Tuesday, November 11, 2014

Tarian Dero atau Madero Asal Sulawesi Tengah

Tari Dero atau Madero

Tarian Dero atau Madero adalah tarian yang berasal dari Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Tarian ini merupakan salah satu tradisi masyarakat Suku Pamona yang masih dipertahankan sampai saat ini. Suku Pamona adalah masyarakat asli Kabupaten Poso yang mendiami hampir seluruh wilayah kabupaten bahkan sampai ke sebagian wilayah kabupaten Morowali. Nenek moyang suku pamona sendiri berasal dari Luwu Timur daerah yang masuk ke wilayah provinsi Sulawesi Selatan. Suku Pamona adalah kesatuan dari beberapa etnis di wilayah Sulawesi tengah. Meskipun demikian masyarakat Suku Pamona hidup rukun dan berdampinagn. Hal ini tergambar dari salah satu kesenian yang berasal dari suku tersebut yaitu tari dero poso.
Bagi masyarakat Suku pamona, Tari Dero adalah tari yang melambangkan sukacita atau kebahagiaan. Tarian ini telah lama dipertahankan oleh masyarakat Poso khususnya masyarakat di yang tinggal di sepanjang lembah danau Poso. Bagi masyarakat setempat tarian ini adalah  bentuk rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh. Tarian ini sudah dikenal sejaka masyarakat mengenal bertani atau bercocok tanam sebagai mata pencaharian. Dahulu tarian ini lazim dilakukan oleh masyarakat di masa panen terutama panen padi.
Tarian ini cukup sederhana, biasanya dilakukan di daerah atau lapangan yang luas. ini dikarenakan jumlah peserta tarian ini tidak dibatasi. Tarian ini disebut juga dengan Tari pontanu atau sejenis tarian yang mengajak para penonton ikut menari. Siapapun yang mau mengikuti tari ini bisa bergabung tanpa harus memikirkan skill atau bakat. Untuk melakukan tarian ini tidak sulit, para penari membuat sebauah lingkaran sambil berpegangan tangan kemudian melakukan hentakan kaki dua kali ke kiri dan dua kali ke kanan. Gerakan-gerakan ini dilakukan sesuai dengan irama pantun yang saling bersahutan. Tarian ini juga diiiringi oleh hentakan alat music ganda yaitu alat music tradisional sejenis gendang dan ngongi yaitu alat music tradisional sejenis gong yang dimainkan oleh para pemuda dan orang tua.
Selain sebagai ungkapan rasa syukur terhadap hasil panen, masyarakat Poso juga menganggap tarian Dero sebagai wujud kerukunan dan persahabatan serta sebagai kesempatan untuk mendapatkan jodoh. Tarian ini juga bisa dianggap sebagai tarian pemersatu karena dalam tarian unsur-unsur diskriminasi, sentiment agama dan ras serta kelas social tidak dihiraukan. Dalam tarian ini semua orang dari berbagai latar belakang adalah sama, yang ada hanyalah perasaan sukacita dan rasa syukur yang sama-sama dirasakan oleh para penari Dero Poso.
Tari Dero sampai saat ini masih menjadi tradisi yang masih dipertahankan oleh masyarakat setempat. Seiring dengan perkembangan zaman, eksistensi Tari Dero juga masih bertahan sebagai aset kebudayaan dari kabupaten Poso. Kekinian, tari dero tidak hanya dapat disaksikan atau diikuti pada saat panen saja, tari Dero juga biasa dilakukan saat malam setelah pesta pernikahan atau pada acara-acara besar adat.

Alat musik yang dipergunakannya pun tidak harus ganda dan ngongi, alat music modern seperti organ tunggal atau electune juga bisa menjadi pengiring tari pemersatu ini. Walaupun masih ada, tari dero kini hanya bisa ditemukan di beberapa desa atau daerah saja di Kabupaten Poso itu pun tidak sering dilakukan, dalam  setahun mungkin hanya 3 atau 4 kali kali kita bisa mengikuti tari Dero. Konflik  dan perselisihan antar agama dan suku yang terjadi di kabupaten Poso menjadi salah satu alasan tari dero sulit dijumpai. Hal ini seolah menjadi ironi bagi kehidupan masyarakat Poso yang dahulu cinta damai dan terkenal dengan tari Dero nya. 

