Showing posts with label Tari Asal Bali. Show all posts
Showing posts with label Tari Asal Bali. Show all posts

Friday, May 8, 2015

Tarian Barong Ketet Asal Bali

Barong Ketet atau dengan istilah lainnya yaitu barong ket dan barong kekek, memakai sebuah topeng (tapel) yang disebut punggalan dengan di bagian kepala diisi gelungan yang disebut sekartaji yang dibuat dari kulit berukir. Di sela-sela dari kulit berukir  ini ditempelkan pecahan kaca serta di dalam tubuhnya ditaruh gongseng. Badannya dihiasi bulu-bulu yang dibuat dari praksok (serat dari sejenis tanaman pandan), di samping itu ada pula memakai ijuk, bulu bangau dan bulu gagak. Apabila barong dimainkan memerlukan dua orang pemain yaitu seorang pada bagian kepala dan seorang lain pada bagian ekor.
Dilihat dari segi bahasa, kata barong ketet terdiri dari kata barong dan ketet. Barong merupakan bentuk kata dasar yang menunjukkan benda, dan ketet berarti berhubungan atau bersambung. Jadi, barong ketet adalah suatu benda yang  terdiri dari dua bagian yaitu bagian kepala dan bagian ekor yang dirangkaikan atau disambung menjadi satu. Dalam acara pertunjukan, barong membawakan peranan kebajikan.

Barong ketet yang sering ditemui di Bali, terutama di Batubulan, Gianyar. Tarian ini sering dipertunjukan dan punya beraneka gerakan tari. Dalam koreografinya, barong ketet adalah kombinasi antara seekor singa, harimau, burung gagak, dan seekor sapi atau boma. Untuk melakukan pertunjukan, Barong biasanya dibawa oleh dua penari yang disebut Juru Saluk/Juru Bopang, satu di kepala dan lainnya di ekor. Tarian barong ketet menggambarkan peperangan antara perbuatan baik (dharma) dan perbuatan buruk (adharma) yang saling bertentangan (rwa bhineda). Biasanya ritual khusus dilakukan sebelum tarian ini dimulai. Tarian barong ketet biasanya diiringi oleh musik dari gamelan Semar Pegulingan.

Sumber: Laporan Penelitian "Barong Ketet di Denjalan Masa Kini" oleh Dewa Putu Muka (1985).

Thursday, March 19, 2015

Tarian Daerah dari Provinsi Bali

Tarian Daerah dari Provinsi Bali:

Siapa yang tidak kenal Bali atau sering disebut pulau wisata Bali? Daerah ini memilki berbagai nilai keindaha atau wisata, hamper seluruh wilayah di Bali memilki tempat sebagai objek wisata bali, banya orang menyebutnya sebagai surganya para pelancong. Keindahan alam yang ada di pulau bali tidak terlepas pada para penduduknya yang memiliki kesadaran dan kreativitas tinggi untuk menjadikan potensi alam yang dimilikinya menjadi sebuah tempat yang memanjakan para wisataan, hal ini terbukti, tidak hanya keindahan alamnya yang terkenal di Bali, namun banyak hasil kreasi masyarakat Bali yang menjadi daya tarik atau perhatian dari berbagai wisatawan dari seluruh penjuru dunia, salah satu hasil kreasi masyarakat bali dalam bentuk seni yaitu tarian tradisional, tarian tradisional bali ini memiliki khas yang berbeda dengan tari tradisional wilayah lainnya di Indonesia. Berikut tari tradisional Bali yang populer :

Tari Baris Tunggal
Tari Baris merupakan salah satu tarian sakral yang digunakan oleh umat Hindu di Bali sebagai pelengkap di suatu upacara keagamaan agama Hindu di Bali. Sifat sakral dalam tari Baris ialah, bahwa tari ini merupakan sebuah tarian untuk membuktikan kedewasaan seseorang dalam segi jasmani. Kedewasaan seseorang pria dibuktikan dengan mempertunjukkan kemahiran dalam olah keprajuritan yang biasanya disertai dengan kemahiran dalam memainkan senjata perang. Maka dari itu, tari Baris selain merupakan tarian sakral juga merupakan tari kepahlawanan. Adapun ciri khas dari tari Baris ialah, pertama tari ini lebih menonjolkan ketegapan dan kemantapan dalam langkah – langkah kaki serta kemahiran memainkan senjata perang. Kedua, pakaiannya juga mempunyai corak yang khas, yaitu penutup kepalanya bebebtuk kerucut, dan penutup badannya terdiri dari baju panjang serta hiasan kain – kain kecil panjang yaitu awir dan lelamakan.
      Tari Baris terbagi menjadi 2 bagian, salah satunya adalah tari Baris Tunggal. Tari baris tunggal merupakan tarian sakral yang digunakan pada saat Upacara Pitra Yadnya yaitu Karya mamukur, dimana disini tari baris tunggal berfungsi sebagai sarana penghatur punia atau persembahan bagi para leluhur yang dihantarkan dengan mantra-mantra suci Sulinggih dan alunan gamelan pengiring tari baris tunggal itu sendiri. Tari baris tunggal merupakan tarian lepas yang dibawakan oleh seorang laki-laki, dimana menggambarkan seorang prajurit gagah perkasa yang memiliki kematangan jiwa dan kepercayaan dimana itu diperlihatkan dengan gerakan tari yang dinamis dan lugas. Berbeda dengan tari Baris Tunggal sakral, tari Baris Tunggal Profan juga biasanya ditampilkan sebagai tari lepas dalam beragam pagelaran seni pertunjukan balih-balihan
Tari Barong
Tari Barong adalah tarian khas Bali yang berasal dari khazanah kebudayaan Pra-Hindu. Tarian ini menggambarkan pertarungan antara kebajikan (dharma) dan kebatilan (adharma). Wujud kebajikan dilakonkan oleh Barong, yaitu penari dengan kostum binatang berkaki empat, sementara wujud kebatilan dimainkan oleh Rangda, yaitu sosok yang menyeramkan dengan dua taring runcing di mulutnya.
      Ada beberapa jenis Tari Barong yang biasa ditampilkan di Pulau Bali, di antaranya Barong Ket, Barong Bangkal (babi), Barong Gajah, Barong Asu (anjing), Barong Brutuk, serta Barong-barongan. Namun, di antara jenis-jenis Barong tersebut yang paling sering menjadi suguhan wisata adalah Barong Ket, atau Barong Keket yang memiliki kostum dan tarian cukup lengkap.
    Kostum Barong Ket umumnya menggambarkan perpaduan antara singa, harimau, dan lembu. Di badannya dihiasi dengan ornamen dari kulit, potongan-potongan kaca cermin, dan juga dilengkapi bulu-bulu dari serat daun pandan. Barong ini dimainkan oleh dua penari (juru saluk/juru bapang): satu penari mengambil posisi di depan memainkan gerak kepala dan kaki depan Barong, sementara penari kedua berada di belakang memainkan kaki belakang dan ekor Barong. Secara sekilas, Barong Ket tidak jauh berbeda dengan Barongsai yang biasa dipertunjukkan oleh masyarakat Cina. Hanya saja, cerita yang dimainkan dalam pertunjukan ini berbeda, yaitu cerita pertarungan antara Barong dan Rangda yang dilengkapi dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti Kera (sahabat Barong), Dewi Kunti, Sadewa (anak Dewi Kunti), serta para pengikut Rangda.
     Tari Barong memiliki keistimewaan yang terletak pada unsur-unsur komedi dan unsur-unsur mitologis yang membentuk seni pertunjukan. Unsur-unsur komedi biasanya diselipkan di tengah-tengah pertunjukan untuk memancing tawa penonton. Pada babak pembukaan, misalnya, tokoh kera yang mendampingi Barong membuat gerakan-gerakan lucu atau menggigit telinga lawan mainnya untuk mengundang tawa penonton. Sementara itu, unsur mitologis terletak pada sumber cerita yang berasal dari tradisi pra-Hindu yang meyakini Barong sebagai hewan mitologis yang menjadi pelindung kebaikan. Unsur mitologis juga nampak dalam pembuatan kostum Barong yang bahan dasarnya diperoleh dari kayu di tempat-tempat yang dianggap angker, misalnya kuburan. Unsur mitologis inilah yang membuat Barong disakralkan oleh masyarakat Bali. Selain itu, Tari Barong juga seringkali diselingi dengan Tari Keris (Keris Dance), di mana para penarinya menusukkan keris ke tubuh masing-masing layaknya pertunjukan debus.
     Tari Barong dapat disaksikan di beberapa tempat di Kabupaten Gianyar, Bali, di antaranya di Pura Dalem Ubud yang biasanya mulai dipentaskan pada jam 19.30 WITA, serta di beberapa sanggar seni di Desa Batubulan yang dipentaskan pada jam 09.30 WITA. Untuk menonton seni pertunjukan ini, wisatawan dapat menuju Desa Batubulan melalui Kota Denpasar, Ibu Kota Provinsi Bali. Dari Kota Denpasar, Batubulan berjarak sekitar 10 km atau membutuhkan waktu sekitar 15 menit menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum (taksi/mobil carteran). Sementara, jika wisatawan memulai perjalanan dari Pantai Kuta atau kawasan Nusa Dua, dibutuhkan waktu + 45 menit.
     Untuk menyaksikan pertunjukan Tari Barong, wisatawan domestik maupun mancanegara dikenakan biaya sebesar Rp 50.000 per orang. Dengan membayar tiket sejumlah itu, wisatawan juga akan memperoleh panduan cerita pementasan dalam bentuk cetak dengan berbagai pilihan bahasa, antara lain bahasa Indonesia, Inggris, Perancis, Italia, Jepang, dan Mandarin. Selain menggunakan kendaraan pribadi, wisatawan juga dapat menyewa jasa travel untuk menonton tarian ini. Penyedia jasa travel umumnya telah memiliki jadwal tetap pertunjukan Tari Barong di Desa Batubulan. Namun, apabila ingin lebih leluasa dengan agenda wisata yang diinginkan, wisatawan dapat menyewa mobil carteran dengan biaya sewa yang dihitung per hari. Kecuali menyaksikan pertunjukan tari, salah satu agenda wisata yang bisa dilakukan di desa ini adalah berbelanja aneka cenderamata yang dijual oleh toko-toko suvenir maupun galeri seni yang ada di sepanjang jalan di Desa Batubulan. Benda-benda seni seperti patung maupun ukiran merupakan cenderamata khas dari desa ini. Apabila memerlukan akomodasi dan fasilitas seperti penginapan (losmen, hotel melati, maupun hotel berbintang), warung makan, serta tempat hiburan malam, maka wisatawan dapat menemukannya di kota terdekat, yaitu Kota Denpasar.
Tari Belibis 
Tari ini diilhami oleh cerita Angling Dharma yang merupakan seorang Raja. Pernah nonton Angling Dharma tidak dulu waktu masih disiarkan di salah satu tv swasta? Sudah lupa ya? Hehe. Jadi, karena suatu hal ia harus meninggalkan kerajaannya dan merantau dari satu daerah ke daerah lain. Dalam pengembaraannya, Angling Dharma bertemu dengan seorang putri raksasa pemakan manusia. Raksasa merasa khawatir rahasianya diketahui oleh Angling Dharma, dikutuklah Angling Dharma menjadi seekor burung Belibis yang hidup di air. Tarian ditarikan oleh perempuan secara berkelompok (biasanya).

