Showing posts with label nama pulau di sulawesi. Show all posts
Showing posts with label nama pulau di sulawesi. Show all posts

Thursday, October 31, 2013

RUMAH ADAT BUTON (MALIGE/KAMALI) dari SULAWESI


RUMAH ADAT BUTON (MALIGE/KAMALI)
Istana Sultan Buton (disebut Kamali atau Malige) meskipun didirikan hanya dengan saling mengait, tanpa tali pengikat ataupun paku, bangunan ini dapat berdiri dengan dengan kokoh dan megah di atas sandi yang menjadi landasan dasarnya.

Rumah adat Buton atau Buton merupakan bangunan di atas tiang, dan seluruhnya dari bahan kayu. Banguanannya terdiri dari empat tingkat atau empat lantai. Ruang lantai pertama lebih luas dari lantai kedua. Sedangkan lantai keempat lebih besar dari lantai ketiga, jadi makin keatas makin kecil atau sempit ruangannya, tapi di lantai keempat sedikit lebih melebar.

Seluruh bangunan tanpa memakai paku dalam pembuatannya, melainkan memakai pasak atau paku kayu. Tiang-tiang depan terdiri dari 5 buah yang berjajar ke belakang sampai delapan deret, hingga jumlah seluruhnya adalah 40 buah tiang. Tiang tengah menjulang ke atas dan merupakan tiang utama disebut Tutumbu yang artinya tumbuh terus. Tiang-tiang ini terbuat dari kayu wala da semuanya bersegi empat. Untuk rumah rakyat biasa, tiangnya berbentuk bulat. Biasanya tiang-tiang ini puncaknya terpotong. Dengan melihat jumlah tiang sampingnya dapat diketahui siapa atau apa kedudukan si pemilik. Rumah adat yang mempunyai tiang samping 4 buah berarti rumah tersebut terdiri dari 3 petak merupakan rumah rakyat biasa. Rumah adat bertiang samping 6 buah akan mempunyai 5 petak atau ruangan, rumah ini biasanya dimiliki oleh pegawai Sultan atau rumah anggota adat kesultanan Buton. Sedangkan rumah adat yang mempunyai tiang samping 8 buah berarti rumah tersebut mempunyai 7 ruangan dan ini khusus untuk rumah Sultan Buton.
Adapun susunan ruangan dalam istana ini adalah sebagai berikut:

1 Lantai pertama terdiri dari 7 petak atau ruangan, ruangan pertama dan kedua berfungsi sebgai tempat menerima tamu atau ruang sidang anggota Hadat Kerajaan Buton. Ruangan ketiga dibagi dua, yang sebelah kiri dipakai untuk kamar tidur tamu, dan sebelah kanan sebagai ruang makan tamu. Ruangan keempat juga dibagi dua, berfungsi sebgai kamar anak-anak Sultan yang sudah menikah. Ruang kelima sebgai kamar makan Sultan, atau kamar tamu bagian dalam, sedangkan ruangan keenam dan ketujuh dari kiri ke kanan dipergunakan sebagai makar anak perempuan Sultan yang sudah dewasa, kamar Sultan dan kamar anak laki-laki Sultan yang dewasa.

2 Lantai kedua dibagi menjadi 14 buah kamar, yaitu 7 kamar di sisi sebelah kanan dan 7 kamar di sisi sebelah kiri. Tiap kamar mempunyai tangga sendiri-sendiri hingga terdapat 7 tangga di sebelah kiri dan 7 tangga sebelah kanan, seluruhnya 14 buah tangga. Fungsi kamar-kamar tersebut adalah untuk tamu keluarga, sebagai kantor, dan sebagai gudang. Kamar besar yang letaknya di sebelah depan sebagai kamar tinggal keluarga Sultan, sedangkan yang lebih besar lagi sebagai Aula.

