Showing posts with label Kota Kudus. Show all posts
Showing posts with label Kota Kudus. Show all posts

Thursday, July 10, 2014

Tata Cara Pengantin Tradisional Kudus

Pakaian pengantin tradisional adat Kudus dapat dilihat seperti gambar dimana pengantin pria mengenakan busana hajj (busana ala syeh dari bangsawan quraisy). Dalam adat pernikahan Kudus ada beberapa tahapan untuk melaksanakan ikatan pernikahan.

Jomblangan : tahap penjajagan
Nontoni : memberi kesempatan kepada jejaka untuk melihat gadis yang akan dijodohkan
Nakokno : menanyakan apakah si gadis mau dijodohkan
Lamaran : peresmian pertunangan
Ater Tukon : penyerahan mas kawin dan penentuan hari perkawinan
Upacara pernikahan : siraman pengantin, jonggolan, kembang mayang, akad nikah, ngundhuh penganten, ondrowino / walimah dengan gelar seni tradisional
Mbesturokno : mengantar pengantin ke rumah mertua

Agenda Lamaran
menggambarkan penyerahan tanda ikatan resmi dari pihak pria kepada pihak wanita bahwa anak gadis tersebut telah ada yang mengikat. Dalam agenda lamaran terdapat upacara Asok Tukon atau penyerahan mas kawin sebagai penganti nilai anak gadis dan penentuan hari perkawinan.

Agenda Midodareni, dimulai dengan kesibukan di rumah calon Pengantin puteri, menghias dan mengatur pelaminan serta persiapan lain dalam rangka hari pernikahan. Upacara Midodareni : dipimpin oleh juru rias pengantin
1. Memandikan calon pengantin puteri
2. Melulur dan meng-halub-halubi calon Pengantin Puteri
3. Memotong rambut sinom, dan rias midodareni
4. Kunjungan calon Pengantin Pria beserta rombongan serta serah terima sesaji (kembang mayang) : upacara jonggolan

Agenda Akad Nikah dan Ondrowino (Ngundhuh Pengantin)
Upacara akad nikah dilaksanakan sesuai dengan Syariat Islam yang dipimpin oleh Naib/KUA dan biasanya bertempat dikantor KUA atau Mesjid sesuai dengan status sosial keluarga Pengantin. Dalam pelaksanaan akad nikah selesai Pengantin Pria di arak menuju kerumah Pengantin Puteri. Perjalanan Pengantin diiringi dengan irama terbang Jidur ,Rebana dan Barongan lengkap dengan Gegar Mayang-Bendera Rontek-Umbu-umbul.

Setelah sampai di halaman rumah Pengantin Putri diadakan upacara :
1. Serah terima ayam jago (adon-adon) yang didahului pencak silat antara “Jagoan Keluarga Pengantin Putri 2. Melawan Jagoan Keluarga Pengantin Pria”
3. Temon Pengantin
4. Membuka cadar Pengantin Putri oleh Pengantin Pria disaksikan para orang tua (pinisepuh)
5. Ondrowino berupa pegelaran seni : Samroh, Rodat, Terbang Jidur
6. Setelah acara selesai dirasa cukup, Pengantin sekalian diboyong ke rumah Pengantin Pria diiringi para sanak keluarga sesuai dengan nilai-nilai adat dan tradisi Kudus.

Batik Khas Kota Kudus

Industri batik Kudus pada awalnya diproduksi secara home industri pada tahun 1800 M. Pusat produksi batik di Kawasan Kudus Kulon ( Kudus bagian barat ). Sesuai dengan sosiokultural yang berlaku pada masa itu bahwa gadis-gadis Kudus Kulon dalam menjalani kehidupannya dipingit oleh orang tua mereka. Untuk mengisi waktu, gadis-gadis tersebut diajari membatik. Selain Rama Kembang, Beras Kecer dan Alas kobong, motif kapal kandas merupakan motif yang digemari para pembeli. Nama kapal kandas terinspirasi pada bangunan rumah kuno berbentuk kapal ( omah kapal ).

Motif tersebut merupakan motif yang diambil dari sejarah kapal dampo awang milik sampokong yang kandas di Gunung Muria. Kapal tersebut membawa rempah-rempah yang berkhasiat sebagai obat-obatan yang sekarang tumbuh subur di Gunung Muria. Cengkeh, daun tembakau, dan alat pelinting rokok sebagai simbol Kudus merupakan kota kretek. motif kapal kandas diilhami dari kandasnya kapal China di kawasan ini, mungkin lebih dari 200 tahun lalu. Kapal bangsa China tersebut kandas dan penumpangnya yang selamat kemudian bermukim di lembah Gunung Muria atau Kudus.