Tari Cendrawasih
Tari ini mungkin bisa dibilang satu tipe dengan tari Manukrawa, tapi bedanya ini ditarikan oleh perempuan yang sudah remaja atau dewasa. Tarian ini menggambarkan sekelompok burung Cendrawasih yang bertebrangan menikmati alam bebas, riang gembira, bercanda, sambil memadu kasih. Tarian ini ditampilkan secara berkelompok atau paling tidak dua orang. Indah banget kalau lihat tarian ini. :)
     Kisah yang digambarkan di dalam tarian ini adalah menggambarkan kelembutan serta kemesraan dari sepasang burung cendrawasih di pegunungan Irian Jaya pada masa birahi saat menghiasi alam sekelilingnya dengan tarian cinta mereka yang tersusun atas warna-warni pelangi terpendar dalam rangkuman gerak mereka yang indah bagaikan penggalan puisi para pujangga. Tari duet yang ditarikan oleh penari putri, kendatipun dasar pijakannya adalah gerak tari tradisi Bali, beberapa pose dan gerakannya dari tarian ini telah dikembangkan sesuai dengan interpretasi penata dalam menemukan bentuk - bentuk baru sesuai dengan tema tarian ini. Busana ditata sedemikian rupa agar dapat memperkuat dan memperjelas desain gerak yang diciptakan.
      Tarian ini diciptakan oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem (yang juga sebagai penata busana dari pada tarian ini) dalam rangka mengikuti Festival Yayasan Walter Spies. penata tabuh pengiring adalah I Wayan Beratha dan I Nyoman Widha pada tahun 1988.
Tari Ciwa Nataraja 
Ciwa Nataraja adalah manifestasi Siwa sebagai penari tertinggi alias Dewanya penari. Gerakan Siwa merupakan pancaran tenaga prima yang kemudian menyatu sehingga terciptalah alam semesta ini. Begitu menerut kepercayaan orang Bali.



Tari Condong 
Tarian ini bisa dibilang tarian yang cukup sulit dan durasinya juga cukup lama. Sekitar 11 menit, atau lebih ya.. saya agak lupa persisnya. Tarian ini adalah tarian klasik Bali yang memiliki perbendaharaan gerak yang sangat kompleks yang menggambarkan seorang abdi Raja. Tari Condong adalah sebagai pelestarian budaya Bali dalam upaya mengajegkan Bali. Awalnya tarian ini menampilkan dua penari yang menyimbolkan dua bidadari dari sorga yaitu bidadari Supraba dan Wilotama. Namun, dalam perkembangannya sekitar tahun 1930-an, muncul ide seniman untuk melengkapinya tarian ini. Tarian ini menjadi lebih hidup dengan mengisahkan suasana kerajaan yakni menampilkan tingkah polah sang raja dan sang abdi. Walaupun tarian ini merupakan tarian dasar yang harus dikuasai oleh penari, hingga saat ini tak ada yang tahu siapa pencipta tarian klasik ini.
Tari Gabor 
Tari ini merupakan tarian wanita yang mirip dengan tari Pendet. Bahkan sebenarnya tari ini hanya merupakan variasi lain dari tari Pendet, namun pembendaharaan geraknya lebih banyak, diambil dari gerak-gerak tari upacara seperti Rejang. Tari Gabor biasanya ditarikan oleh dua orang penari wanita atau lebih. Tari ini diciptakan oleh I Gusti Raka (dari Saba) seorang dosen ASTI Denpasar pada tahun 1969. Tarian yang sejenis kemudian diubah oleh I Wayan Beratha guru SMKI Denpasar pada tahun 1970. Pada tahun 1972 I Wayan Beratha menciptakan tarian yang sejenis yang dinamakan tari Panyembrama