3 Lantai ketiga berfungsi sebagai tempat rekreasi.

4 Lantai keempat berfungsi sebagai tempat penjemuran. Disamping kamar bangunan Malige terdapat sebuah banguan seperti rumah panggung mecil, yang dipergunakan sebagai dapur, yang dihubungakan dengan satu gang di atas tiang pula. Di anjungan bangunan ini di pergunakan sebagai kantor anjungan. Pada bangunan Malige terdapat 2 macam hiasan, yaitu ukiran naga yang terdapat di atas bubungan rumah, serta ukiran buah nenas yang tergantung pada papan lis atap, dan dibawah kamar-kamar sisi depan. Adapun kedua hiasan tersebut mengandung makna yang sangat dalam, yakni ukiran naga merupakan lambang kebesaran kerajaan Buton. Sedangkan ukiran buah nenas, dalam tangkai nenas itu hanya tumbuh sebuah nenas saja, melambangkan bahwa hanya ada satu Sultan di dalam kerajaan Buton. Bunga nenas bermahkota, berarti bahwa yang berhak untuk dipayungi dengan payung kerajaan hanya Sultan Buton saja. Nenas merupakan buah berbiji, tetapi bibit nenas tidak tumbuh dari bibit itu, melainkan dari rumpunya timbul tunas baru. ini berarti bahwa kesultanan Buton bukan sebagai pusaka anak beranak yang dapat diwariskan kepada anaknya sendiri. Falsafah nenas in dilambangakan sebagai kesultanan Buton, dan Malige Buton mirip rongga manusia.

Tempat-Tempat Penting di Sulawesi


MESJID AGUNG KERATON (MASIGI OGENA)
Masjid Agung Keraton terletak di sebelah utara dalam benteng keraton, mesjid yang didirikan pada tahun 1712 pada masa pemerintahan Sultan Sakiyuddin Durul Alam/La Ngkariyiri. Mesjid ini berukuran 20,6 x 19,40 meter terdiri dari 2 lantai ini selain berfungsi sebagai tempat ibadah juga sebagai tempat pengukuhan setiap sultan yang baru dilantik. Di dalam masjid terdapat suatu bentuk pemerintahan keagamaan yang disebut Sara Kidhina yang bertugas mengatur dan menjalankan kegiatan keagamaan. Sara Kidhina ini masih tetap dipertahankan sampai sekarang, demikian pula adat serta tata cara yang berlaku dalam masjid. Setiap Hari Jum’at para perangkat mesjid menggunakan pakain adat. Pemugaran mesjid ini sudah dilakukan sebanyak 4 kali, tahun 1929 atap daun nipah diubah menjadi seng dan lantainya disemen. Pemugaran kedua tahun 1978, ketiga 1986 dan terakhir 2002.

BENTENG KERATON BUTON

Benteng yang merupakan bekas ibukota Kesultanan Buton ini memiliki bentuk arsitek yang cukup unik, terbuat dari batu kapur/gunung dan direkatka dengan telur. Saat pembangunnya, semua warga Buton bekerja bakti untuk benteng tersebut. Seorang perempuan yang kaya dan dermawan bernama Wa Ode Bau, menyumbangkan perhiasan satu tudung saji diserahkan kepada kerajaan Buton untuk terlaksananya pekerjaan benteng itu akhirnya diselesaikan pada tahun 1647. Benteng yang berbentuk lingkaran ini dengan panjang keliling 2.740 meter. Benteng terpanjang di Indonesia dan di dunia ini memiliki 12 pintu gerbang yang disebut Lawa dan 16 emplasemen meriam yang mereka sebut Baluara. Letaknya pada puncak bukit yang cukup tinggi dengan lereng yang cukup terjal memungkinkan tempat ini sebagai tempat pertahanan terbaik di zamannya. Dari tepi benteng yang sampai saat ini masih berdiri kokoh anda dapat menikmati pemandangan kota Bau-Bau dan hilir mudik kapal di selat Buton dengan jelas dari ketinggian,suatu pemandangan yang cukup menakjukkan. Selain itu, di dalam kawasan benteng dapat dijumpai berbagai peninggalan sejarah Kesultanan Buton. Benteng ini terdiri dari tiga komponen yaitu:
BADILI (MERIAM)
Obyek wisata ini merupakan meriam yang terbuat dari besi tua yang berukuran 2 sampai 3 depa. Meriam ini bekas persenjataan Kesultanan Buton peninggalan Portugis dan Belanda yang dapat ditemui hampir pada seluruh benteng di Kota Bau-Bau.