Batik kudus sama seperti batik di daerah pesisir lainnya, amat dipengaruhi budaya China. Batik Kudus mulai dikenal pada abad 17 dan menjadi bagian identitas masyarakat Indonesia Kudus pada rentang waktu 1880 hingga 1940. Setelah itu, berangsur-angsur tradisi ini memudar dan puncaknya pada kurun tahun 1980-2000, Batik Kudus tinggal menjadi artefak budaya yang nyaris punah di masyarakat.

Sejarah mengungkapkan bahwa Batik Kudus dipengaruhi oleh budaya dari pedagang-pedagang Cina kaya yang mendatangkan pembatik-pembatik dari Pekalongan. Tak mengherankan rasanya apabila Batik Kudus disebut sebagai karya multi kultur. Dalam kumpulan Batik Kudus dikenal peranakan yang halus dengan isen-isen yang rumit, diantaranya isen gabah sinawur, moto iwak atau mrutu sewu. Batik- batik ini berwarna sogan (kecoklatan) seperti umumnya batik Jawa Tengah dengan corak tombak, kawung, atau parang, tetapi dihiasi dengan buketan, pinggiran lebar (terang bulan), taburan kembang, kupu-kupu, atau burung dengan warna-warna cerah seperti merah dan serasi dengan warna coklat.

Ciri dan corak khusus inilah yang membedakan batik Kudus dengan produksi batik daerah lain. Berbagai motif batik khas kudus seperti motif Pakis haji, Parijoto, Kapal Kandas, Kaligrafi dan Beras Tumpah kini mulai didaftarkan untuk memiliki hak cipta ke Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia

Rumah Adat Khas Kota Kudus

Arsitektur Tradisional Rumah Adat Kudus
Nilai arsitektur tradisional rumah adat Kudus merupakan salah satu wujud kebudayaan daerah yang sekaligus merupakan salah satu wujud seni bangunan atau gaya seni bangunan tradisional warisan nenek moyang masyarakat Kudus. Nilai kebudayaan tersebut pada prinsipnya berupa bentuk bangunan, bahan, struktur dan fungsi bangunan dengan macam ragam seni hias, motif dan cara pembuatannya. Bila ditilik dari bentuk, tata ruang, ragam hias, sestem ekonomi yang terkandung didalamnya maka gaya arsitektur tradisional rumah adat Kudus merupakan perpaduan antara kebudayaan Cina, Hindu dan Islam. Rumah Adat Kudus, yang menurut kajian historis-arkeologis, telah ditemukan pada tahun 1500 – an M, dibangun dengan bahan baku 95 % berupa kayu jati dengan teknologi pemasangan sistem “knoc-down” (bongkar pasang tanpa paku). Merupakan seni ukir 4 dimensi dari perpaduan seni ukir Hindu, Persia (Islam), Cina, dan Eropa, dengan tetap ada nuansa ragam hias asli Indonesia. Keunikan Rumah Adat Kudus yang juga cukup menarik untuk dicermati adalah kandungan nilai-nilai filosofis yang direfleksikan rumah adat ini.

Sejarah Singkat Ukiran Kudus
Seni ukir di Kudus mulai ketika seorang imigran dari Cina yaitu The Ling Sing tiba pada abad 15. Beliau datang ke Kudus tidak hanya menyebarkan ajaran Islam tetapi juga menekuni keahliannya dalam kesenian mengukir. Aliran kesenian The Ling Sing adalah Sun Ging yang terkenal karena halus dan indahnya. Dari daerah Kudus inilah beliau banyak menerima murid yang mempelajari agama maupun seni ukir.
Perbedaan Ukiran Kudus dan Jepara
Seni ukir di Kudus berkembang pada pembuatan rumah. Ukirannya halus dan indah, bunganya kecil-kecil dan bisa 2 atau 3 dimensi.
Seni Ukir Jepara berkembang pada peralatan rumah tangga, misalnya almari, tempat tidur, kursi dan lain-lain. Bentuk ukirannya besar-besar.

Motif Ukiran Kudus

Rumah adat Kudus terdiri dari beberapa motif ukiran yang dipengaruhi budaya Cina, Hindu, Islam, Eropa. Motif dan gaya seni ukir tersebut adalah :
1. Motif China berupa ukiran naga yang terletak pada bangku kecil untuk masuk ruang dalam
2. Motif Hindu digambarkan dalam bentuk perpaduan yang terdapat di gebyok ( pembatas antara ruang Jogo Satru dan ruang dalam )
3. Motif Persia / Islam digambarkan dalam bentuk bunga, terdapat dalam ruang Jogo Satru
4. Motif Eropa digambarkan dalam bentuk mahkota yang terdapat diatas pintu masuk ke gedongan.
ragam hias ukiran, misalnya : pola kala dan gajah penunggu, rangkaian bunga melati (sekar rinonce), motif ular naga, buah nanas (sarang lebah), motif burung phoenix, dan lain-lain.

