Tuesday, September 16, 2014

Macam-Macam Contoh Tarian Klasik di Indonesia

Beberapa jenis tari yang ada antara lain :
Tari Klasik

– Tari Bedhaya :JUMENENGAN MANGKUNEGARANBudaya Islam ikut mempengaruhi bentuk-bentuk tari yang berangkat pada jaman Majapahit. Seperti tari Bedhaya 7 penari berubah menjadi 9 penari disesuaikan dengan jumlah Wali Sanga. Ide Sunan Kalijaga tentang Bedhaya dengan 9 penari ini akhirnya sampai pada Mataram Islam, tepatnya sejak perjanjian Giyanti pada tahun 1755 oleh Pangeran Purbaya, Tumenggung Alap-alap dan Ki Panjang Mas, maka disusunlah Bedhaya dengan penari berjumlah 9 orang. Hal ini kemudian dibawa ke Kraton Kasunanan Surakarta. Oleh Sunan Pakubuwono I dinamakan Bedhaya Ketawang, termasuk jenis Bedhaya Suci dan Sakral, dengan nama peranan sebagai berikut :

a. Endhel Pojok
b. Batak
c. Gulu
d. Dhada
e. Buncit
f. Endhel Apit Ngajeng
g. Endhel Apit Wuri
h. Endhel Weton Ngajeng
i. Endhel Weton Wuri

Berbagai jenis tari Bedhaya yang belum mengalami perubahan :
– Bedhaya Ketawang lama tarian 130 menit
– Bedhaya Pangkur lama tarian 60 menit
– Bedhaya Duradasih lama tarian 60 menit
– Bedhaya Mangunkarya lama tarian 60 menit
– Bedhaya Sinom lama tarian 60 menit
– Bedhaya Endhol-endhol lama tarian 60 menit
– Bedhaya Gandrungmanis lama tarian 60 menit
– Bedhaya Kabor lama tarian 60 menit
– Bedhaya Tejanata lama tarian 60 menit

Pada umumnya berbagai jenis Bedhaya tersebut berfungsi menjamu tamu raja dan menghormat serta menyambut Nyi Roro Kidul, khususnya Bedhaya Ketawang yang jarang disajikan di luar Kraton, juga sering disajikan pada upacara keperluan jahat di lingkungan Istana. Di samping itu ada juga Bedhaya-bedhaya yang mempunyai tema kepahlawanan dan bersifat monumental.
Melihat lamanya penyajian tari Bedhaya (juga Srimpi) maka untuk konsumsi masa kini perlu adanya inovasi secara matang, dengan tidak mengurangi ciri dan bobotnya.

Contoh Bedhaya garapan baru :– Bedhaya La la lama tarian 15 menit
– Bedhaya To lu lama tarian 12 menit
– Bedhaya Alok lama tarian 15 menit
dll.

Tari SrimpiTari SrimpiTari Srimpi yang ada sejak Prabu Amiluhur ketika masuk ke Kraton mendapat perhatian pula. Tarian yang ditarikan 4 putri itu masing-masing mendapat sebutan : air, api, angin dan bumi/tanah, yang selain melambangkan terjadinya manusia juga melambangkan empat penjuru mata angin. Sedang nama peranannya Batak, Gulu, Dhada dan Buncit. Komposisinya segi empat yang melambangkan tiang Pendopo. Seperti Bedhaya, tari Srimpipun ada yang suci atau sakral yaitu Srimpi Anglir Mendhung. Juga karena lamanya penyajian (60 menit) maka untuk konsumsi masa kini diadakan inovasi. Contoh Srimpi hasil garapan baru :
Srimpi Anglirmendhung menjadi 11 menit
Srimpi Gondokusumo menjadi 15 menit
dll.

Beberapa contoh tari klasik yang tumbuh dari Bedhaya dan Srimpi :
a. Beksan Gambyong : berasal dari tari Glondrong yang ditarikan oleh Nyi Mas Ajeng Gambyong. Menarinya sangat indah ditambah kecantikan dan modal suaranya yang baik, akhirnya Nyi Mas itu dipanggil oleh Bangsawan Kasunanan Surakarta untuk menari di Istana sambil memberi pelajaran kepada para putra/I Raja. Oleh Istana tari itu diubah menjadi tari Gambyong.
Selain sebagai hiburan, tari ini sering juga ditarikan untuk menyambut tamu dalam upacara peringatan hari besar dan perkawinan.