Tari Genjek 
Tari Genjek adalah salah satu jenis kesenian tradisional yang sampai saat ini masih berkembang di Karangasem. Seni Genjek ini awalnya merupakan salah satu seni karawitan, dimana penampilannya pada setiap kesempatan tidak terlalu banyak menggunakan berbagai jenis instrumen seperti yang terdapat pada seni kerawitan lainnya. Elemen yang paling dominan dipakai dalam seni Genjek ini adalah elemen suara (vocal) yang dikemas dalam bentuk tembang atau gending.
     Disamping terdapat beberapa alat musik lain yang dipakai sebagai pengiring, yang paling unik dalam penampilan seni Genjek ini adalah adanya sarana lain yang menyertai, yang berupa minuman khas Bali, yaitu tuak. Bermula dari acara kumpul-kumpul sambil minum arak dan tuak, beberapa orang yang sudah hilang kendali dalam artian mabuk, mereka mengeluarkan suara-suara yang tidak tentu dan akhirnya disahuti dengan yang lainnya. Kesan senang dan gembira terpancarkan dari cara mereka mengungkapkan kata-kata dengan berirama selayaknya sebuah lagu tersebut. Sebagian orang lainnya akan menirukan suara musik sebagai pelengkap dari genjek khususnya suara kendang dan kempul. Kreativitas pun terus berjalan dengan masuknya para wanita yang ikut menyanyi, supaya sahut-menyahut dalam lagu menjadi lebih hidup. Tiba-tiba masuk pula alat tabuh angklung bambu (gerantangan) yang biasa mengiringi tari joged. Maka seni genjek mengalami perjalanan yang demikian cepat, dari seni mabuk menjadi seni koor khas Bali dengan irama yang demikian enerjik. Apalagi unsur mabuknya kemudian berangsur dihilangkan, serta masuknya tarian joged yang membuat tarian ini semakin bervariasi.
Tari Gopala 
Kata Gopala ini berasal dari bahasa Kawi, yang artinya penggembala. Tari ini menggambarkan tingkah laku sekelompok penggembala Sapi di suatu ladang penggembalaan. Ditarikan oleh laki-laki juga (biasanya yang saya tahu laki-laki ya).
      Tari Gopala merupakan tarian yang bertemakan kerakyatan yang ditarikan sekelompok anak-anak atau remaja Putra, dimana tarian ini digarap oleh I Nyoman Suarsa sebagai penata tari dan I Ketut Gede Asnawa,MA sebagai penata tabuh, diambil dari penggalan cerita pragmentari : “STRI ASADHU” Karya Ibu Ketut Arini,S.St. Tarian ini diciptakan pada tahun 1983. Gopala adalah sebuah istilah dalam bahasa Kawi yang berarti penggembala sapi. Tarian ini merupakan tari kelompok, dan biasanya ditarikan oleh 4 sampai 8 orang penari putra. Dalam tarian Gopala ini menceritakan aktivitas yang dilakukan oleh para pengembala di ladang pertanian/sawah. Semua aktivitas tadi dituangkan kedalam bentuk garapan tari misalnya: gerakan binatang sapi, memotong rumput, menghalau burung, membajak sawah, menuai padi dan gerak lain-lainnya yang berhubungan dengan aktivitas petani. Gerak tersebut di atas di olah menjadi pola garap yang berbau baru dengan nuansa estetika kekinian. Gerakan tari ini menjadi hidup apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh dan semangat.

Tari Jauk 
Tari Jauk apabila ditinjau dari segi teknik gerak tarinya mirip sekali dengan tari Baris. Tetapi dalam tari Jauk ini penarinya menggunakan topeng Jauk dan gerakan tarinya bersifat improvisasi. Topeng Jauk selalu berwarna menyala atau putih serta dengan mata melotot yang penuh pandangan yang tajam sekali. Selain itu penari Jauk mengenakan sarung tangan yang berkuku panjang. Apabila tari Jauk dipertunjukkan dalam bentuk drama tari, yang cocok sekali ditarikan dengan tari Jauk ialah peranan Rahwana dan Bima. Usia tari Jauk kemungkinan besar sama dengan drama tari topeng yang lahir pada abad ke-XVII.
Tari Kecak 
Kecak (pelafalan: /'ke.tʃak/, secara kasar "KEH-chahk", pengejaan alternatif: Ketjak, Ketjack, dan Ketiak), adalah pertunjukan seni khas Bali yang diciptakan pada tahun 1930-an dan dimainkan terutama oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan "cak" dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Namun demikian, Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.
      Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa. Lagu tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang. Selain itu, tidak digunakan alat musik. Hanya digunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana. Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.

Tari Kupu–Kupu 

Tari Kupu-kupu melukiskan ketentraman dan kedamaian hidup sekelompok kupu-kupu yang dengan riangnya berpindah dari satu dahan ke dahan yang lain. Tarian ini merupakan tarian putri masal yang diciptakan oleh I Wayan Beratha pada tahun 1960-an.




Tari Legong Lasem (Kraton) 
Tari ini sudah cukup banyak yang mulai mengenal ya. Kalau yang suka naik travel Cipaganti (Jakarta-Bandung), pasti sering melihat di mobilnya ada gambar penari Bali dengan kostum tari Legong Lasem (Kraton). Hehe. Tarian ini berkisah tentang keinginan Raja Lasem untuk meminang Rangkesari, putri kerajaan Daha (Kediri), namun ia berbuat tidak terpuji dengan menculiknya. Mengetahui adiknya di culik, Raja Kediri menyatakan perangdan berangkat ke Lasem. Sebelum berperang, adipati lasem harus menghadapi serangan burung garuda, namun Ia berhasil melarikan diri tetapi kemudian tewas dalam pertempuran melawan Raja Daha. Seru ya. :). Tari ini adalah tari klasiknya Bali.
    Legong merupakan kelompok tarian klasik Bali yang memiliki pembendaharaan gerak yang sangat kompleks yang terikat dengan struktur tabuh pengiring yang konon merupakan pengaruh dari tari gambuh. Kata Legong berasal dari kata "leg" yang artinya gerak tari yang luwes atau lentur dan "gong" yang artinya gamelan. "Legong" dengan demikian mengandung arti gerak tari yang terikat (terutama aksentuasinya) oleh gamelan yang mengiringinya. Gamelan yang dipakai mengiringi tari legong dinamakan Gamelan Semar Pagulingan. Legong dikembangkan di keraton-keraton Bali pada abad ke-19 paruh kedua. Konon idenya diawali dari seorang pangeran dari Sukawati yang dalam keadaan sakit keras bermimpi melihat dua gadis menari dengan lemah gemulai diiringi oleh gamelan yang indah. Ketika sang pangeran pulih dari sakitnya, mimpinya itu dituangkan dalam repertoar tarian dengan gamelan lengkap. Sesuai dengan awal mulanya, penari legong yang baku adalah dua orang gadis yang belum mendapat menstruasi, ditarikan di bawah sinar bulan purnama di halaman keraton. Kedua penari ini, disebut legong, selalu dilengkapi dengan kipas sebagai alat bantu. Pada beberapa tari legong terdapat seorang penari tambahan, disebut condong, yang tidak dilengkapi dengan kipas. Struktur tarinya pada umumnya terdiri dari papeson, pangawak, pengecet, dan pakaad.
      Dalam perkembangan zaman, legong sempat kehilangan popularitas di awal abad ke-20 oleh maraknya bentuk tari kebyar dari bagian utara Bali. Usaha-usaha revitalisasi baru dimulai sejak akhir tahun 1960-an, dengan menggali kembali dokumen lama untuk rekonstruksi.
Tari Manukrawa 
Kalau merujuk pada kata ‘manuk’, pasti sudah bisa menebak bahwa tari ini berhubungan dengan burung. Ya, tari ini menggambarkan sekelompok burung rawa-rawa yang sedang bercanda ria sambil mencari makan. Tari ini biasanya untuk anak kecil, bukan unuk dewasa. Secara, tarian ini ada jongkok-berdiri nya, dan lumayan capek. Kalau orang dewasa, nanti encok-encok. Hehe. Saya pribadi, sangat menyukai tarian ini, karena gamelannya asyik sekali. Gerakannya juga lucu-lucu. Setahu saya, sebelumnya tari ini dulunya adalah bagian dari tari Sendratari Mahabrata. Yang pasti ini, nari ini harus berkelompok.