Pementasan Tari Telek di Banjar Adat Pancoran

Tari Telek

Tari Telek sampai saat ini masih dipentaskan secara teratur oleh sejumlah banjar/desa adat di Bumi Serombotan, Klungkung, seperti Banjar Adat Pancoran Gelgel dan Desa Adat Jumpai. Jenis tari wali ini merupakan tetamian (warisan) leluhur yang pantang untuk tidak dipentaskan. Warga setempat meyakini pementasan Telek sebagai sarana untukmeminang keselamatan dunia, khususnya di wawengkon (wilayah) banjar/desa adat mereka. Jika nekat tidak mementaskan Telek, itu sama artinya dengan mengundang kehadiran merana (hama-penyakit pada tanaman dan ternak), sasab (penyakit pada manusia) serta marabahaya lainnya yang mengacaukan harmonisasi dunia.
Keyakinan itu begitu mengkristal di hati krama Banjar Adat Pancoran, Gelgel dan Desa Adat Jumpai. Mereka melestarikan jenis kesenian ini dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi sehingga tak sampai tergerus arus zaman. Begitu kuatnya mereka menjaga tetamian leluhur ini, sampai-sampai seluruh pakem pada pementasan Telek dipertahankan secara saklek. Niki nak sampun ilu lan tetamian leluhur deriki. Sampun napetang. Tiang tan uning, ngawit pidan Telek deriki masolah (Kesenian Telek ini sudah ada sejak lama dan merupakan warisan leluhur.

Pantang tak Dipentaskan
Di Banjar Adat Gelgel, kata Pageh, Telek dipentaskan dua kali setahun yakni pada Buda Umanis Perangbakat (wali Ida Batara di Pura Dalem Guru, Pancoran) dan pada Buda Kliwon Paang (wali Ida Batara Gede). Kedua pementasan itu mengambil lokasi di jaba sisi Pura Dalem Guru. Setiap kali Telek dipentaskan, seluruh krama dipastikan menyaksikannya sekaligus memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pementasan Telek di Banjar Adat Pancoran, Gelgel sempat terputus beberapa tahun sebelum Gunung Agung meletus hingga tragedi berdarah G-30-S pecah. Dua tragedi besar itu sempat meluluhlantakkan kedamaian masyarakat di seluruh Bali. Guna mengembalikan kedamaian yang tercabik-cabik itu, para tetua di Banjar Adat Pancoran sepakat menggelar serangkaian upacara tolak bala. Salah satunya, menghidupkan kembali kesenian Telek yang mereka yakini sebagai sarana memohon keselamatan dunia-akhirat. Sejak saat itu, Telek kembali masolah (dipentaskan) hingga kini. Bahkan, pengempon Pura Dalem Guru sudah punya bhisama (kesepakatan) bahwa tari wali itu tetap harus masolah sampai kapan pun untuk menghindari kabrebehan (marabahaya).
Sementara di Desa Adat Jumpai, Telek dipentaskan setiap rahinan Kajeng Kliwon (lima belas hari sekali-red) serta piodalan di Pura Penataran Dalem Cangkring, Pura Taman Sari dan Pura Dalem Katulampa. Ini berarti, paling tidak tari wali ini dipentaskan sekitar 27 kali setiap tahunnya.

Sama dengan di Banjar Adat Pancoran Gelgel, krama Desa Adat Jumpai juga meyakini pementasan Telek ini sebagai sarana untuk memohon keselamatan segala makhluk bernyawa di dunia ini dari marabahaya. Ditegaskannya, pihaknya pantang tidak mementaskan tarian ini pada hari-hari yang telah ditentukan. Kecuali, jika di desa itu dalam waktu bersamaan sedang mengalami kecuntakan karena ada krama yang meninggal dunia. Krama tidak berani tidak mementaskan tarian ini. Jika itu dilanggar, kami yakin akan terjadi suatu bencana yang membuat ketenteraman kami terusik. Misalnya, berjangkit wabah penyakit dan sebagainya, katanya seraya menambahkan, pementasan Telek di Jumpai tidak pernah terputus, terus berlangsung dari generasi ke generasi.