LAWA
Dalam bahasa Wolio berarti pintu gerbang. Lawa berfungsi sebagai penghubung keraton dengan kampung-kampung yang berada disekeliling benteng keraton. Terdapat 12 lawa pada benteng keraton. Angka 12 menurut keyakinan masyarakat mewakili jumlah lubang pada tubuh manusia, sehingga benteng keraton diibaratkan sebagai tubuh manusia. Ke-12 lawa memiliki masing-masing nama sesuai dengan gelar orang yang mengawasinya, penyebutan lawa dirangkai dengan namanya. Kata lawa diimbuhi akhiran ‘na’ menjadi ‘lawana’. Akhiran ‘na’ dalam bahasa Buton berfungsi sebagai pengganti kata milik “nya”. Setiap lawa memiliki bentuk yang berbeda-beda tapi secara umum dapat dibedakan baik bentuk, lebar maupun konstruksinya ada yang terbuat dari batu dan juga dipadukan dengan kayu, semacam gazebo diatasnya yang berfungsi sebagai menara pengamat. 12 Nama lawa diantaranya : lawana rakia, lawana lanto, lawana labunta, lawana kampebuni, lawana waborobo, lawana dete, lawana kalau, lawana wajo/bariya, lawana burukene/tanailandu, lawana melai/baau, lawana lantongau dan lawana gundu-gundu.

BALUARA
Kata baluara berasal dari bahasa portugis yaitu ‘baluer’ yang berarti bastion. Baluara dibangun sebelum benteng keraton didirikan pada tahun 1613 pada masa pemerintahan La Elangi/Dayanu Ikhsanuddin (sultan buton ke-4) bersamaan dengan pembangunan ‘godo’ (gudang). Dari 16 baluara dua diantaranya memiliki godo yang terletak diatas baluara tersebut. Masing-masing berfungsi sebagai tempat penyimpanan peluru dan mesiu. Setiap baluara memiliki bentuk yang berbeda-beda, disesuaikan dengan kondisi lahan dan tempatnya. Nama-nama baluara dinamai sesuai dengan nama kampung tempat baluara tersebut berada. Nama kampung tersebut ada didalam benteng keraton pada masa Kesultanan Buton. 16 Nama Baluara : baluarana gama, baluarana litao, baluarana barangkatopa, baluarana wandailolo, baluarana baluwu, baluarana dete, baluarana kalau, baluarana godona oba, baluarana wajo/bariya, baluarana tanailandu, baluarana melai/baau, baluarana godona batu, baluarana lantongau, baluarana gundu-gundu, baluarana siompu dan baluarana rakia.


KAMPUA MATA UANG KESULTANAN BUTON

Mata uang kampua merupakan jenis alat tukar (pembayaran) yang terbuat dari kain tenun Buton. Mata uang kampua ini sudah berlaku sejak masa pemerintahan Raja Buton yang ke II Bulawambona. Untuk dapat melihat mata uang kampua bisa ditemui pada Pusat Kebudayaan Wolio (Istana Kesultanan Buton ke XXXVIII), perpustakaan Faoka Mulku Zahari yang terapat di Kelurahan Baadia Kecamatan Betoambari sekitar 4 km dari pusat Kota Bau-Bau

Nama Pulau-Pulau di Sulawesi


Selat  Makassar dengan  Pulau kecil ini sebagian besar berada di wilayah Kota Makassar, termasuk dalam jajaran gugus pulau-pulau kecil. Untuk menjangkaunya cukup mudah, yang Anda perlukan adalah tiket perjalanan menuju Kota Makassar, dan dari Kota Makassar telah tersedia 3 dermaga penyeberangan yang saling berdekatan, yaitu : dermaga Kayu Bangkoa, dermaga wisata Pulau Kayangan dan dermaga milik POPSA (Persatuan Olahraga Perahu motor dan Ski Air) Makassar.