Tari Margapati 
Tarian ini agak mirip dengan Panji Semirang. Tapi ceritanya berbeda. Tarian ini menggambarkan seorang pemuda yang sangat gagah berani dan pantang menyerah, dan dilukiskan sebagai raja binatang (Singa). Saya suka tarian ini, terutama dalam memainkan mata. Banyak melototnya kalau disini. Gerakannya tegas sekali. Margapati ini berasal dari kata ‘mrega’ yang artinya binatang, dan ‘pati’ yang artinya mati. Di tarian ini terdapat gerakan-gerakan yang mencerminkan bahwa si raja hutan sedang mengintai dan siap membinasakan mangsanya. Biasanya ditarikan oleh wanita. sehingga wanita bisa juga jadi gagah.
Tari Pendet 
Tarian ini sudah pasti tidak asing lagi ya di telinga Tari ini biasanya (dan memang selalu) diajarkan paling pertama kali jika kita ingin belajar tari Bali, karena tari Pendet ini semacam basic untuk bisa menari tarian yang lainnya. dalam tarian ini, kalian akan mempelajari gerakan-gerakan dasar tari Bali. Tari Pendet ini ditarikan sebagai tari selamat datang untuk menyambut kedatangan para tamu dan undangan dengan menaburkan bunga, dan ekspresi penarinya penuh dengan senyuman manis. Namanya juga menyambut.
     Pada awalnya, tarian ini ditujukan untuk ibadah di pura, yang melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke dunia. Tari Pendet diciptakan oleh dua orang maestro tari Bali yaitu I Wayan Rindi dan Ni Ketut Reneng pada tahun 1950. Pada awalnya tari Pendet merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura, tempat ibadah umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Menurut tradisi Bali, para penari Pendet haruslah gadis yang belum menikah, karena dalam tarian tersebut mereka membawa saji-sajian suci untuk para dewa. Namun lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah tari Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Pencipta/koreografer bentuk modern pada tari ini adalah I Wayan Rindi pada tahun 1967.
     Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis. Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik. Tari putri ini memiliki pola gerak yang lebih dinamis daripada Tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan. Biasanya ditampilkan setelah Tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan, dan perlengkapan sesajen lainnya. Adapun orkes gamelan yang mengiringi tari Pendet ini ialah gamelan gong, atau gamelan palegongan, atau gamelan semar pagulingan. Tari Pendet merupakan tarian masal yang bisa dibawakan oleh empat penari, enam penari, delapan atau lebih.

Tari Puspanjali 
Tarian ini merupakan tarian yang gemulai, tarian yang merupakan tarian penyambutan yang ditarikan oleh sekelompok puri. Gerakannya lembut banget, ritmis, dan dinamis. Tarian ini banyak mengambil inspirasi dari tarian-tarian upacara (rejang). Untuk tarian ini, sampai Ibu-Ibu pun bisa kok menari ini. Karena memang gerakannya lembut banget. Sangat-sangat feminim, bahkan kalau menurut saya, lebih feminim daripada tari Pendet. Hehe. Oh, iya. Tari ini hanya sebentar sekali durasinya. Bahkan mungkin yang paling cepat diantara tari-tari Bali lainnya. Kurang lebih 5 menit saja.
       Puspanjali (puspa = bunga, anjali = menghormat) merupakan sebuah tarian penyambutan yang ditarikan oleh sekelompok penari putri (biasanya antara 5-7 orang). Menampilkan gerak-gerak lembut lemah gemulai yang dipadukan dengan gerak-gerak ritmis yang dinamis, tarian ini banyak mengambil inspirasi dari tarian-tarian upacara Rejang, dan menggambarkan sejumlah wanita yang dengan penuh rasa hormat menyongsong kedatangan para tamu yang datang ke pulau mereka. Tari ini diciptakan oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem (penata tari) dan I Nyoman Windha (penata tabuh pengiring) pada tahun 1989.

Tari Rejang 
Tari Rejang merupakan tarian wanita yang berbentuk tarian masal. Tari ini juga merupakan tarian sakral dan yang menjadi persembahan kepada para dewa ialah para penari itu sendiri. Maka dari itu para penari Rejang haruslah gadis-gadis yang masih suci, bahkan sering dilakukan oleh gadis kecil yang berumur enam tahun. Para penari dipimpin oleh seorang pemangku yang menari paling depan. Di belakang pemangku para penari Rejang berderet-deret menari sambil memegang seutas benang yang dibawa oleh pemangku. Para penari Rejang terkadang menggunakan kipas dalam tarian tersebut, namun sering juga tidak. Irama pada tarian Rejang lambat sekali dan gerakan tarinya juga sangat sederhana. Sehingga tiap gadis Bali dapat melakukannya. Tarian ini diadakan dipura pada malam hari. Iringan gamelannya menggunakan gamelan semar pagulingan.

 Tari Tenun 
Tenun, tahukah anda? tarian ini menggambarkan putri-puri Bali yang sedang menenun secara tradisional. Gerakan-gerakannya memvisualisasikan proses memintal benang hingga menjadi kain. Seru kan? Gerakannya disini cukup detil. Kalau tarian ini, terlihat sekali bagaimana lentiknya jari-jari si penari Bali. Secara, gerakan-gerakan untuk memvisualisasikan menenun ini lebih bermain pada jari.
      Tari Tenun merupakan tari kreasi baru yang diciptakan oleh dua orang seniman tari yaitu, Nyoman Ridet dan Wayan Likes pada tahun 1957. Cerita yang diangkat dalam tari Tenun ini menggambarkan tentang penenun-penenun wanita dari desa yang sedang membuat kain tenun dengan alat-alat yang sangat sederhana sekali. Tari ini dimulai sejak para penenun mulai memintal benang, mengatur benang pada alat tenun dan diakhiri dengan menenun. Sebagian gerak-gerak dalam tari ini masih mengacu pada unsur-unsur tarian klasik, namun sebagian lagi telah ditambahkan dengan gerak-gerak imitatif. Gerak-gerak imitatif tersebut terlihat pada saat penenun mengerjakan pekerjaannya, misalnya sedang memintal benang dan menenun.

Tari Trunajaya 
Tarian ini berasal dari Bali Utara yang melukiskan gerak-gerik seorang pemuda yang menginjak dewasa dan sangat emosional. Tarian ini semula diciptakan oleh Pak Wandres dalam bentuk Kebyar Legong dan akhirnya disempurnakan oleh I Gde Manik. Tarian ini bisa juga kok ditarikan oleh perempuan. Hehe. Gerakannya juga lumayan kompleks.

Tari Wiranata 
Tari ini menggambarkan kisah seorang perwira kerajaan yang oke punya dan gagah banget, dimana terlukis dalam gerak-geriknya yang dinamis dan penuh keagungan.

Tari Wirayuda 
Kalau tarian ini adalah tarian kreasi baru yang menggambarkan ketangkasan olah senjata para prajurit dalam menghadapi peperangan. Nah, kalau tari ini, ditarikan oleh laki-laki 3-5 orang juga cukup, dengan bersenjatakan tombak.

       Itulah beberapa tarian tradisional dari Bali yang khas dan memiliki nilai keindahan tersendiri. Semoga seni tari dari Bali ini tetap lestari dan abadi.

Sunday, January 25, 2015

Gambar Tari Pendet dari Bali

Bali merupakan salah satu propinsi yang tersoroh dengan keanekaragaman kebudayaan dan eksotisme tempat wisata yang dimilikinya. Bali mempunyai beberapa kesenian tari yang sudah mendunia popularitasnya. Selain Tari Kecak, Tari Pendet merupakan salah satu kesenian yang sudah tak asing lagi bagi para pelancong lokal maupun manca negara. Tari ini secara rutin dipentaskan dan menjadi hiburan bagi para wisatawan.

Tari Pendet sendiri merupakan sebuah pernyataan dari persembahkan yang di tuangkan dalam bentuk kesenian tari. Menajdi semakin populer karena kesenian ini sangat mudah di tarikan oleh semua orang dan tidak perlu dengan latihan yang intensif.


Menurut sejarah tarian ini dulunya diciptakan oleh seorang Maestro yang berasal dari bali yaitu I Wayan Rindi pada Tahun 1967. Dahulunya tari pendet merupakan tarian yang bersifat sakral dan hanya di pentaskan di Pura pada saat ada ritual keagamaan tertentu. Oleh I Wayan Rindi seni tari ini di ubah menjadi kesenian yang dapat dipentaskan tidak hanya pada setiap ritual keagamaan.

