa Hargotirto Saparjo Tani (90), nama incling lahir karena suara klinting yang terdengar ‘kemrincing’ setiap penari menggerak-gerakkan kendali kuda lumping. Namun ia tak ingat lahirnya kesenian incling di wilayahnya. Secara spiritual, nama Tarian Incling Jawa Tengah dimaknai mendalam menjadi Pancasilane Jagad Gumelare Manungso.


Sekitar 1970-an di wilayah Plaosan, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap terdapat grup kesenian incling yang cukup terkenal. Di masa kejayaannya, sering diminta pentas orang punya hajatan, dan acara-acara resmi di lingkungan pemerintahan. Begitu terkenalnya grup kesenian tersebut, lantunan parikan ‘Inclinge Hargotirto, Pimpinane Bapak Parjo’ melekat di hati masyarakat.



Pengamat seni yang sekaligus pelaku seni kesenian tradisional Kulonprogo, Drs Sugiyanto mengakui, incling menjadi salah satu kesenian tradisional lokal Kulonprogo yang tidak dijumpai di daerah lain. Grup kesenian incling diketahui pertama kali berdiri di wilayah Plaosan, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap yang disepuhi Saparjo Tani dan di wilayah Bayeman, Desa Temon Kulon, Kecamatan Temon yang mementaskan dengan gaya tersendiri dengan penari yang menggunakan kuda lumping, posisi kepala kuda menengadah ke atas.


“Incling tersebut pernah diteliti dan diseminarkan. Grup kesenian Tarian Incling Jawa Tengah di Bayeman berdiri lebih dulu. Grup incling di Hargotirto, berdiri sekitar tahun 1950-an. Perbedaan incling yang ada di Hargotirto sangat disakralkan, sebelum dipentaskan biasanya melalui proses spiritual,” jelas Sugiyanto.
Incling di Kulonprogo berbeda dengan Tarian Incling Jawa Tengah yang diciptakan almarhum Bagong Kussudiardjo, baik dalam bentuk, napas, kostum penari dan cara penyajiannya.



Kepala Seksi Adat dan Kesenian Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudpar Pora) Kulonprogo Drs R Yudono Hindri Atmoko mengatakan, hingga saat ini ada sekitar 25 grup kesenian incling. q-k



“Upaya pelestarian grup incling harus mengikuti keinginan masyarakat dengan berusaha tidak meninggalkan ciri khas kesenian yang hanya ada di Kulonprogo ini. Upaya lain selalu melibatkan grup-grup untuk pentas,” katanya.


Demikian Artikel tentang Tarian Incling Jawa Tengah semoga bisa bermanfaat untuk anda yang telah membacanya dan semoga juga bisa menambah wawasan anda, sekian trimakasih atas perhatianya

Tari Parodi Asal Kebumen


Ini semata hanya hiburan, tidak bermaksud untuk menyinggung kebudayaan seni yang ada di Indonesia.
Penulis sedang menghadiri acara pernikahan di Kebumen.

Karena ternyata senyum adalah sebuah tari menurut saya pribadi.

dari kiri (Ika, Handoko dan Rinoto)

Sunday, February 9, 2014

Tari Pedang Mualang Suku Dayak Mualang Asal Kalimantan Barat


Tari Pedang Mualang suku Dayak Mualang Kalimantan Barat adalah sebuah tarian tunggal tradisional yang di sajikan di masa kini untuk menghibur masyarakat dalam setiap acara tradisional, seperti Gawai Dayak (pesta panen padi), Gawai Belaki Bini (pesta pernikahan) dan lain-lain.

Tari Pedang Mualang ini lebih menekankan pada Gerakan aktraktif menggunakan pedang dalam menyerang maupun menangkis serangan lawan demikian juga menjadikan pedang sebagai objek yang di mainkan baik di kepala maupun di bahu serta keahlian melakukan putaran pedang.

Di masa lalunya, Tari Pedang Mualang di lakukan oleh para kesatria sebagai motivasi mendatangkan semangat perang sebelum turun melakukan ekspedisi Mengayau. Hal ini di maksudkan untuk memperkuat keyakinan mereka bahwa mereka harus menang dalam melawan serangan maupun dalam menyerang lawannya.

Tari Pedang Mualang ini diiringi oleh tebah tradional yang disebut “tebah Undup Banyur ” tetapi ada kalanya dilakukan dengan Tebah Undup Biasa. kini Tari Pedang Mualang, mulai terancam punah karena tidak banyak lagi tua – tua yang menurunkan Tari Pedang Mualang ini kepada generasi mudanya. Salah seorang generasi tua yang masih dapat memperagakan tari ini yaitu: bapak Mundus atau Apai Mundus dari Kampung Merbang, Kecamatan Belitang Hilir, Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat.