Kota Makassar yang terkenal dengan wisata bahari memang menawarkan berjuta pesona keindahan alami, khususnya pantai. Namun, jarang orang yang tahu sebetulnya banyak sekali pulau-pulau kecil yang sangat indah di sekitar Makassar, salah satunya Pulau Samalona.

Pulau Samalona

Cara untuk sampai ke Pulau Samalona cukup mudah Anda hanya perlu menyewa perahu dari penduduk sekitar pantai Losari Makassar yang biasanya berprofesi sebagai nelayan atau jasa penyewaan perahu. Harga perahu mulai dari 300 sampai 600 ribu rupiah, pulang pergi untuk 10 orang. Namun, ingat jangan lupa tawar-menawar dengan pemilik perahu.
Waktu tempuh untuk sampai ke Pulau Samalona dari Pantai Losari sekitar setengah jam. Sepanjang perjalanan, Anda dapat menikmati hamparan laut biru terbentang luas seakan tak ada batasnya. Anda juga bisa melihat perahu-perahu nelayan yang sedang menangkap ikan.
Ketika tiba di Pulau Samalona, Anda akan disuguhi pemandangan hamparan luas pasir putih pantai, udara sejuk nan bebas polusi, dan pemandangan alam yang masih alami. Bayangkan, air laut yang begitu bening membuat Anda tidak pernah kesulitan untuk melihat indahnya biota laut di dalam sana.

Pulau kecil ini hanya berpenghuni sekitar 16 kepala keluarga dan luasnya tidak lebih dari 100 meter persegi. Serasa memiliki pulau pribadi, bukan? Anda pun bisa menyewa baruga (rumah singgah) yang hanya sekitar 250 ribu rupiah per harinya.

Anda juga bisa menunggu keindahan matahari terbenam di pesisir pantai sambil mengitari pulau kecil itu. Rasakan lembutnya butiran-butiran pasir putih di telapak kaki sambil sesekali memungut kerang yang terseret ombak. Belum lagi kegiatan voli pantai dan sepak bola di pasir tentu seru dan mengasyikkan.

Dini hari Anda Dapat menikmati  indahnya matahari terbit di Pulau Samalona. Sungguh panorama yang begitu sulit untuk dilupakan.

Berenang di laut. Beningnya air laut dan perairan yang dangkal membuat Anda aman untuk berenang , dengan menggunakan kacamata selam dan alat bantu pernapasan a,Anda bisa bersnorkle ria, menyapa ikan-ikan kecil yang beraneka warna dengan terumbu karang yang masih terjaga keasliannya. Jika beruntung, Anda akan menemukan kuda laut yang cantik dan bintang laut yang indah di sana.

Pulau Bonetambung

Pulau ini berbentuk bulat, dengan luas 5 Ha, atau berjarak 18 km dari Makassar. Posisinya berada di sebelah timur P. Langkai. Perairan sebelah utara dan timur merupakan alur pelayaran pelabuhan, dengan kedalaman lebih dari 40 meter (± 900 meter dari pantai), perairan sebelah barat terdapat rataan terumbu karang, pada bagian luar sekitas 1 km terdapat kedalaman besar dari 20 m, dan pada sebelah baratdaya sekitar 1 km terdapat daerah yang sangat dangkal dengan kedalaman kurang dari 5 meter. Belum tersedia transporatasi reguler ke pulau ini, dapat menggunakan perahu carteran (sekoci) 40 PK dengan biaya sebesar Rp. 600.000,- (pergi-pulang).