Bentuk Rumah Adat Kudus

Bentuk rumah adat Kudus adalah Joglo Pencu yang berpenampilan perkasa serta anggun. Rumah joglo Pencu tampak menjulang tinggi. Atap rumah adat dibuat dari genteng sedangkan diatas genteng masih bertengger gendeng yang pada umumnya kepala gendeng bermotif tumbuh-tumbuhan ( sulur-suluran ) sebagai ciri budaya Islam. Ada beberapa jenis gendeng yaitu gendeng wedok ( gelung cekak), gendeng gajah ( gendeng pendamping dibubungan atap ), gendeng raja ( gendeng tengah pada bubungan atap). Pada puncak atap bertengger gendeng raja dengan motif tumbuh-tumbuhan. Fisik bangunan rumah adat Kudus berdiri diatas landasan alas yang terdiri dari 5 trap diatas permukaan tanah yaitu bancik kapisan ( trap terbawah ), bancik kapindo ( kedua ), bancik katelu ( ketiga ), Jogan Jogosatru ( trap lantai ruang depan ), Jogan Lebet ( trap lantai ruang dalam ). Tata rumah adat Kudus tampak sederhana, dan terdiri beberapa ruangan yaitu : Jogo satru yaitu ruangan depan yang sekarang difungsikan sebagai ruang tamu. Didalam ruangan Jogo satru terdapat satu tiang yang disebut Soko Geder. Ruang dalam ( inti ) berfungsi sebagai kamar-kamar dan gedongan ( kamar utama ) yang digunakan untuk menyimpan kekayaan dan sebagai kamar tidur kepala keluarga. Diruang dalam ini terdapat kerangka bangunan yang ditumpu oleh 4 buah sokoguru. Diatas keempat soko guru terdapat Pangeret Tumpang Songo ( kamuncak berlapis sembilan ) yang semakin keatas semakin mengecil. Pawon ( ruang keluarga ) digunakan untuk aktifitas keluarga ( ruang makan, ruang bermain anak dan dapur ).

Sebagai kelengkapan gaya arsitektur tradisional rumah adat Kudus ini terdapat Pakiwan ( berupa sumur, kamar mandi dan padasan/tempat wudlu ) Biasanya terletak di depan rumah sebelah kiri sejajar dengan pawon. Pada umumnya rumah adat Kudus selalu menghadap ke selatan karena :
Sinar matahari pagi bisa masuk kedalam rumah sehingga kesehatan penghuninya terjamin.
Bila musim kemarau tritisan depan rumah tidak langsung terkena sinar matahari sehingga tetap adem
Bila musim penghujan tritisan rumah terlindung dari hujan sehingga bagian depan rumah tidak diterpa air hujan terus menerus dan aman dari bahaya lapuk

Tata Cara Perawatan Rumah Adat Kudus
Kekhasan (keunikan) Rumah Adat Kudus yang juga cukup menarik adalah tatacara perawatan rumah adat yang dilakukan oleh masyarakat pemiliknya sendiri dengan cara tradisional dan turun-temurun dari generasi ke generasi. Jenis bahan dasar yang digunakan untuk perawatan Rumah Adat Kudus merupakan ramuan yang diperoleh berdasarkan pengalaman empiris pemiliknya, yaitu ramuan APT (Air pelepah pohon Pisang dan Tembakau) dan ARC (Air Rendaman Cengkeh). Ramuan ini terbukti efisien dan efektif mampu mengawetkan kayu jati, bahan dasar Rumah Adat Kudus, dari serangan rayap (termite) dan sekaligus meningkatkan pamor dan permukaan kayu menjadi lebih bersih, karena ramuan APT dan ARC dioleskan berulang-ulang ke permukaan dan komponen-komponen bangunan kayu jati.

Mengenal Pakaian Adat Pria dan Wanita di Kota Kudus

Pakaian Adat Wanita
Caping Kalo
Baju kurung beludru
Jarik/Sinjang Laseman
Selendang Tohwatu
Selop kelompen

Aksesoris kepala dan leher yaitu sanggul besar dengan cunduk mentul berjumlah lima atau tiga buah, Suweng beras kecer atau suweng babon angkrem, kalung (sangsang) robyong berjuntai lima (5) atau berjuntai sembilan (9), menghiasi leher sampai dengan dadanya, kancing peniti dari keping mata uang: ece, ukon, rupih atau ringgit, gelang lungwi, cincin Sigar Penjalin
   
Pakaian Adat Pria
Blangkon gaya Surakarta
Beskap Kudusan
Jarik Laseman
Selop alas kaki
Ikat pinggang atau Timang
Keris motif Gayaman atau ladrangan
Nilai Filosofis

Caping kalo tutup kepala
bentuknya bulat melambangkan bahwa setiap manusia wajib berpasrah diri secara bulat dan untuk kepada Sang Maha Pencipta, Allah S.W.T, Caping Kalo : melambangkan manusia supaya mampu menutup telinga (nacapi kuping), terhadap suara-suara negatif yang merugikan kehidupan, sebab disana banyak segala kemungkinan ( kae-lhoooooo [dalam bahasa Indonesia artinya : disana lho] ) yang perlu diwaspadai.

