Wednesday, May 28, 2014

Upacara Adat Manusa Yadnya dari Bali


Masyarakat Bali percaya bahwa roh pribadi setiap orang akan mengalami reinkarnasi beberapa kali ke dunia, dengan melalui tahapan dan rintangan sampai akhirnya menyatu dengan Tuhan, Sang Pencipta. Adalah kewajiban bagi setiap orang untuk berumah tangga dan selanjutnya memiliki anak, hal ini dalam rangka menyiapkan jalan bagi roh nenek moyangnya saat menjelma nanti. Seseorang tidak dapat dikukuhkan menjadi anggota Banjar penuh sebelum orang itu berumah tangga. Anak-anak kecil di Bali begitu disayang dan dihormati, terutama yang laki-laki, karena merekalah yang akan melanjutkan garis keturunan keluarganya dan menjaga orang tuanya serta melaksanakan upacara penguburan dan pengabenan nantinya.
Image
Setiap kali kehidupan di dunia ini, dianggap sebagai jalan tangga menuju ke tingkat kehidupan berikutnya, selama kehidupan di dunia ini ada pengalaman yang kritis khususnya pada saat anak melangkah dewasa, sehingga diharapkan saling membantu satu sama lain. Berbagai upacara selama perjalanan hidup ini, dalam agama Hindu, sudah dimulai sejak bayi masih ada di dalam kandungan ibunya.

Image
Seorang ibu yang baru melahirkan dianggap "sebel / leteh" dan tidak diperkenankan ke Pura sampai dilaksanakannya upacara pembersihan diri. Setelah kelahiran bayi menjadi "kanda pat", si bayi akan menemukan keempat saudaranya scara bathiniah, kemudian menyertai bayi itu untuk melanjutkan kehidupannya. Di saat bayi berumur 12 hari dan 24 hari diadakan lagi upacara tersendiri, kemudian pada saat bayi berumur 105 hari ada upacara yang agak besar, dimana bayi untuk pertamakalinya menginjakkan kakinya di tanah guna memohon berkat Ibu pertiwi agar dipelihara dengan baik. Sebelum upacara ini, seorang bayi belum dianggap sebagai manusia seutuhnya. Pada hari ke 210 (sesuai kalender Bali) barulah bayi itu diberi nama lengkap. Seorang bayi hampir tidak diperkenankan merangkak di tanah, karena dianggap seperti sifat binatang. Dia akan diajak kemana-mana sampai bisa berdiri berjalan sendiri.
Image
Perjalanan hidup menginjak umur dewasa juga diupacarai baik bagi pria maupun wanita. Menstruasi pertama bagi seorang wanita dirayakan, setelah itu bisa dilakukan upacara potong gigi. Upacara ini harus dilakukan sebelum seorang wanita berumah tangga, namun biasanya sering digabung dengan upacara perkawinan. Taring yang ada pada manusia harus diasah-ratakan, karena merupakan simbolis sifat binatang, hal ini melambangkan pembersihan dari sifat-sifat binatang / sifat yang tidak baik. Setelah upacara ini, kewajiban orang tua dianggap sudah selesai.

Lain halnya bagi anak laki-laki yang harus dibiayai hingga upacara perkawinan, keluarga harus menyambut calon menantu (pengantin putri) sebagai anaknya sendiri, seorang pengantin putri harus mengubah prilakunya yang lama dan menjalin hidupnya yang baru di keluarga suaminya termasuk dengan leluhurnya. Masih banyak pernikahan di Bali tidak direncanakan, masih banyak anak muda yang memilih kawin lari dan bahkan kawin campuran antar kasta yang semakin dianggap biasa

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Total Pageviews