Adapun ciri-ciri Tari ini :
– Jumlah penari seorang putri atau lebih
– Memakai jarit wiron
– Tanpa baju melainkan memakai kemben atau bangkin
– Tanpa jamang melainkan memakai sanggul/gelung
– Dalam menari boleh dengan sindenan (menyanyi) atau tidak.

b. Beksan Wireng : berasal dari kata Wira (perwira) dan ‘Aeng’ yaitu prajurit yang unggul, yang ‘aeng’, yang ‘linuwih’. Tari ini diciptakan pada jaman pemerintahan Prabu Amiluhur dengan tujuan agar para putra beliau tangkas dalam olah keprajuritan dengan menggunakan alat senjata perang. Sehingga tari ini menggambarkan ketangkasan dalam latihan perang dengan menggunakan alat perang. Ciri-ciri tarian ini :
– Ditarikan oleh dua orang putra/i
– Bentuk tariannya sama
– Tidak mengambil suatu cerita
– Tidak menggunakan ontowacono (dialog)
– Bentuk pakaiannya sama
– Perangnya tanding, artinya tidak menggunakan gending sampak/srepeg, hanya iramanya/temponya kendho/kenceng
– Gending satu atau dua, artinya gendhing ladrang kemudian diteruskan gendhing ketawang
– Tidak ada yang kalah/menang atau mati.

c. Tari Pethilan : hampir sama dengan Tari Wireng. Bedanya Tari Pethilan mengambil adegan / bagian dari ceritera pewayangan.
Ciri-cirinya :– Tari boleh sama, boleh tidak
– Menggunakan ontowacono (dialog)
– Pakaian tidak sama, kecuali pada lakon kembar
– Ada yang kalah/menang atau mati
– Perang mengguanakan gendhing srepeg, sampak, gangsaran
– Memetik dari suatu cerita lakon.
Contoh dari Pethilan :
– Bambangan Cakil
– Hanila
– Prahasta, dll.

d. Tari Golek : Tari ini berasal dari Yogyakarta. Pertama dipentaskan di Surakarta pada upacara perkawinan KGPH. Kusumoyudho dengan Gusti Ratu Angger tahun 1910. Selanjutnya mengalami persesuaian dengan gaya Surakarta. Tari ini menggambarkan cara-cara berhias diri seorang gadis yang baru menginjak masa akhil baliq, agar lebih cantik dan menarik. Macam-macamnya :
– Golek Clunthang iringan Gendhing Clunthang
– Golek Montro iringan Gendhing Montro
– Golek Surungdayung iringan Gendhing Ladrang Surungdayung, dll.

e. Tari Bondan : Tari ini dibagi menjadi :
– Bondan Cindogo
– Bondan Mardisiwi
– Bondan Pegunungan/Tani.
Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi merupakan tari gembira, mengungkapkan rasa kasih sayang kepada putranya yang baru lahir. Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak yang ditimang-timang akhirnya meninggal dunia. Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak, serta perlengakapan tarinya sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan Cindogo.

Ciri pakaiannya :– Memakai kain Wiron
– Memakai Jamang
– Memakai baju kotang
– Menggendong boneka, memanggul payung
– Membawa kendhi (dahulu), sekarang jarang.
Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. Tapi sekarang ini menurut kemampuan guru/pelatih tarinya. Sedangkan Bondan Pegunungan, melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang, sawah, tegal pertanian. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing-gendhing lengkap.

Ciri pakaiannya :– mengenakan pakaian seperti gadis desa, menggendong tenggok, memakai caping
dan membawa alat pertanian.
– Di bagian dalam sudah mengenakan pakaian seperti Bondan biasa, hanya tidak memakai jamang tetapi memakai sanggul/gelungan. Kecuali jika memakai jamang maka klat bahu, sumping, sampur, dll sebelum dipakai dimasukkan tenggok.
Bentuk tariannya ; pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo / Mardisiwi.

f. Tari Topeng :
Tari ini sebenarnya berasal dari Wayang Wong atau drama. Tari Topeng yang pernah mengalami kejayaan pada jaman Majapahit, topengnya dibuat dari kayu dipoles dan disungging sesuai dengan perwatakan tokoh/perannya yang diambil dari Wayang Gedhog, Menak Panji. Tari ini semakin pesat pertumbuhannya sejak Islam masuk terutama oleh Sunan Kalijaga yang menggunakannya sebagai penyebaran agama. Beliau menciptakan 9 jenis topeng, yaitu topeng Panji Ksatrian, Condrokirono, Gunung sari, Handoko, Raton, Klono, Denowo, Benco(Tembem), Turas (Penthul). Pakaiannya dahulu memakai ikat kepala dengan topeng yang diikat pada kepala.