Kalung robyong berjuntai lima atau sembilan
melambangkan bawalah kemana saja (kalungake; Jw.) sebagai pegangan hidup yaitu lima rukun Islam, yang diajarkan oleh para wali di tanah Jawa (Wali Songo), tentang Iman dan Islam. Lakukanlah secara berobyong (kebersamaan seiman guna mencapai kebahagiaan dunia/akhirat).

Kancing peniti berupa uang emas direnteng
melambangkan bahwa manusia harus menghargai nilai-nilai iman sampai ke dalam relung hati, kancinglah (kuncilah/tutuplah) segala sesuatu yang biasanya menggoda hati manusia dan menghancurkan manusia. Terimalah dengan senang hati bila dihinakan (diece-kancing-ece), teguhlah kepada berbagai cita-cita mulia (rupi-rupi-pengarah-kancing rupiah Jw.), agar nilai hidupmu tetap bernilai tinggi, lebih tinggi dari uang ringgit emas di dadamu.

Gelang Lungwi
melambangkan Pagari dan ikatlah kedua tanganmu seerat dan sekuat tali lungwi, yaitu tali tampar yang terbuat dari kulit bambu apus agar tanganmu terkendali dan tidak terjerumus melakukan perbuatan tercela, yang meskipun secara lahiriah tampak menguntungkan, tetapi sebenarnya manusia tertipu (kapusan-pringapus).Berbuatlah engkau seperti elungnya uwi (pucuk jalur tanaman ubi), selalu merunduk meskipun berusaha berdiri. Kaum muda harus waspada karena masih hijau pengalamannya (pucuk elung uwi hijau muda), karena setiap kelengahan akan mudah patah (masih muda/lunak) dan kahirnya pasti merugi.

Gelung Sanggul Bercunduk Mentul
melambangkan janganlah mahligai dirimu tidak terawat, aturlah dengan kebulatan tekad pasrahmu dan sisipkan angan citamu perbuatan yang mikolohi serta cundhuk (sesuai) dengan mentul merunduknya imanmu. Jadikanlah tingkah lakumu yang membuat mentul, bijaksana serta adil.

Keris pusaka
melambangkan disengker cikben ora miris. Pusaka piyandel harus selalu melekat pada tubuh manusia, agar tidak mengalami keraguan atau ketakutan dan guna memperoleh ketenangan jiwa bawalah pusaka. Yang paling ampuh ialah kalimat syahadat.. Janganlah manusia lepas dari kalimat syahadat karena bila terlepas bisa menghantarkan manusia ke neraka.Bersikaplah gagah kesatria, karena pusaka sudah melekat pada tubuhmu.

Jam Gandul Berantai Emas
jam melambangkan petunjuk tentang waktu, seharusnya tidak boleh menunda waktu ibadah lima waktu dimana saja, jaga aja nganti kesundhul (gandhul) wektu amarga kena godha rentengana ngoyak bondho (emas).Tegasnya demi waktu janganlah ibadah menjadi tertunda akibat terlilit oleh harta benda.

Blangkon/ikat kepala
memberikan peringatan kepada manusia agar bersikap lebih terbuka dan jangan suka memberi perintah kepada orang lain (blakblakan lan aja tukang sepakon atau blangkon). Lindungilah otakmu dari semua gangguan, ikatlah seerat mungkin tekadmu demi kebagusan (kebaikan).

Suweng Beras Kecer/Babon Angkrem
memberi peringatan kepada manusia agar jangan berbuat gegabah jangan tergesa-gesa berbuat meskipun dibakar oleh santer/kekerasannya suara dan informasi yang membangkitkan amarah. (Suweng = aja kesusu ngaweng/nyabet, sanajan beda laras, hammangkelake lan ngekecer wirang).Tutuplah telinga rapat-rapat dan redamlah suara negatif meskipun menyakitkan hati, karena semua cercaan, hinaan, cemoohan dan ejekan adalah pundi-pundi kebahagiaan.
Posting Lama ►
 

Total Pageviews

Copyright 2013 Macam-Macam Tarian di Indonesia: Kota Kudus Template by Hand's. Powered by Blogger