Sunday, June 1, 2014

Di Solo Tari Bedhaya Ketawang


Kota Solo memberikan banyak kebudayaan local yang mengasyikkan dan patut untuk dieksplorasi lebih lanjut. Salah satu intangible heritage kota Solo yang masih lestari hingga saat ini adalah Bedhaya Ketawang, tarian klasik dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Bedhaya Ketawang  terdiri dari kata Bedhaya dan Ketawang. Bedhaya artinya penari wanita di Istana. Ketawang berasal dari kata ‘tawang’ yang berarti bintang di langit. Tarian  ini sangat kental dengan budaya Jawa dan dianggap sakral. Tari yang digelar satu tahun sekali ini diperagakan oleh sembilan perempuan dengan tata rias seperti pengantin Jawa. Sembilan pernari tersebut memiliki sebutan masing-masing, yaitu: Batak, Endhel Ajeg, Endhel Weton, Apit Ngarep, Apit Mburi, Apit Meneg, Gulu, Dhada, Dan Boncit. Nomor sembilan juga dapat direpresentasikan sebagai konstelasi bintang-bintang dari arti Ketawang.


Tari Bedhaya Ketawang mencerminkan hubungan yang sangat khusus antara penguasa pertama Mataram, Panembahan Senopati, dengan Dewi Laut Selatan, bernama Ratu Kencanasari atau biasa disebut Kanjeng Ratu Kidul – sebutan di kalangan masayrakat Jawa-.

Fokus dari tarian ini adalah pada adegan cinta antara Ratu Kencanasari dengan Panembahan Senopati. Musik yang mengiringi tarian ini terdiri dari lima instrumen, yaitu kemanak, kethuk, kenong, kendhang, dan gong serta diiringi suara dari sinden*.

Tari Bedhaya Ketawang dapat ditafsirkan sebagai representasi gerakan perang, seperti Supit Urang** dan Garuda Nglayang***. Selama satu jam pertunjukan, baik raja maupun penonton diijinkan untuk merokok, minum, atau makan. Ini adalah kepercayaan tradisional yang kuat dari tari Bedhaya Ketawang. Hal ini dianggap sebagai simbol penyatuan antara raja dan rakyatnya dan antara Tuhan dan ciptaan-Nya (Manunggaling kawula Gusti).

Dalam persiapan pementasan, para penari harus mengikuti beberapa aturan dan upacara. Persiapan ini persis seperti jika seseorang akan menikah. Malam sebelum pertunjukan, para penari harus tidur di Panti Satria, daerah yang paling suci di istana di mana semua peninggalan spiritual disimpan.

Latihan untuk tarian ini hanya diadakan setiap Selasa Kliwon **** (Hanggoro Kasih). sekali dalam setiap 35 hari, dan biasanya pelatihan intensif mulai 10 hari sebelum pertunjukan. Para Bedhaya lain yang terkenal di Keraton Surakarta adalah

Bedhaya Daradasih (dari Raja Paku Buwono IX)

Bedhaya Sukoharjo (dari Raja Paku Buwono IX)

Bedhaya Pangkur (dari Raja Paku Buwono IV dan VIII)

* Sebutan penyanyi latar dalam kebudayaan Jawa seperti pagelaran tari atau wayang.

** Capit Udang dalam bahasa Indonesia.

*** Burung Garuda terbang dalam bahasa Indonesia.

**** Salah satu hari dalam sistem penanggalan Jawa.

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Total Pageviews