Tari Garapan Baru (Kreasi Baru)
Meskipun namanya ‘baru’ tetapi semua tari yang termasuk jenis ini tidak meninggalkan unsur-unsur yang ada dari jenis tari klasik maupun tradisional.

Sebagai contoh :a. Tari Prawiroguno
Tari ini menggambarkan seorang prajurit yang sedang berlatih diri dengan perlengkapan senjata berupa pedang untuk menyerang musuh dan juga tameng sebagai alat untuk melindungi diri.
b. Tari Tepak-Tepak Putri
Tari yang menggambarkan kelincahan gerak remaja-remaja putri sedang bersuka ria memainkan rebana, dengan iringan pujian atau syair yang bernafas Islam.

Contoh Tari Kreasi adalah

Yang dimaksud dengan tari kreasi di sini adalah suatu bentukgarapan/karya tari setelahnya bentuk-bentuk tari tradisi hidup berkembangcukup lama di masyarakat. Bentuk tarian ini bermunculan sebagai ungkapan rasa bebas, mulai ada gejalanya setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945. Kebebasan ini mendorong pula kreativitas para seniman tari, setelahnya melihat/merasakan ada perubahan jaman dalam kehidupan masyarakatnya dan menjadikan motivasi untuk membuat karya-karya baru memenuhi kebutuhan jamannya.
Pada garis besarnya tari kreasi dibedakan menjadi dua golongan yaitu:

1.Tari Kreasi Baru Berpolakan Tradisi
Yaitu tari kreasi yang garapannya dilandasi oleh kaidah-kaidah tari tradisi, baik dalam koreografi, musik/karawitan, rias dan busana, maupun tata teknik pentasnya. Walaupun ada pengembangan tidak menghilangkan esensiketradisiannya.

2.Tari Kreasi Baru Tidak Berpolakan Tradisi (Non Tradisi)
Tari Kreasi yang garapannya melepaskan diri dari pola-pola tradisi baik dalam hal koreografi, musik, rias dan busana, maupun tata teknik pentasnya. Walaupun tarian ini tidak menggunakan pola-pola tradisi, tidak berarti sama sekali tidak menggunakan unsur-unsur tari tradisi, mungkin saja masih menggunakannya tergantung pada konsep gagasan penggarapnya. Tarian ini disebut juga tari modern, yang istilahnya berasal dari kata Latin “modo” yang berarti baru saja.
Contoh:
1. Tari Merak
2. Tari Yapong

3. Tari Manukrawa

Contoh Tari Klasik adalah

Tari yang berkembang di kalangan masyarakat golongan bangsawan atau menak yang berkembang pada zaman kerajaan. Pada waktu itu, keadaan sosial masyarakat terbagi menjadi 2 golongan, yaitu golongan bangsawan dan golongan masyarakat biasa.

Contoh:

1. Tari Keurseus

TARI KAWITAN (KEURSEUS)

(KEURSEUS) TARI KAWITAN
Istilah Kursus berasal dari bahasa Belanda, yakni Cursus atau orang sunda menyebutnya “Keurseus”. Kemudia lahirlah sebuah nama tari yaitu tari Keurseus atau kursus. Tari kursus merupakan perkembangan dari tari tayub yang tumbuh dan berkembang didaerah Priangan pada masa lalu (masa ke emasan menak baheulak kaum bangsawan)

LATAR BELAKANG TARI KAWITAN (KERSEUS)
Tari kursus merupakan perkembangan dari tari tayub yang tumbuh dan berkembang didaerah Priangan pada masa lalu (masa ke emasan menak baheulak kaum bangsawan )
1. GERAK POKOK
2. GERAK PERALIHAN
3. GERAK PENGHUBUNG

3 ragam jenis gerak dalam tari kawitan Busana Kawitan menggambarkan busana kalangan menak pada masa lalu yaitu : Sinjang rereng, Baju takwa, kewer, beber, bendo citakan, stagen, sampur, keris, aksesoris, dll

BUSANA TARI KAWITAN RIAS TARI KAWITAN
Dalam rias tari kawitan make up setipis mungkin dan gunakan :
Alis pasekon
Eye shadow warna natural
Kumis tipis
Lipstik merah
Cedo 
Godek

2. Tari Bedhaya
3. Tari Klono

Contoh Tari Rakyat adalah

Tari rakyat adalah tari yang berkembang di kalangan rakyat biasa. Ungkapkan gerak bersifat bebas tanpa ada aturan yang mengikat.