Bertopeng Putih
Menurut Pageh dan Tabig, tarian Telek ini dibawakan oleh empat penari pria yang masih berusia anak-anak sampai memasuki masa truna bunga (akil balik-red). Keempat penari itu memakai topeng berwarna putih dengan karakter wajah yang lembut dan tampan serta diiringi gong kebyar tabuh bebarongan. Baik di Banjar Adat Pancoran maupun Desa Adat Jumpai, tarian ini tidak berdiri sendiri. Tetapi senantiasa dirangkaikan dengan tari Jauk, topeng Penamprat, Batara Gede (barong), Rarung dan Batara Lingsir (rangda). Seluruh unsur tarian itu berpadu membangun satu-kesatuan cerita yang utuh dengan durasi sekitar dua jam. Akhir pertunjukan diwarnai dengan atraksi narat/ngunying yaitu menusukkan keris ke dada penarat bersangkutan maupun ke dada Batara Lingsir.
Pageh maupun Tabig menuturkan, saat atraksi narat itu berlangsung, baik penarat dan pemunut rangda dalam kondisi kerawuhan (trance). Telek bukan merupakan tarian lepas. Seluruh pertunjukan itulah yang difungsikan untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan,\\\\\\\" ujar kedua tokoh sepuh itu.

Menurut Pageh, tidak ada ketentuan yang mengatur secara tegas batasan usia penari itu. Namun, Telek di Banjar Pancoran senantiasa dibawakan penari anak-anak sejak turun-menurun. Pasalnya, topeng dan gelungan (hiasan kepala-red) Telek itu memang dirancang seukuran wajah dan kepala anak-anak, sehingga orang dewasa tidak pas memakainya. Bahan baku topeng Telek menggunakan kayu pule yang juga lazim digunakan sebagai bahan baku tapakan (topeng) barong dan rangda. Topeng Telek ini merupakan tetamian leluhur dan tidak ada krama yang tahu pasti kapan topeng itu dibuat. Topeng Telek tidak berubah ataupun diganti, misalnya dengan membuat topeng yang berukuran lebih besar sehingga bisa digunakan orang dewasa. Jika warna topeng itu sudah buram, masyarakat hanya sebatas ngodakin (pengecatan ulang). Bukan topengnya yang diganti. Hal yang sama juga berlaku untuk tapakan barong dan rangda. Sebelum tari Telek dipentaskan, seluruh penari wajib mengikuti persembahyangan di pura agar pementasan yang dilakoninya direstui Tuhan.

Tanpa Pelatih Khusus
Klian Pura Dalem Guru Banjar Adat Pancoran I Nyoman Suana mengatakan pihaknya sadar betul bahwa kesenian telek beserta tarian lain yang menyertainya tidak boleh punah dari wilayahnya. Pasalnya, tarian ini sudah diyakini oleh seluruh krama sebagai sarana memohon keselamatan. Kesadaran itu akhirnya mewajibkan mereka secara terus-menerus mencetak penari-penari Telek. Uniknya, proses alih generasi ini tanpa melibatkan pelatih khusus. Artinya, penari Telek sebelumnya punya kewajiban moral untuk mewariskan keterampilannya kepada generasi berikutnya. Sambung-menyambung.

Dalam satu generasi, ada delapan anak yang dipilih untuk mendalami tari Telek. Kendati penari yang terpakai hanya empat orang. Empat penari bertindak sebagai penari inti, sementara empat penari lainnya sebagai penari pengganti jika salah satu di antara penari inti berhalangan tampil karena sakit dan sebagainya. Proses regenerasinya sangat sederhana. Pailetan, gerak tari maupun teknik pementasan yang tersaji dalam Telek yang ada saat ini semuanya tidak mengalami perubahan. Telek tetap lestari di Banjar Adat Pancoran karena keyakinan bahwa tarian ini akan menghadirkan keselamatan dan kedamaian bagi warga tetap tertanam kuat.