Tarian ini dibawakan oleh beberapa orang remaja putri yang dalam menarikannya membawa mangkuk dari perak dimana di dalamnya diisi penuh dengan Bunga. Pada akhir pementasan, bunga yang berada di dalam mangkuk perak itu nantinya akan di taburkan oleh para penari kepada para penonton sebagai ucapan selamat datang. Oleh karena itu Tari Pendet sering disebut sebagai tari penyambutan.

Wednesday, November 26, 2014

Tarian Tradisional Sanghyang Yang Sakral Asal Bali


Masyarakat Bali mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu. Mereka sangat percaya dengan adanya roh jahat dan roh halus serta alam yang memiliki kekuatan berbau magis. Untuk menetralkan dan mengimbangi keadaan ini, masyarakat Bali pun melakukan upacara yang diiringi dengan tarian-tarian yang religius, salah satunya adalah Tari Sanghyang. Tari ini biasanya ditarikan dalam upacara-upacara sakral dan berfungsi sebagai pelengkap upacara yang digunakan untuk mengusir wabah penyakit di daerah tertentu.

Tarian ini tidak dapat dinikmati sewaktu-waktu dan di sembarang tempat. Tari ini berbeda dengan tari yang sudah dimodifikasi menjadi pertunjukan umum seperti tari legong, tari baris, tari barong kecak, dan tarian lainnya. Tarian Sanghyang terdiri dari beberapa jenis di antaranya adalah Sanghyang Dewa, Sanghyang Dedari, Sanghyang Dangklik, Sanghyang Deling, Sanghyang Celeng, Sanghyang Penyalin, Sanghyang Bumbung, Sanghyang Medi, Sanghyang Sengkrong, Sanghyang Janger, Sanghyang Kidang, dan Sanghyang Jaran.

Tari ini pada dasarnya berfungsi untuk mengusir penyakit yang sedang menyerang suatu daerah atau desa. Selain itu, tari ini juga bisa menjadi sarana pelindung suatu daerah terhadap ancaman kekuataan magis yang jahat. Tari ini adalah sisa-sisa budaya pra-Hindu dan biasa ditarikan oleh dua penari. Penari dalam tarian ini adalah gadis yang masih kecil dan masih suci. Menjadi penari Sanghyang tidaklah mudah karena mereka juga harus melakukan beberapa pantangan misalnya tidak boleh berkata kotor, tidak boleh mencuri, bohong, dan melewati bawah jemuran pakaian. Mereka juga harus mengikuti tata tertib dan petunjuk yang sudah ditentukan.

Pada saat menari, para penari tersebut dalam keadaan yang tidak sadar. Mereka seperti kerasukan roh.  Awalnya, penari dengan kerudung putih diasapi menggunakan kemenyan sambil diringi dengan nyanyian suci untuk upacara awal. Agar dua penari tersebut tidak terjatuh saat tidak sadar, ada dua orang wanita yang menjaganya. Kerudung putih pada penari akan dibuka setelah penari kehilangan kesadaran. Saat tidak sadar tersebut mereka menari-nari. Mereka kadang menari di atas bara api. Selanjutnya, mereka dibawa berkeliling desa untuk mengusir wabah. Atraksi ini umumnya dilakukan pada malam hari hingga tengah malam.

Pengertian tentang Tari Sanghyang di Bali ada beberapa jenis. Bahkan, di setiap kabupaten dan desa juga memiliki ciri khas tarian masing-masing. Contohnya pada jenis Sanghyang Dedari. Tarian ini biasanya ditarikan oleh dua orang gadis melalui upacara pengasapan dan diingiri dengan kecak atau nyanyian. Dalam keadaan tidak sadar, para penari diarak menggunakan peralatan seperti tandu. Di Pesangkan, Karangasem, tari ini memiliki variasi lain yakni dua penari tadi menari-nari di atas sebuah bambu yang dipikul. Sementara itu, di Kabupaten Bangli berbeda lagi. Penari Sanghyang di sana menari di atas pundak laki-laki. Tari seperti ini kadang juga disebut sebagai Sanghyang Dewa.

Pada Sanghyang Deling, kedua penari membawa deling atau boneka yang terbuat dari lontar. Deling ini dipercaya dapat dirasuki roh suci kemudian diarak berkeliling sambil menari. Dulu, tarian ini berkembang di sekitar danau Batur. Iringan atau gamelan yang digunakan hanya gendang dan seruling. Sayangnya, tarian ini sekarang sudah tidak ditemui lagi di daerah tersebut. Tetapi, tarian serupa masih bisa dijumpai Tabanan tetapi memiliki nama lain yaitu Sanghyang Dangkluk. Selain itu, ada juga tarian Sanghyang yang menggunakan rotan sehingga tarian ini dikenal sebagai Sanghyang Penyalin. Jika pada Tari Sanghyang umumnya ditarikan oleh dua orang gadis, penari tarian ini adalah seorang laki-laki. Penari tersebut akan mengayun-ayunkan rotan dalam keadaan tak sadar.

Sunday, November 2, 2014

Tari Sanghyang Dianggap Sakral di Masyarakat Bali

Image : Tari Sanghyang Dianggap Sakral di Masyarakat Bali
TARI SANGHYANG, TARI UPACARA YANG DIANGGAP SAKRAL DI MASYARAKAT BALI
Masyarakat Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu sangat percaya adanya roh halus dan jahat serta alam yang mengandung kekuatan magis. Untuk mengimbangi dan menetralisir keadaan tersebut masyarakat mengadakan upakara (upacara) yang dilengkapi dengan tari-tarian yang bersifat relegius antara lain Tari Sanghyang yaitu suatu tari upacara sakral yang berfungsi sebagai pelengkap upacara untuk mengusir wabah penyakit yang terdapat di suatu daerah tertentu.
Dalam keadaan sehari-hari, tari-tarian tradisional yang sakral seperti itu tidak dapat dinikmati di sembarang tempat dan waktu, berbeda halnya dengan tarian yang sudah dimodifikasi menjadi tontonan umum seperti tari barong, legong, baris, tari kecak dan sebagainya.
Tari Sanghyang ada beberapa jenisnya antara lain Sanghyang Dedari, Sanghyang Dewa, Sanghyang Deling, Sanghyang Dangkluk, Sanghyang Penyalin, Sanghyang Celeng, Sanghyang Medi, Sanghyang Bumbung, Sanghyang Kidang, Sanghyang Janger, Sanghyang Sengkrong dan Sanghyang Jaran.
Secara umum Tari Sanghyang berfungsi untuk mengusir wabah penyakit yang sedang melanda suatu desa (daerah) ataupun sebagai sarana pelindung terhadap ancaman dari kekuatan magis hitam (black magic). Tari yang merupakan sisa-sisa kebudayaan pra Hindu ini biasanya ditarikan oleh dua gadis yang masih kecil (belum dewasa) dan dianggap masih suci. Mereka, calon penari Sanghyang harus menjalankan beberapa pantangan, seperti tidak boleh lewat di bawah jemuran pakaian, tidak boleh berkata jorok dan kasar, tidak boleh berbohong, tidak boleh mencuri dan sebagainya, serta harus mengikuti petunjuk dan tata tertib desa yang telah ditentukan.
Penari Sanghyang pada waktu menari tersebut dalam keadaan tidak sadar (in trance) seperti kemasukan roh. Mula-mula calon penari dengan kerudung putih kepalanya diasapi dengan kemenyan dan nyanyian suci mengalun mengiringi upacara awal. Untuk menjaga agar dua penari ini tidak jatuh ketika memasuki alam tidak sadar, ditugaskan dua orang wanita. Kerudung putih akan dibuka setelah penari tadi sudah nadi (kehilangan kesadaran). Dalam keadaan seperti inilah mereka menari-nari, kadang-kadang di atas bara api dan selanjutnya keliling desa dengan maksud mengusir wabah penyakit. Biasanya atraksi ini dilakukan pada malam hari sampai tengah malam.
Image : Tari Sanghyang Dianggap Sakral di Masyarakat Bali