Demikiean informasi tentang Tari Pedang Mualang semoga bermanfaat untuk kita semuanya dan bisa menambah wawasan kiata semua tentang budaya tari-tarian di seluruh Nusantara, karena dengan kita mengetahui budaya tari di Indonesia maka bertambah pula pengalaman kita tentang kekayaan negara Indonesia ini.

Keanggunan Tari jaipong Yang Cantik dan Luwes


Daya tarik tarian tersebut bagi kaum muda selain gerakan yang dinamis dan tabuhan kendang membawa mereka ikut menggerakan tubuhnya untuk menari Jaipongan . Tarian yang memikat ini merupakan salah satu identitas kesenian Jawa Barat yang sering tampil pada acara- acara khusus dan besar sampai kenegaraan.

Pengaruh tarian Jaipongan merambah sampai Jawa Tengan dan Jawa Timur , Bali bahkan Sumatra yang dikembangkan para senimandari luar Jawa Barat.

Penari Jaipongan terdiri dari Tunggal, rampak / kolosal :
1. Rampak sejenis
2. Rampak berpasangan
3. Tunggal laki-laki dan tunggal perempuan
4. Berpasangan laki- laki / perempuan

Gendangnya mantap tari jaipong
Bunyi gendang menambah gairah. Diiringi oleh untaian musik bernada menghentak yang harmonis dengan gerakan tubuh sang penari, menjadikan Jaipong cukup nyaman untuk dinikmati keindahan tariannya. Adapun alat musik pengiring biasanya gabungan dari beberapa alat musik antara lain :

Macam-macam alat musik tari jaipong :
Kendang
Saron I, II
Bonang
Rincik
Demung
Rebab
Kecrek
Sinden
Gong
Juru alok

Tari Jaipong nan memikat
Tata busana tari Jaipongan untuk kreasi baru biasanya berbeda dengan busana ketuk tilu untuk yang kreasi biasanya lebih glamor. Dengan tetap memakai pola tradisional seperti sinjang / celana panjang , kebaya / apok yang busananya lebih banyak ornamen sehingga terlihat megah tetapi lebih bebas bergerak . Seiring dengan perkembangan jaman dan tarian tersebut tari Jaipongan banyak ditampilkan pada arena terbuka secara kolosal dan juga tampil di Hotel berbintang serta dalam rangka penyambutan tamu- tamu asing dari berbagai belahan dunia.

Beberapa waktu yang lalu saya mencoba menemui seseorang yang sejak sekolah dasar sampai sekarang berumur 38 tahun masih konsisten melakukan dan memberikan bimbingan tari jaipong khususnya dan tari Sunda pada umumnya. Beliau adalah Ibu Nurlela.

Menurut Ibu Nurlela, biasa beliau dipanggil, Jaipong memang sudah tidak seheboh dulu. Namun di pelosok desa masih sering terlihat di beberapa acara khususnya pernikahan yang hiburannya menggelar tari Jaipong. Ada kebanggaan tersendiri bagi beberapa golongan jika dalam sebuah hajatan menggelar tarian ini.

Frekwensi pagelaran memang tidak sebanyak dulu, namun masih ada beberapa kontes tari Jaipong. Selain itu juga dipergunakan pula oleh beberapa instansi dalam melakukan sebuah kampanye seperti halnya keluarga berencana, sensus 

kependudukan sampai pada kampanye politik. “Hal ini karena bagi beberapa kalangan tarian ini masih diminati”, demikian papar penari yang juga mahir membawakan tarian klasik Sunda itu, yang pada tanggal 11 April 2010 ini akan menggelar tarian Jaipong tersebut di Semarang

Di daerah Sunda, lanjut beliau, masih banyak kelompok seni yang masih eksis. Dia sendiri saat ini tergabung dalam 10 kelompok seni sunda yang bertebaran di 3 kabupaten yaitu Tasikmalaya, Ciamis dan Bandung.
Semoga kelak tari Jaipong ini bisa kembali marak seperti era tahun 80 – 90an yang sempat booming.