Monday, November 3, 2014

Tari Tauh Jambi Dari Lekuk

Image : Tari Tauh Jambi


Tari Tauh Jambi merupakan tarian khas Daerah Lekuk 50 Tumbi Lempur, Kecamatan Gunung Raya. Pergaulan atau hubungan muda-mudi (bujang gadis) digambarkan dalam tarian ini. Tarian ini telah ada sejak zaman dahulu sampai sekarang dan diwariskan secara turun temurun. Hingga akhirnya masyarakat tidak mengetahui siapa sebenarnya pencipta tarian yang telah mengakar ditengah-tengah masyarakat. Hari ini, tari Tauh Jambi sangat populer di Kabupaten Bungo sebagai tari tradisional yang sangat digemari masyarakat.  

Perayaan-perayaan, kenduri Sko, dan penyambutan tamu menjadi helatan saat tarian ini ditampilkan didepan publik. Tarian Tauh Jambi biasanya ditarikan ketika menyambut Rajo dan  Berelek Gedang. Helatan yang paling sering dihiasi oleh tarian ini ialah Beselang Gedang atau gotong royong menuai padi ketika panen berlangsung. Oleh sebab itu, tarian ini juga menggambarkan perasaan suka cita dan syukur dari masyarakat adatnya.  

Seperti tarian Jambi pada umumnya, tarian ini dibawakan laki-laki dan perempuan secara berpasang-pasangan. Posisi tubuh dari tarian ini adalah kombinasi dari gerakan dalam posisi berdiri. Musik rebab, gong, dan nyanyian klasik yang disebut mantun mengiringi tarian ini. Empat laki-laki dan empat perempuan melenggok dalam alunan music melayu bersyair pantun. Uniknya, durasi tarian ini bergantung pada panjang pendeknya pantun yang disenandungkan dan kesanggupan penarinya sendiri. Tak jarang tarian ini berlangsung dari senja hari sampai pagi. 

Selain menggambarkan rasa syukur dan suka cita masyarakat adatnya, tarian dan nyanyian ini juga mengisahkan kehidupan masyarakat desa, percintaan, dan adat istiadat. Busana khas Lumpur berwarna coklat membalut tubuh para penari. Tak lupa tutup hiasan perak digunakan untuk mempercantik penampilan para penari. Seperti juga tarian khas Jambi pada umumnya, tari Tauh Jambi ini acap dilakukan di lapangan terbuka namun ada juga di dalam ruangan hal itu sesuai dengan waktu dan acara. 

Adapun musik pengiring ialah Kelintang Kayu, Gong, dan Gendang. Selain ketiga alat musik tersebut, biola digunakan sebagai alat musik melodik yang berlagam melayu. Pada saat sekarang Tari Tauh sering ditampilkan pada acara resmi yang diadakan Pemerintah kecamatan/kabupaten dan juga pada acara pernikahan. Sedangkan lagu yang mengiringi Tari Tauh adalah Krinok dan pantun-pantun anak Muda.