Di Bali pengertian mengenal Tari Sanghyang ada beberapa jenis. Setiap kabupaten bahkan juga desa mempunyai ciri khas masing-masing. Misalnya pada jenis Tari Sanghyang Dedari, umumnya ditarikan oleh seorang atau dua gadis kecil, melalui upacara pedudusan (pengasapan) yang diiringi dengan nyanyian atau kecak dengan musik gending pelebongan. Dalam keadaan tidak sadar penari Sanghyang diarak memakai peralatan yang lazimnya disebut joli (tandu). Di Desa Pesangkan, Karangasem ada variasi lain yaitu dua gadis penari tadi menari di atas sepotong bambu yang dipikul, sedang di Kabupaten Bangli penari Sanghyang menari di atas pundak seorang laki-laki, Jenis tari Sanghyang seperti ini juga dikenal dengan nama Tari Sanghyang Dewa. Mungkin tingkatan dedari (bidadari) dan dewa dalam hal ini dianggap sama
Selain itu dikenal juga dengan nama Tari Sanghyang Deling. Tari ini ditarikan oleh dua gadis dengan membawa deling (boneka dari daun lontar) yang dipancangkan di atas sepotong bambu. Deling ini dianggap dapat kemasukan roh suci lalu diarak sambil menari. Sanghyang Deling dulu terdapat di sekitar danau Batur. Gamelan (musik) yang dipergunakan sangat sederhana yaitu hanya seruling dan gendang. Sekarang tarian ini sudah tidak dijumpai lagi di tempat tersebut. Namun demikian tarian yang hampir sama dengan Sanghyang Deling dapat dijumpai di Tabanan dan diberi nama Sanghyang Dangkluk
Ada pula Tari Sanghyang yang mempergunakan rotan sehingga disebut Sanghyang Penyalin (penyalin berarti rotan). Tari ini ditarikan oleh seorang laki-laki dan sambil mengayun-ayunkan sepotong rotan panjang dalam keadaan tidak sadar
Di Desa Pesangkan dan Duda. Karangasem ada lagi jenis Tari Sanghyang yang digemari oleh anak-anak, yang disebut Sanghyang Celeng (celeng "berarti, babi). Tarian ini ditarikan oleh seorang anak-laki yang berpakaian serat ijuk berwarna hitam. Ia menari dan mnirukan gerakan-gerakan jalannya seekor babi, berkeliling desa dengan maksud mengusir roh jahat yang mengganggu ketenteraman desa. Dalam jenis yang sama di Bali utara dikenal juga Tari Sanghyang Memedi (memedi berarti mahluk halus). Penarinya berpakaian istri daun atau pohon padi sehingga menyerupai memedi. Penari Sanghyang Memedi juga menari dengan tidak sadarkan diri setelah diisapi dengan kemenyan.
Di Desa Sanur Denpasar yang juga dikenal dengan pantainya yang indah mempunyai Tari Sanghyang yang hanya ditarikan pada malam bulan purnama yang disebut dengan Sanghyang Bungbung, dengan mempergunakan potongan bambu yang diberi lukisan orang sebagai pelengkap. Tari ini ditarikan oleh seorang wanita yang juga dalam keadaan tidak sadar
Jenis Tari Sanghyang lainnya yaitu Sanghyang Kidang, yang hanya dijumpai di Bali utara, ditarikan oleh seorang wanita. Dalam keadaan tidak sadar penari menirukan gerakan-gerakan seekor kidang (kijang). Tarian ini diiringi dengan nyanyian bersama tanpa mempergunakan alat musik.
Tari Sanghyang yang sudah mengalami perkembangan dan perubahan yang sudah dikenal luas sampai sekarang adalah Sanghyang Janger. Dulu tarian ini ditarikan dalam keadaan tidak sadar dan bersifat sakral, namun kemudian mengalami perubahan dan menjadi Tari Janger yang diiringi dengan cak. Tari ini dapat disaksikan luas seluruh pelosok Pulau Dewata dengan makna yang sudah berbeda.
Tari Sanghyang yang juga dikenal luas di Bali adalah Sanghyang Jaran. Penyebarannya hampir pada setiap kabupaten. Penarinya biasanya terdiri dari dua laki-laki. Bentuk kuda yang dipergunakan bervariasi. Di Bali selatan terbuat dari kayu dan rotan dengan ekor pucuk kelapa dan penari meniru gerakan kuda dalam keadaan tidak sadar. Di Bali utara penarinya memakai topeng kuda dan diiringi dengan kecak.
Di tengah derasnya arus kebudayaan asing yang melanda pulau Bali, beberapa Tari Sanghyang di beberapa tempat pada masyarakat Bali masih diyakini membawa mujizat dan keselamatan. Sementara itu para seniman juga cukup jeli mengembangkan dan menggali tari-tari tradisional yang disakralkan menjadi tari yang dapat dinikmati sebagai hiburan tanpa harus kesurupan.

Filosofi Tari Manukrawa Asal Bali

Image : Tari Manukrawa Asal Bali

Tarian manuk rawa pertama kali diciptakan pada tahun 1981 oleh I Wayan Dibia (koreografer), dan I Wayan Beratha (komposer). Sebelum menjadi sebuah tari lepas, tari Manukrawa merupakan bagian dari sendratari Mahabharata Bale Gala-Gala karya tim sendratari Ramayana/Mahabharata Propinsi Bali yang ditampilkan dalam Pesta Kesenian Bali tahun 1980. Komposisi tari manuk rawa : Tarian yang dibawakan oleh sekelompok (antara 5 sampai 7 orang ) penari wanita ini merupakan tarian kreasis baru yang menggambarkan perilaku sekelompok burung (manuk) air (rawa) sebagaimana yang dikisahkan didalam cerita Wana Parwa dari Epos Mahabharata.
Dari Sejarah tari Manukrawa, Gerakan nya diambil dari tari klasik Bali yang dipadukan dengan gerakan tari dari Jawa dan Sunda, yang telah dimodifikasikan sesuai dengan tuntutan keindahan.
Filosofi
Seperti halnya tari Cendrwasih dan Tari Belibis dari Bali. Tarian Manukarawa terinspirasi dari burung Manukrawa sendiri.Manukrawa diambil dari kata Manuk yang artinya burung. Jadi manukrawa adalah burung yang hidup di rawa. Maka tidak heran jika tari Manukrawa menyerupai gerakan Manukarawa.Sebelum menjadi sebuah tari lepas, tari Manukrawa merupakan bagian dari sendratari Mahabharata Bale Gala-Gala  karya tim Sendratari Ramayana/Mahabharata Propinsi Bali yang ditampilkan dalam Pesta Kesenian Bali tahun 1980.
Tarian dan gerakan
Tarian ini menggambarkan sekelompok burung rawa-rawa yang sedang bercanda ria sambil mencari makan. Tari ini biasanya dipertunjukan atau dimainkan oleh anak kecil, bukan unuk dewasa. Dari segi gerakan tarian Manukarawa lebih banyak jongkok-berdiri.
Tujuan
Jika dilihat dari penari yang dilakukan oleh anak-anak, tidak seperti tari Bali lainnya yang cendrung dimainkan oleh orang dewasa dan mempunyai nilai magis, begitupun fungsionalitanya tidak sembarang dan pertunjukannyapun tidak dilakukan sembarang, hanya di hari-hari tertentu saja.Tari Manukwara sendiri tidak ada tujuan khusus. Secara umum tari Manukrawa hanya sebagai hiburan semata bagi anak-anak. Disamping sebagai media pembeljaran untuk mengenal burung manukrawa sendiri juga sebagai menganal mengenal tradisi Bali. Bagi saya sendiri sebagai penulis, tidak mungkin seoarang anak memainkan tari Kecak, Tari Pendet.
sumber : kebudayaanindonesia.net