Peran Fungsi Seni Topeng bagi Masyarakat


Topeng merupakan hasil budaya masyarakat yang berkembang menjadi suatu bentuk karya seni sebagai sarana ritual upacara keagamaan/kepercayaan dan sarana keseniaan yang mempunyai tukuan estetis. Topeng dalam perjalanannya dipengaruhi oleh perkembangan dinamika kehidupan global yang sangat cepat dan kompleks dengan ditandainya oleh mobilitas yang tinggi oleh sekelompok masyarakat antar bangsa.

Hal ini mengakibatkan pertukaran informasi secara luas dan cepat, sekaligus terjadinya proses transformasi budaya. Salah satu wujud dari transformasi budaya adalah terbentuknya bermacam-macam gaya hidup baru, dimana gaya hidup tersebut diinterpretasikan ke dalam bentuk seni topeng yang sifatnya komersial. Salah satu gaya seni topeng yang sedang berkembang adalah gaya neo vernakuler, yaitu suatu gaya dari faham postmodern yang menerapkan ide-ide, nilai-nilai atau gagasan-gagasan budaya dari suatu negara atau kawasan yang diasimilasikan dengan rancangan baru.

Perkembangan seni topeng
Dalam proses perkembangan tersebut, para kritisi seni topeng larut dalam perbedaan menggali budaya tradisi demi menemukan bentuk topeng yang berpijak dan berakar di daerah sendiri. Untuk pertama kalinya sebutan “Topeng Pop Art” dengan mengacu pada karya-karya tradisi, bersamaan dengan itu, muncul sebutan topeng postmodern, masa perkembangan topeng modern pembaharuan oleh beberapa seniman topeng yang sering mendapatkan pesanan dari luar negeri. Sebagai gerakan baru, kiranya lebih tepat disebut gerakan postmodern, sekaligus sebagai seni topeng sekuler.

Latar belakang perubahan
Penelitian ini mengambil kasus fenomena perubahan fungsi dan bentuk topeng tradisional menjadi sebuah topeng postmodern dengan idiom-idiom estetikanya postmodernisme sebagai hiasan yang dikerjakan oleh seniman topeng Ida Bagus Anom asal Desa MAs. Tujuan penulisan ini antara lain adalah untuk mengetahui latar belakang perubahan yang topeng tradisional menuju postmodern.

Penulisan dilakukan dengan cara memaparkan unsur-unsur yang berubah, tetap atau baru pada topeng trasisioanal yang berkembang menjadi topeng yang mengandung nilai-nilai postmodernisme yang sifatnya komersial. Selain itu penelitian didukung dengan melakukan studi komparasif pada pengembangan artefak tradisional lain dan jenis-jenis pola perubahannya sebagai ilustrasi peta perubahan dan pengembangan artefak tradisional yang ada.

Ciri Khas Rumah Adat Batak Simalungun Bolon Asal Timur Danau Toba


Sub etnis Batak Simalungun berdiam di sebagian wilayah Deli Serdang sebelah Timur Danau Toba. Rumah adatnya berbentuk panggung dengan lantai yang sebagian disangga balok-balok besar berjajar secar horizontal bersilangan. Balok-balok ini menumpu pada pondasi umpak. Dinding rumah agak miring dan memilliki sedikit bukaan/jendela.

Atapnya memilliki kemiringan yang curam dengan bentuk perisai pada sebagian besar sisi bawah, sedang sisi atas berbentuk pelana dengan gevel yang miring menghadap ke bawah. Pada ujung atas gevel biasanya dihiasi dengan kepala kerbau. Tanduknya dari kerbau asli dan kepalanya dari injuk yang dibentuk. Bagian-bagian  konstruksi Rumah Adat Batak Simalungun Bolon diukir, dicat serta digambar dengan warna merah, putih dan hitam. Selain sarat dengan nilai filosofis, ornamentasi rumah memiliki keunggulan dekoratif dalam memadukan unsur alam dan manusia dengan unsur geometris.

Rumah Adat Batak Simalungun Bolon menyampaikan sebuah ungkapan pertemuan masyarakat dapat dimunculkan dengan bentuk geometri segi empat yang ditengahnya diberi lingkaran lalu diberi corak ragam hias manusia beruang berkeliling lingkaran. Menyampaikan sebuah ungkapan hubungan dua manusia ditampilkan dengan bentuk geometri kotak melambangkan dekorasi badan manusia di mana bagian atas dan bawahnya diberi kepala dalam posisi berlawanan arah.

Corak ragam ornamen Rumah Adat Batak Simalungun Bolon ini selalu berulang, melalui proses tradisi turun temurun, berkembang dan berpadu saling melengkapi dengan bentuk dekorasi lain.