Tari Tambun dan Bungai Dari Palangkaraya

Image : Tari Tambun Bungai

Tari tambun dan bungai, berasal dari daerah palangkaraya, Kalimantan Tengah. Tarian ini merupakan tari yang mengisahkan kepahlawanan Tambun dan Bungai dalam mengusir musuh yang akan merampas hasil panen rakyat. Tambun dan bungai adalah pejuang di Kalimantan Tengah. Tambun dan Bungai adalah tokoh legenda suku dayak ot Danum yang tinggal di tengah pulau Kalimantan khususnya wilayah Kabupaten gunung Mas. Tambun dan Bungai adalah saudara dari ayah mereka yang merupakan adik-kakak. Kedua orang ini, Tambun dan Bungai memiliki perasaan yang sama yaitu jika salah satu diantara mereka bersedih maka yang satu akan ikut merasakan kesedihan yang sama dialaminya. Keduanya memiliki karakter dan sifat yang sama. Mereka memiliki watak yang cerdas, lemah lembut, peramah, suka menolong sesama, sedikit menerima banyak memberi, cepat kaki ringan tangan, bijaksana, dan pantang menyerah untuk membela kebenaran.
Salah satu peristiwa penting yang memjadikan Tambun dan Bungai sebagai pejuang di Kalimantan Selatan adalah mereka selalu menang dalam pertempuran melawan musuh yang akan merampas tanah dan panen masyarakat setempat. Mereka akhirnya mendapat gelar dari Nyai Undang raja di Pematang Sawang yaitu gelar  “Tumenggung Tambun Terjun Ringkin Duhung dan “Tumenggung Bungai Andin Sindai”. 
Atas semua perjuangan Tambun dan Bungai, banyak orang yang menciptakan kebudayaan untuk mengenang Tambun dan Bungai salah satunya adalah Tarian Tambun dan Bungai. 

Asal-Usul Tari Selaras Pinang Masak Dari Jambi

Image : Tari Selaras Pinang Masak Asal Jambi


Tari Selaras Pinang Masak adalah sejenis tari Melayu dari Jambi dengan gerakan-gerakan yang sangat dinamis. Gerakan-gerakan tersebut lebih mirip kombinasi antara silat, aerobic, dan kungfu. Nama Selaras Pinang Masak ini diambil nama Puteri Selaras Pinang Masak yang konon memerintah Jambi pada zaman dahulu kala.

Konon, Putri Selaras Pinang Masak dulunya adalah istri dari Datuk Paduka Berhala. Datuk Padukan Berhala merupakan penguasa negeri Melayu Jambi yang berasal dari Turki. Namun hingga saat ini belum ada bukti nyata berdasarkan penelitian atau catatan sejarah yang relevan. Pasalnya, tidak ada satu silsilah yang mengurutkan dengan tepat dan dapat dipercaya secara keilmuan (nasab) tentang hirarki Sang Datuk, baik dari garis keturunan ayahnya maupun ibunya dengan raja-raja Islam penguasa daratan Eropa itu. 

Sebenarnya, cerita yang menarik lahir dari suami Putri Selaras Pinang Masak, yaitu Datuk Paduka Berhalo. Asal-usul Datuk menjadi teka-teki tersendiri bagi para sejarawan.Profesor Aulia Tasman, Ph. D, Pembantu Rektor IV Universitas Jambi menyatakan bahwa Datuk Paduka Berhala adalah Adityawarman. Profesor Aulia Tasman bersepakat dengan penelitian A. Jaffar, menurutnya, sebagai seorang Maharajadiraja, patung Adityawarman banyak disembah dan “dipertuhankan oleh rakyat yang saat itu mayoritas beragama Budha. Patung Sang Datuk kemudian dianggap sebagai berhala oleh orang-orang muslim. Dari sanalah mulai terciptanya Datuk Paduka Berhala. 

Versi di atas mendapat sanggahan dari be erapa kalangan. Pasalnya, dalam Kitab Undang Undang Tanjung Tanah, Naskah Melayu yang Tertua, 2006, Profesor Uli Kozok Ph.D, menuliskan bahwa Adityawarman wafat  sekira tahun 1375-1377. Pada Prasasti Batusangkar yang bertarikh 1375 disebutkan Adityawarman kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Ananggawarman. Wilayah terakhir pusat kerajaaan Pagaruyung yang dikuasai Adityawarman itu terletak di pedalaman Minangkabau. Hal tersebut terbukti dengan adanya makam Adityawarman di sana.

Letak tersebut cukup jauh dari tanah Jambi secara geogrefis. Maka janggal bila kemudian masyarakat Jambi menyebut-nyebut Adityawarman sebagai Datuk Paduka Berhala. Padahal dalam prasasti atau cerita rakyat di Minangkabau sendiri tidak dikenal siapa itu Sang Datuk. Apalagi menghubung-hubungkannya sebagai orang yang sama dengan Adityawarman. 