Contoh:

1. Tari Reog Ponorogo

2. Tari Ketuk Tilu

3. Tari Joged

Contoh Tari Tradisional adalah


Seni adalah pengalaman dalam bentuk medium indrawi yang menarik dan di tata dengan rapi, yang di wujudkan untuk di komunikasikan dan di renungkan. Seni adalah karya manusia yang dapat menimbulkan rasa senang dalam rohani kita.

Tari tradisional adalah tari yang telah melampaui perjalananperkembangannya cukup lama, dan senantiasa berfikir pada pola-pola yang telah mentradisi. Tarian ini digolongkan atas tari tradisional Kerakyatan dan tari tradisional Bangsawan/Keraton/Klasik.

Tari tradisional kerakyatan, yaitu tari yang hidup dan berkembang di kalangan rakyat. Pada jaman feodal di Indonesia ditandai dengan munculnya kerajaan Hindu pada sekitar tahun 400 M. Mulai saat itu di Indonesia terdapat dua golongan masyarakat yaitu golongan Bangsawan dan Raja sebagai golongan kaya dan berkuasa, serta golongan rakyat jelata. Tari yang hidup di kalangan rakyat sesuai dengan kehidupan sosial masyarakatnya, masih sederhana dan banyak berpijak warisan seni tradisional. Faktor alam serta lingkungan dan agama/kepercayaan, sangat berpengaruh terhadap bentuk-bentuk seni tarinya. Sehingga tari tradisional kerakyatan sangat beraneka ragam sesuai dengan kondisirakyat, alam dan agama/kepercayaannya.

Tari tradisional Keraton/Bangsawan/Klasik, adalah tari yang semula berkembang di kalangan kerajaan dan bangsawan, telah mencapai kristalisasi artistik yang tinggi dan telah menempuh perjalanan sejarah yang cukup panjang sehingga memiliki pula nilai tradisional. Tetapi tari tradisional belum tentu bernilai klasik, sebab tari klasik selain mempunyai ciri tradisional harus pula memiliki nilai artistik yang tinggi. Istilah klasik berasal dari kata Classici, yaitu nama golongan masyarakat yang paling tinggi pada jaman Romawi Kuno.

Contoh:
1. Tari Serampang Dua Belas
2. Tarian Tor-tor
3. Tarian Cakalele
4. Tari Remong

Monday, September 15, 2014

Alat Musik Gendang Tabuik dalam Upacara Oyak Tabuik


Sebagai salah satu alat perkusi, gendang tabuik dimainkan dalam grup dan menjadi sumber kemeriahan saat acara Oyak Tabuik  berlangsung. Alat Musik Gendang Tabuik Merupakan Sumber Kemeriahan di Acara Adat Tabuik -Sumatera Barat

Dalam kebudayaan Minangkabau, banyak acara adat yang berkaitan dengan tradisi Islam. Salah satunya adalah Oyak Tabuik di Pariaman, perayaan meriah yang dilaksanakan untuk memperingati hari kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Husein, pada perang Karbela. Perayaan meriah ini tidak lengkap tanpa kehadiran sekelompok orang yang memainkan gendang tabuik atau tambue. Gendang ini merupakan salah satu persyaratan untuk memeriahkan acara tersebut.

Dalam acara yang berlangsung dari tanggal 1 sampai 10 Muharam tersebut, gendang tabuik ditabuh terus-menerus dalam formasi yang bisa terdiri sampai 7 orang penabuh, sehingga menimbulkan suara yang riuh dan terkesan sebagai irama pengiring untuk maju perang. Hal ini merefleksikan keberanian Husein dan prajurit-prajuritnya saat berperang.

Bentuk dan Ukuran Gendang Tabuik
Gendang ini termasuk jenis gendang yang punya dua muka (sisi untuk ditabuh) yang terbuat dari kulit kambing. Tingginya 54 sentimeter dan diameternya 46 sentimeter sehingga cukup mengesankan dan menimbulkan suara nyaring ketika ditabuh. Penampilannya mirip dengan bedug atau gendang biasa, namun terkadang dalam acara gendang ini dihias dengan warna-warni menarik.