Masyarakat Batak Simalungun mempercayai adanya kekuatan roh halus, membedakannya dari yang baik dan jahat. Untuk menolak yang jahat agar tidak mengganggu penghuni Rumah Adat Batak Simalungun Bolon juga diwujudkan dengan ornamentasi konstruksi rumah dengan bentuk tertentu.

Hiasan penolak roh jahat ini dapat berupa kepala manusia dan bentuk-bentuk yang runcing. Hiasan lain Rumah Adat Batak Simalungun Bolon yang khas adalah pengecatan pada penampang balok-balok horizontal di kolong rumah. Balok-balok berbentuk silinder ini hanya berposisi 2 modul struktur pada bagian depan rumah. Di bagian belakangnya digantikan tiang-tiang yang berposisi vertikal.

Denah rumah memanjang ke belakang dengan tiga modul struktur di bagian depan dan 5 sampai 7 modul ke belakang. Dua pintu terletak di bagian depan dan belakang. Untuk mencapai rumah digunakan anak tangga yang berjumlah ganjil. Satu modul struktur bagian depan tidak berdinding dan digunakan sebagai beranda/teras.

Bagian tengah Rumah Adat Batak Simalungun Bolon ini juga dihilangkan dan digantikan dengan tangga utama menuju rumah. Dengan demikian terbentuk teras yang berjumlah dua dan berada di kiri-kanan tangga utama. Karena teras berada satu level dengan lantai rumah panggung maka posisinya di atas. Untuk mengamankan dibuat pagar mengelilingi teras.

Demikian artikel tentang Rumah Adat Batak Simalungun Bolon ini semoga bermanfaat dan bisa menambah informasi tentang kebudayaan yang dada di Indonesia.
Artikel yang terkait dengan Rumah Adat Batak Simalungun Bolon : rumah adat balai batak toba, nama rumah adat batak toba, nama rumah adat batak, rumah adat suku batak, rumah adat batak toba, rumah adat batak karo, gambar rumah adat batak toba, rumah adat betawi, nama rumah adat batak, rumah adat suku batak, rumah adat batak toba, rumah adat batak karo, gambar rumah adat batak toba, rumah adat batak simalungun, rumah adat betawi, Rumah Adat Batak Simalungun Bolon, rumah adat toraja.

Sejarah dan Tradisi Pesta Dadung Asal Cirebon


Kendati dalam perjalanannya tidak semulus kesenian tradisi lainnya. Namun paratetua/sesepuh desa tidak mengharapkan tradisi itu punah. Sebab sudah berlangsung secara turun temurun dan menjadi salah satu ikon seni budaya Kabupaten Kuningan. Pesta dadung merupakan tradisi budak angon (pengembala kambing) di saat menggembalakan ternaknya di huma atau di ladang. diperkirakan tradisi itu mulai dikenal sekitar tahun 1818, kaulinan (permainanan) barudak yang memanfaatkan waktu luang sewaktu menggembala ini mengalami perubahan dari kaulinan budak angon menjadi sikap syukur penduduk setempat yang mata pencahariannya mengandalkan sektor pertanian dan peternakan setelah panen raya.

Asal usul tardisi pesta dadung
Menurut penuturan H. Dahlan (70) tokoh masyarakat Desa Legokherang, pesta dadung mulai diperkenalkan ke masyarakat luar desa sejak kepemimpinan desa yakni Kuwu Angkin Jiwa Laksana, sekitar Tahun 1818. Pada jaman itu, Angkin mendatangkan seperangkat alat gamelan salendro dan pelog (laras Sunda) dari Cirebon dan tambang atau dadung.

Dadung panjangnya kurang lebih dua belas meter tujuannya sebagai alat untuk menari dan menyanyikan lagu yang diiringi gamelan. Tarian yang digunakan jenis tari jalak pengkor hasil kreasi Angkin Jiwa Laksana. Sedangkan nyanyian sebagai pengiring, menggunakan musik kangsreng dan waledan. Kedua jenis musik ini hasil ciptaan Sunan Gunung Djati atau bisa disebut Wali Sanga. Sehingga tradisi pesta dadung memiliki beberapa visi. Melestarikan tradisi kehidupan agraris dan nilai-nilai penyebaran Islam. Soalnya pada jaman dahulu, penyebaran Islam lebih efektif dengan kesenian.
◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Total Pageviews

Copyright 2013 Macam-Macam Tarian di Indonesia Template by Hand's. Powered by Blogger