Lantas siapa sebenarnya Putri Selaras Pinang Masak yang kemudian disebut-sebut pernah memerintah kerjaan Melayu Jambi setelah sang Datuk meninggal dan Orang kayo Hitam (yang diduga anak kandung Putri Selaras Pinang Masak dan Datuk Paduka Berhala) mendirikan Kerajaan Melayu Jambi.

Versi lain menyebutkan bahwa Datuk Paduka Berhala adalah Sayid Ahmad Tajjudin yang tersingkir dari Malaka saat terjadi perang. Bersama seorang sepupunya ia harus pindah ke suatu daerah di Selat Berhala pada 1513. Di sanalah, Sayid Ahmad Tajjudin menyiarkan agama Islam ke pesisir hingga pedalaman. Kemudian ia menikah dengan Putri Selaras Pinang Masak.

Dari latar sejarah yang masih menarik untuk terus digali, karakter Putri Selaras Pinang Masak sendiri tercermin dari gerakan-gerakan tari yang cenderung lebih mirip gerakan bela diri. Hal itu mencerminkan bahwa Putri Selaras Pinang memiliki karakter yang tegas dan berlawan dalam memimpin kerajaan yang diwariskan suaminya ketika itu. Namun dari semua itu yang terpenting adalah bahwa tarian Selaras Pinang Masak memiliki kekhasan yang berbeda dari tarian Jambi pada umumnya.

Sunday, November 2, 2014

Tari Sanghyang Dianggap Sakral di Masyarakat Bali

Image : Tari Sanghyang Dianggap Sakral di Masyarakat Bali
TARI SANGHYANG, TARI UPACARA YANG DIANGGAP SAKRAL DI MASYARAKAT BALI
Masyarakat Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu sangat percaya adanya roh halus dan jahat serta alam yang mengandung kekuatan magis. Untuk mengimbangi dan menetralisir keadaan tersebut masyarakat mengadakan upakara (upacara) yang dilengkapi dengan tari-tarian yang bersifat relegius antara lain Tari Sanghyang yaitu suatu tari upacara sakral yang berfungsi sebagai pelengkap upacara untuk mengusir wabah penyakit yang terdapat di suatu daerah tertentu.
Dalam keadaan sehari-hari, tari-tarian tradisional yang sakral seperti itu tidak dapat dinikmati di sembarang tempat dan waktu, berbeda halnya dengan tarian yang sudah dimodifikasi menjadi tontonan umum seperti tari barong, legong, baris, tari kecak dan sebagainya.
Tari Sanghyang ada beberapa jenisnya antara lain Sanghyang Dedari, Sanghyang Dewa, Sanghyang Deling, Sanghyang Dangkluk, Sanghyang Penyalin, Sanghyang Celeng, Sanghyang Medi, Sanghyang Bumbung, Sanghyang Kidang, Sanghyang Janger, Sanghyang Sengkrong dan Sanghyang Jaran.
Secara umum Tari Sanghyang berfungsi untuk mengusir wabah penyakit yang sedang melanda suatu desa (daerah) ataupun sebagai sarana pelindung terhadap ancaman dari kekuatan magis hitam (black magic). Tari yang merupakan sisa-sisa kebudayaan pra Hindu ini biasanya ditarikan oleh dua gadis yang masih kecil (belum dewasa) dan dianggap masih suci. Mereka, calon penari Sanghyang harus menjalankan beberapa pantangan, seperti tidak boleh lewat di bawah jemuran pakaian, tidak boleh berkata jorok dan kasar, tidak boleh berbohong, tidak boleh mencuri dan sebagainya, serta harus mengikuti petunjuk dan tata tertib desa yang telah ditentukan.
Penari Sanghyang pada waktu menari tersebut dalam keadaan tidak sadar (in trance) seperti kemasukan roh. Mula-mula calon penari dengan kerudung putih kepalanya diasapi dengan kemenyan dan nyanyian suci mengalun mengiringi upacara awal. Untuk menjaga agar dua penari ini tidak jatuh ketika memasuki alam tidak sadar, ditugaskan dua orang wanita. Kerudung putih akan dibuka setelah penari tadi sudah nadi (kehilangan kesadaran). Dalam keadaan seperti inilah mereka menari-nari, kadang-kadang di atas bara api dan selanjutnya keliling desa dengan maksud mengusir wabah penyakit. Biasanya atraksi ini dilakukan pada malam hari sampai tengah malam.
Image : Tari Sanghyang Dianggap Sakral di Masyarakat Bali