Sejarah Tari Kupu-Kupu atau Tarum

Image : Tari Kupu-Kupu atau Tarum Asal Bali

Tari kupu-kupu atau tari kupu-kupu tarum adalah salah satu dari sekian banyak tarian yang berasal dari Bali. Keberadaan Bali dalam sisi seni budaya, keindahan alam dan religiusitasnya telah diakui dan dikenali oleh masyarakat Internasional. Maka tak heran jika banyak budayawan dan seniman Bali yang terkenal dalam pentas dunia seni internasional.
Menurut catatan sejarah tarian Bali, tari kupu-kupu diciptakan oleh diciptakan oleh I Wayan Beratha pada tahun 1960-an.  I Wayan Beratha adalah seniman Tari Bali yang lahir pada tahun 1926, di Banjar Belaluan Denpasar. Kini ia menetap di Banjar Abian Kapas Kaja. I Wayan Beratha hidup dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga seniman Bali. Kakeknya, I Ketut Keneng (1841-1926) juga adalah seniman Bali yang besar pada zamannya. Kakeknya adalah seorang ahli karawitan dan pagambuhan. Karena kebesaran nama dan karyanya, hampir sebagian besar kehidupan Pekak (Kakek) Kenengnya diabdikan untuk keluarga Puri Denpasar, sebagai seniman kesayangan Raja I Gusti Agung Ngurah Denpasar hingga Perang Puputan Badung meletus tahun 1906. Maka pantaslah darah seniman besar mengalir dalam I Wayan Beratha dan menciptakan karya-karya besar bagi masyarakat Bali dan Indonesia.
Tarian kupu-kupu adalah jenis tarian grup putri yang dimainkan oleh lima orang perempuan atau lebih. Tarian ini menggambarkan kupu-kupu berwarna biru tua atau tarum yang sedang terbang dan hinggap dari satu bunga ke bunga lainnya.
Secara filosofis, tarian kupu-kupu adalah penggambaran keindahan, kedamaian dan eksotoknya pulau Bali. Gerakan yang gemulai dengan komposisi gerak yang dinamis dan menawan, menjadikan tarian kupu- sedikit berbeda dengan nuansa yang diciptakan oleh tarian Bali pada umumnya sehingga lebih terkesan nuansa damai saat menontonya. Serta perpaduan warna kostum antara kain berwarna gelap dan terang seperti biru, kuning emas, dan hijau tua serta mahkota yang berkilauan dengan pernak-pernik keemasan, menggambarkan keindahan dalam kontrasnya perbedaan. Seperti keindahan alam, kondisi sosial, ragam karya seni, budaya serta keyakinan masyarakat Bali yang bersatu dalam keharmonisan gerak. Iringan musiknya pun, meski dengan alat yang sama yakni gamelan Bali, ada harmoni nada dengan birama yang lembut. Tidak menghentak-hentak seperti tari kecak.
Pemaknaan terhadap tarian kupu-kupu di atas, adalah cerminan dari cara berpikir Beratha yang mempunyai pandangan sangat terbuka, ia berusaha membuang fanatisme kedaerahan meski tidak sepenuhnya meninggalkan kekhasan budaya Bali. Dari segi seni karawitan, pada tahun 1957 - 1959, ia mulai menyadap pembauran warna gambelan yang meretas jauh pola-pola kedaerahan. Pola-pola ini menurutnya disebabkan oleh adanya kompetisi di zaman raja-raja yang berlangsung hingga zaman penjajahan. Maka ia memberanikan diri mempelajari karawitan Bali Utara dan mengajarkan karawitan Bali Selatan di seluruh Bali. Kemudian bersama I Cede Manik, I Wayan Beratha menjadi jembatan antara  gaya seni karawitan \"Bali Selatan dan Utara yang tentunya tercermin dan setiap tarian yang diciptakannya.
Apa yang dilakukan oleh Wayan Beratha terhadap kebudayaan Bali, bukan sebuah upaya perusakan tradisi atau melunturkan keadiluhungan seni tradisional, melainkan sebuah kebaruan agar kesenian tradisional di Bali menemukan dunianya yang beriringan dengan perkembangan jaman. Seperti yang telah kita saksikan dalam tarian kupu-kupu ciptaannya.

Wednesday, October 22, 2014

Filosofi Tari Belibis Asal Bali

Image : Tari Belibis Asal Bali

Kemunculan Tari Belibis Berbeda dengan tarian lainnya yang  ada di daerah Bali seperti cendrawasih, kecak, topeng, manukrawa. Dalam tarian belibis ada dua orang yang terlibat, dan dua orang tersebut berbeda komposisi. Pertama Swasthi Wijaya Bandem sebagai koreografer dan I Nyoman Windha sebagai komposernya. Tari belibis dibawakan oleh 7 orang perempuan.

Filosofi
Ada beberapa versi tarian Belibis diantaranya:

  1. Menggambarkan kehidupan sekelompok burung belibis yang dengan riangnya menikmati keindahan alam. Mereka tiba-tiba dikejutkan oleh munculnya seekor burung belibis jadi-jadian yang merupakan penjelmaan dari Prabu Angling Dharma setelah terkena kutukan dari istrinya yang sakti (dalam cerita Tantri).
  2. Dalam pengembaraannya, Angling Dharma bertemu dengan seorang putrid raksasa pemakan manusia. Raksasa merasa khawatir rahasianya diketahui oleh Angling Dharma, dikutuklah Angling Dharma menjadi seekor burung Belibis yang hidup di air.
  3. Mengisahkan Prabu Angling Dharma yang dikutuk istrinya menjadi seekor burung belibis. Dalam pengembaraannya, ia bertemu dengan sekawanan burung belibis, namun ia tidak diterima dalam kelompok itu karena bisa berbicara seperti manusia.
Dari beberapa filosofi, pada dasarnya tarian belibis terinspirasi dari burung belibis. Mungkin karena orang Bali gemar mengapresiasi dari jenis-jenis burung serta tingkah burung tersebut untuk ditiru ke dalam tarian sehingga menjadi insprisi menciptakan kreasi tarian baru. Maka dari itu terciptalah tarian seperti Tari Belibis, Cendrawasih dan lain-lain.

GerakanTari
Gerak tari ini menunjukkan penampilan yang menarik dan harmonis dengan gamelan yang mengiringinya.Tarian ini mempunyai sayap sehingga gerakannya yang menyurapi burung belibis hampir mendekati sempurna.

Wednesday, October 8, 2014

Kesamaan Tari Magebug dan Mekare Asal Bali

Image : Tari Magebug dan Mekare Asal Bali (kebudayaanindonesia.net)

Tari Magebug dan Mekare merupakan dua tari tradisional yang hampir sama. Seperti halnya olahraga tinju, Magebug dan Mekare mencari sasaran bagian tubuh lawan untuk memenangkan pertandingan. Yang membedakan dengan pertandingan tinju mungkin alat pemukul dan musik yang selalu mengiringi, sehingga bentuknya pun inukul dan musik yang selalu mengiringi, sehingga bentuknya lebih dikenal dengan tarian. Megebug mempergunakan rotan sebagai alat pemukul sedangkan Mekare mempergunakan seikat pohon pandan berduri. Sebagai alat pelindung, setiap penari (pemain) dibekali dengan sebuah perisai. Sehingga tari ini dapat digolongkan sebagai tari perang.
Magebug dikenal di Desa Seraya dan Mekare dikenal di Desa Tengan Pegringsingan. Desa Seraya terletak di ujung timur pulau Bali termasuk dalam Kecamatan Karangasem. Sedang Desa Tenganan, sebuah desa kuno yang sudah cukup dikenal terletak di Kabupaten yang sama dan juga tidak jauh dari kota Amlapura. Mungkin karena dikelilingi oleh bukit-bukit kecil dan tanah yang tandus, tari yang "keras" ini tetap disukai di tempat tersebut.
Tari Magebug hanya berkembang di Desa Seraya, tidak di Desa-desa lain di sekitarnya, hal ini menunjukkan bahwa seni Magebug bukan seni asli Bali. Kerajaan Karangasem pernah memerintah di Lombok, sehingga diperkirakan seni Magebug ini berasal dari Lombok.
Sedangkan di Lombok permainan sejenis Magebug berkembang dengan baik dan dikenal dengan nama perisean. Sedang tari makare di Desa Tenganan diperkirakan ada hubungan dengan tabuh rah (upacara meneteskan darah ke bumi). Hal ini dihubungkan karena ternyata diselenggarakan bila ada upacara-upacara khusus.Sebagai tari perang, baik Magebug maupun Mekare juga berfungsi sebagai latihan ketangkasan dan keberanian.
Berkaitan dengan ketangkasan dan keberanian ini kemudian muncul usaha-usaha menuju arah kekebalan, Orang-orang yang membawa kekebalan baik berupa jimat maupun lainnya percaya bahwa dirinya tidak akan sakit walau terkena pukulan sekeras apapun.
Suasana adu kekebalan akan tampak manakala jagoan yang akan bertanding berasal dari beberapa desa. Hal ini terjadi pada penyelenggaraan tari Magebug pada jaman dulu. Mereka bertanding ibarat maju berperang ke medan laga. Tentu saja dalam batas-batas etika permainan yang telah ditetapkan terlebih dahulu.
Saat ini Magebug di Karangasem tidak lagi merupakan tari yang senantiasa memperlihatkan unsur-unsur kekebalan. Kini Magebug sudah menjadi permainan hiburan yang dapat membawa suasana gembira, baik di desa asalnya di Seraya maupun di kota Amlapura.