Gendang-gendang ini bisa jadi dimainkan dengan pola yang ritmis dan cenderung monoton atau dengan variasi interval irama sehingga terdengar variatif. Ini juga tergantung pada lagu yang dibawakan; beberapa lagu wajib seperti Oyak Tabuik, Katidiang Sompong, Kereta Mandaki dan sebagainya diiringin dengan gendang ini.

Gendang Tabuik dalam Upacara Oyak Tabuik
Gendang tabuik atau tambue digunakan untuk mengiringi beberapa tahapan dalam urut-urutan pelaksanaan ritual di upacara Oyak Tabuik. Karena upacara adat ini memiliki beberapa tahapan, ada beberapa yang harus diiringi gendang seperti upacara penebasan batang pohon pisang, mengarak sorban (diandaikan sebagai sorban Husain) dan sebagainya yang membutuhkan iringan musik yang heroik dan penuh semangat.

Akan tetapi, gendang tabuik juga bahkan dapat ditabuh sedemikian rupa sehingga bisa menimbulkan irama yang menyedihkan. Ini membuat gendang tabuik sebagai perkusi yang sangat kaya irama walaupun aslinya tidak memiliki melodi. Gendang tabuik pun menjadi salah satu alat musik yang sangat penting kehadirannya dalam upacara adat dan tak boleh ketinggalan.

Alat Musik Pupuik Batang Padi, Simpel namun Sakral


Walaupun merupaka alat musik yang sederhana, pupuik batang padi merupakan alat musik yang penting dalam ritual adat.

Siapa sangka bahwa alat musik yang nampak begitu sederhana, dengan nada simpel serta bahan yang nampaknya kurang mengesankan ternyata memiliki fungsi yang begitu penting? Di Sumatra Barat, tepatnya Kabupaten Agam, ada alat musik yang sederhana dan simpel namun memiliki fungsi yang sangat sakral dan penting dalam berbagai ritual, yaitu pupuik batang padi. Alat musik yang sederhana ini memiliki fungsi yang sangat penting dalam berbagai acara adat dan ritual tradisional di Kabupaten Agam.

Sederhana dan Satu Nada
Pupuik batang padi, seperti namanya, terbuat dari batang padi. Batang yang dipilih harus sudah tua dan berbuku-buku sehingga suara yang dihasilkan bisa lebih mantap. Cara membuatnya juga sangat simpel dimana batang padi tua tersebut dipecah atau dipotong di dekat pangkal garis bukunya, yang terlihat jelas jika batang padi tersebut jika sudah tua. Karena dipotong itulah, batang padi kemudian akan tampak menunjukkan sebuah rongga dimana dari sinilah pupuik batang padi ditiup.

Suara yang dihasilkan juga sangat sederhana. Tak seperti saluang, misalnya, yang bersuara halus dan lembut dengan teknik peniupan yang sangat sulit sampai harus mengatur pernapasan segala, pupuik batang padi justru memberikan kemudahan pada pemainnya sehingga ditiup sekali saja sudah akan menimbulkan bunyi.

Bunyi yang dikeluarkan tentu saja hanya akan ada satu nada, tetapi suaranya sangat melengking. Jika ditiup keras-keras menggunakan semacam corong yang terbuat dari daun kelapa, bunyinya bahkan bisa terdengar sampai jarak 2 kilometer. Jika ingin variasi nada, orang hanya bisa memainkan posisi tangan di depan lubang keluar suara di batang tersebut. Atau, terkadang ada juga orang yang melubangi batang padi tersebut lalu memainkan instrument tersebut mirip seruling.

Kemeriahan dalam Upacara Adat
Pupuik batang padi biasanya dibunyikan saat upacara adat yang berhubungan dengan panen. Walau hanya mengeluarkan satu nada, suara melengking pupuik batang padi dapat sangat memeriahkan acara, terutama jika mengiringi berbagai alat musik lain serta tari-tarian. Acara yang diadakan pun akan menjadi lebih meriah, dan acara yang berkaitan dengan panen juga bisa menjadi lebih sakral dan meriah.
Posting Lama ►
 

Total Pageviews

Copyright 2013 Macam-Macam Tarian di Indonesia Template by Hand's. Powered by Blogger