Di Bali pengertian mengenal Tari Sanghyang ada beberapa jenis. Setiap kabupaten bahkan juga desa mempunyai ciri khas masing-masing. Misalnya pada jenis Tari Sanghyang Dedari, umumnya ditarikan oleh seorang atau dua gadis kecil, melalui upacara pedudusan (pengasapan) yang diiringi dengan nyanyian atau kecak dengan musik gending pelebongan. Dalam keadaan tidak sadar penari Sanghyang diarak memakai peralatan yang lazimnya disebut joli (tandu). Di Desa Pesangkan, Karangasem ada variasi lain yaitu dua gadis penari tadi menari di atas sepotong bambu yang dipikul, sedang di Kabupaten Bangli penari Sanghyang menari di atas pundak seorang laki-laki, Jenis tari Sanghyang seperti ini juga dikenal dengan nama Tari Sanghyang Dewa. Mungkin tingkatan dedari (bidadari) dan dewa dalam hal ini dianggap sama
Selain itu dikenal juga dengan nama Tari Sanghyang Deling. Tari ini ditarikan oleh dua gadis dengan membawa deling (boneka dari daun lontar) yang dipancangkan di atas sepotong bambu. Deling ini dianggap dapat kemasukan roh suci lalu diarak sambil menari. Sanghyang Deling dulu terdapat di sekitar danau Batur. Gamelan (musik) yang dipergunakan sangat sederhana yaitu hanya seruling dan gendang. Sekarang tarian ini sudah tidak dijumpai lagi di tempat tersebut. Namun demikian tarian yang hampir sama dengan Sanghyang Deling dapat dijumpai di Tabanan dan diberi nama Sanghyang Dangkluk
Ada pula Tari Sanghyang yang mempergunakan rotan sehingga disebut Sanghyang Penyalin (penyalin berarti rotan). Tari ini ditarikan oleh seorang laki-laki dan sambil mengayun-ayunkan sepotong rotan panjang dalam keadaan tidak sadar
Di Desa Pesangkan dan Duda. Karangasem ada lagi jenis Tari Sanghyang yang digemari oleh anak-anak, yang disebut Sanghyang Celeng (celeng "berarti, babi). Tarian ini ditarikan oleh seorang anak-laki yang berpakaian serat ijuk berwarna hitam. Ia menari dan mnirukan gerakan-gerakan jalannya seekor babi, berkeliling desa dengan maksud mengusir roh jahat yang mengganggu ketenteraman desa. Dalam jenis yang sama di Bali utara dikenal juga Tari Sanghyang Memedi (memedi berarti mahluk halus). Penarinya berpakaian istri daun atau pohon padi sehingga menyerupai memedi. Penari Sanghyang Memedi juga menari dengan tidak sadarkan diri setelah diisapi dengan kemenyan.
Di Desa Sanur Denpasar yang juga dikenal dengan pantainya yang indah mempunyai Tari Sanghyang yang hanya ditarikan pada malam bulan purnama yang disebut dengan Sanghyang Bungbung, dengan mempergunakan potongan bambu yang diberi lukisan orang sebagai pelengkap. Tari ini ditarikan oleh seorang wanita yang juga dalam keadaan tidak sadar
Jenis Tari Sanghyang lainnya yaitu Sanghyang Kidang, yang hanya dijumpai di Bali utara, ditarikan oleh seorang wanita. Dalam keadaan tidak sadar penari menirukan gerakan-gerakan seekor kidang (kijang). Tarian ini diiringi dengan nyanyian bersama tanpa mempergunakan alat musik.
Tari Sanghyang yang sudah mengalami perkembangan dan perubahan yang sudah dikenal luas sampai sekarang adalah Sanghyang Janger. Dulu tarian ini ditarikan dalam keadaan tidak sadar dan bersifat sakral, namun kemudian mengalami perubahan dan menjadi Tari Janger yang diiringi dengan cak. Tari ini dapat disaksikan luas seluruh pelosok Pulau Dewata dengan makna yang sudah berbeda.
Tari Sanghyang yang juga dikenal luas di Bali adalah Sanghyang Jaran. Penyebarannya hampir pada setiap kabupaten. Penarinya biasanya terdiri dari dua laki-laki. Bentuk kuda yang dipergunakan bervariasi. Di Bali selatan terbuat dari kayu dan rotan dengan ekor pucuk kelapa dan penari meniru gerakan kuda dalam keadaan tidak sadar. Di Bali utara penarinya memakai topeng kuda dan diiringi dengan kecak.
Di tengah derasnya arus kebudayaan asing yang melanda pulau Bali, beberapa Tari Sanghyang di beberapa tempat pada masyarakat Bali masih diyakini membawa mujizat dan keselamatan. Sementara itu para seniman juga cukup jeli mengembangkan dan menggali tari-tari tradisional yang disakralkan menjadi tari yang dapat dinikmati sebagai hiburan tanpa harus kesurupan.