Perang Pandan
Mekare di Desa Tenganan Pegringsingan dapat pula digolongkan sebagai tari perang. Yang unik dari Mekare ini adalah senjata yang dipergunakan. Kalau Magebug mempergunakan rotan, Mekare mempergunakan daun pandan berduri yang banyak tumbuh di sekitar desa. Masyarakat di Bali lebih mengenal makare ini dengan sebutan perang pandan.

Mekare sebagai tari perang masih menunjukkan unsur-unsur tari primitif. Gerakan-gerakannya masih monoton dan sederhana, pakaiannya terdiri dari kain dan pada ujung bawah (kancut) diciutkan ke belakang sehingga menyerupai celana pendek. Pengiring tarian ini terdiri dari musik selonding yang merupakan salah satu instrumen atau gamelan Bali yang tergolong tua. Jenis gamelan seperti ini sekarang hanya ada di beberapa desa di Bali.

Sama halnya seperti apa yang ada dalam Magebug di Desa Seraya, penggunaan kekebalan tetap ada. Karena itu pula, prajurit dari desa ini konon dikenal gagah berani ketika mengabdi kepada raja Karangasem. Saat ini tari makare sudah dikategorikan sebagai tari sakral yang hanya diselenggarakan pada waktu ada upacara saja.

Mekare hanya diselenggarakan pada sasih (bulan) ke lima (perhitungan bulan Bali), dalam rangkaian ngusaba sambah (upacara yang dilakukan secara berkala) di Desa Tenganan.

Sebelum dimulai perang pandan didahului dengan serangkaian upacara dan Mekare secara simbolis. Dari rangkaian upacara tersebut akan tampak bahwa Mekare berfungsi sebagai tari pelengkap upacara. Pada saat ini undangan juga disebarkan kepada desa-desa tetangga untuk ikut menyaksikan upacara tersebut.

Tatacara Magebug
Dalam seni tari Magebug beberapa pelaku yang memegang peranan antara lain, dua pria pemain terdiri dari anak-anak, pemuda, maupun orang tua. Dua orang atau lebih menjadi pakembar yang fungsinya kurang lebih sebagai pengatur pertandingan. Disamping itu ada pula enam orang yang bertugas memisahkan apabila terjadi suatu pelanggaran dalam pertandingan. Enam orang tersebut jongkok pada setiap sudut pertandingan dan setiap orang dilengkapi dengan perisai. Tugas enam orang ini disamping memisahkan pemain bila terjadi kericuhan, juga bertugas sebagai penjaga ketertiban penonton.
Biasanya suasana akan menjadi ramai karena setiap pakembar (orang yang mempertemukan) akan membawa suporter sendiri-sendiri.
Perisai dibuat dari kulit sapi berbentuk bundar dengan garis tengah kurang lebih 80 cm. Rotan (penyalin) dipilih yang cukup tua dan lurus, panjangnya kurang lebih 163 cm (dulu dipergunakan ukuran setinggi manusia dewasa). Pada jaman dulu rotan (penyalin) ini pada ujungnya diberi lapisan timah atau kekala (tahi lebah) yang dikeringkan. Pada saat itu Magebug masih dikaitkan dengan ilmu kekebalan sehingga diperlukan alat pemukul yang lebih berat. Saat ini hal tersebut sudah tidak tampak lagi dan unsur kekebalan sudah lama diabaikan. Magebug biasanya dilaksanakan siang hari di sembarang tempat yang dianggap enak, misalnya di bawah pohon rindang atau di tanah lapang.
Pakaian yang dikenakan: baju biasa, destar (alat penutup kepala dari kain), kain dan dodot (yang berfungsi sebagai ikat pinggang). Kain kemudian diikat agak tinggi (kurang lebih sedikit di atas lutut) agar kalau bermain tidak terinjak. Sedangkan alat gamelan yang mengiringi terdiri dari dua kendang, dua buah reong atau bonang, sepasang cengceng, satu kempul dan satu gong.
Bagi orang yang sudah keranjingan seni tari Magebug, begitu mendengar suara gamelan semangat mereka terbakar, ingin segera datang ke arena pertandingan. Ada kalanya pakembar sengaja menampilkan jago tua yang sudah beken sebagai permulaan untuk menarik minat penonton. Biasanya jago tersebut bentuk tariannya dianggap bagus.
Ada beberapa peraturan yang harus ditaati oleh pemain, antara lain tidak boleh melewati batas permainan, tidak boleh memukul di bawah pinggang, tidak boleh memukul dengan perisai, tidak boleh meruket (saling rangkul), tidak boleh memukul dengan sengaja jari lawan, tidak diperkenankan kain diciutkan ke belakang (karena dianggap kurang sopan) dan aturan-aturan lainnya.
Masing-masing pemain Magebug biasanya menunjukkan gayanya sendiri-sendiri, ada yang loncat-loncat dengan kaki satu dan ada pula yang melenggak-lenggok menggerakkan pinggang dan lain sebagainya.

Tatacara Mekare
Mekare yang waktunya sudah ditetapkan biasanya mengambil tempat di halaman Bale Agung, pelaksanaannya pada pukul 13.00-15.00. Alat yang dipergunakan adalah tameng (perisai) dibuat dari rotan, bentuknya lebih besar dari perisai Magebug. Senjatanya adalah seikat daun pandan berduri, dan diiringi dengan alunan seperangkat gamelan selonding. Pakaian yang digunakan hanya kain yang dililitkan ke belakang dan biasanya tanpa memakai baju.
Beberapa peraturan yang harus diikuti oleh pemain Mekare antara lain, dilarang menggores muka lawan, tidak diperbolehkan bergumul dan tidak diperkenankan memakai baju. Tidak seperti pada Magebug yang tidak menyediakan obat khusus, pada Mekare digunakan obat yang terdiri dari cuka, kunir, lengkuas, dan bangle. Ramuan ini dioleskan pada luka-luka. Gerakan-gerakan yang ditunjukkan pada Mekare sangat dan hampir sama dengan Magebug, hanya cara berpakaian yang tampak berbeda.
Dari tari tradisional ini khususnya Mekare di Tenganan telah mampu menjadi acara langka yang sangat digemari oleh wisatawan asing maupun domestik yang datang berkunjung ke Bali. Hal tersebu: terjadi bila tiba saatnya upacara yang dilengkapi Mekare diselenggarakan di desa Tenganan Pegringsingan.
Di mana-mana di seluruh pelosok Indonesia yang beraneka budaya ini terdapat tari-tarian yang unik dan menarik. Bukan mustahil pula hal ini akan menjadi pendukung yang baik bagi pengembangan wisata budaya di bumi Nusantara tercinta.
Posting Lama ►
 

Total Pageviews

Copyright 2013 Macam-Macam Tarian di Indonesia: Tari Asal Bali Template by Hand's. Powered by Blogger