Makna Tari Sajojo Asal Papua

Image : Tari Sajojo Asal Papua

Tari Sajojo adalah sejenis tari pergaulan rakyat yang berasal dari Papua. Pulau yang paling Luas dengan Keadaan Geografisnya yang Terjal, terletak di ujung Timur Indonesia. Papua juga terkenal dengan Cartenz Pyramid, pemilik salju abadi di puncaknya, menjadi daya tarik tersendiri, bagi para wisatawan. Kemudian lautnya yang Terkenal Jernih dengan Pemandangan yang begitu Eksotik dan Biota laut yang masih langka pun ada di Papua. Selain keindahan alamnya, kesenian dan budaya tradisional Papua adalah kekayaan tersendiri yang diciptakan dan dimiliki oleh masyarakat Papua.
Papua adalah provinsi yang kaya dengan seni budaya dan suku adatnya, masyarakatnya telah memiliki dan mengembangkan seni tarinya tersendiri baik secara turun temurun atau seni tari kontemporer sebagai bentuk ekspresi diri, salah satunya adalah tarian sajojo ini. Lirik lagu dalam tarian sajojo bercerita tentang seorang gadis cantik yang diidolakan oleh pemuda-pemuda di kampungnya. Salah satu jenis tari pergaulan ini mulai populer pada tahun 1990-an. Awalnya di kalangan militer yang pernah tugas di Timor, Maluku dan Irian. Tari Sajojo, memiliki kekhasan pada gerakannya yang meloncat bongkok, dengan dimulai dari kaki kiri. Iringan musik Sajojo, biasanya beirama Cha Cha Cha Ambon medly.
Saking populernya tarian dan nyanyian Sajojo ini, kita dengar dimana-mana, hingga banyak sekolah, lembaga dan kelompok masyarakat memperlombakan tarian Sajojo. Bahkan tari sajojo telah dimodifikasi menjadi senam meski tanpa meninggalkan unsur-unsur aslinya. 
Kepopuleran tari Sajojo didukung pula oleh karakter tarian itu sendiri. Jenis tarian Sajojo adalah tarian grup yang tidak dibatasi jumlah penarinya. Seperti halnya tarian Yospan, siapa pun boleh turun dalam kesukarian sebuah kebersamaan. Ditambah dengan iringan musik yang dinamis, menghentak dan menggembirakan. Sehingga sangat kentara nuansa kebersamaan dan pergaulannya. Inilah salah satu karakter menonjol dari karya seni tradisional masyarakat Papua daerah pantai. Mereka telah mampu berkomunikasi dengan masyarakat kota dan masyarakat luar sudah tidak asing bagi mereka.
◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Total Pageviews

Copyright 2013 Macam-Macam Tarian di Indonesia Template by Hand's. Powered by Blogger