Pemukiman penduduk tersebar merata di pulau ini, dengan jumlah 481 jiwa. Vegetasi umum dijumpai adalah pohon kelapa. Beberapa kebiasaan yang sering dilakukan masyarakat, adalah upacara Lahir bathin yakni mensucikan diri sebelum masuk bulan Ramadhan, Upacara Songkabala yakni upacara untuk menolak bala yang akan datang, dan upacara Pa’rappo yakni upacara ritual yang dilaksanakan oleh para nelayan sebelum turun ke laut, serta upacara karangan yakni upacara ritual yang dilakukan oleh para nelayan ketika pulang melaut dengan memperoleh hasil yang berlimpah.

Kondisi ekonomi masyarakat relatif baik dimana mata pencaharian utamanya adalah sebagai nelayan (90%) khususnya nelayan ikan kerapu Untuk mendukung sarana transportasi laut dipulau ini, telah dibangun dermaga pada sisi selatan pulau, selain fasilitas dermaga, terdapat 1 buah sekolah dasar (SD) dan 1 buah Puskesamas pembantu dengan tenaga medis 1 orang mantri, 1 orang suster dan 1 orang dukun, sanitasi lingkungan di pulau ini belum tersedia.

Kita juga dapat menjumpai sebuah masjid hasil swadaya masyarakat dan fasilitas olahraga yakni lapangan bola dan volley. Sebuah instalasi lidtrik dengan generator yang beroperasi pada pukul 18.00 – 22.00 wita melengkapi fasilitasv di pulau ini. Kepiting, crustasea, molusca, cacing pasir, kerang-kerangan, bintang laut, bulu babi, beberapa jenis ikan, seperti ; cumi-cumi, baronang, papakulu (ayam-ayam), mairo (teri), katamba, dan banyar merupakan biota yang umumnya dijumpai diperairan pulau ini. Sejumlah terumbu karang telah rusak, namun masih dapat dijumpai panorama bawah laut yang masih asri untuk lokasi snorkling. Disamping itu, upacara ritual masyarakatnya dapat menjadi atraksi wisata budaya bagi wisatawan.

Pulau Lumu-Lumu

Pulau Lumu-lumu berjarak 28 km dari kota Makassar, termasuk Kelurahan Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah. Posisi pulau ini berada di sebelah timur P. Lanjukang, dan merupakan pulau terdekat dari tiga pulau terluar Makassar. Untuk menuju pulau ini, belum tersedia transportasi reguler, hanya tersedia perahu carteran (sekoci) 40 PK dengan biaya Rp. 600.000,- (pergi-pulang).

 
 
Pulau Lumu-Lumu
Pulau ini berbentuk bulat, memanjang barat laut-tenggara. Sebaran terumbu karang yang mengelilingi pulau ini dengan kedalaman kurang dari 1 m, dan sebagian besar berubah menjadi daratan pada kondisi surut minimum. Perairan sebelah timur dan utara, merupakan alur pelayaran dengan kedalaman besar 30m, sedangkan perairan sebelah selatan sekitar 2 km dari pulau merupakan daerah gosong dengan kedalaman 5 m, kedalaman perairan antara gosong dan perairan sebelah barat P. Lumu-lumu hingga mencapai besar dari 30 m.

Walaupun luas pulau ini hanya 3,75 ha, atau hampir setengah dari luas P. Lanjukang, namun jumlah penduduknya mencapai 984 jiwa atau 30 kali dari P. Lanjukang. Pulau ini merupakan pulau terpadat penduduknya dengan tingkat kepadatan 262 jiwa setiap ha dan tersebar merata di seluruh pulau. Tidak banyak pohon dijumpai di pulau ini. Pohon yang terdapat di pulau ini: pohon kelapa, pohon kayu cina yang menempati sisi utara, barat dan selatan.

Jumlah masyarakat sejahteranya mencapai 90%, dengan mata pencarian utamanya sebagian nelayan, yang hanya menangkap ikan yang memiliki nilai jual tinggi seperti ikan sunu (grouper) dan ikan karang lainnya. Tingkat kesejahteraan masyarakat pulau ini juga tercermin dari peralatan tangkap yang digunakan sudah lebih maju dibanding nelayan tradisional, dengan menggunakan jaring insang (gill net).

Sebuah dermaga kayu terletak pada sisi timur untuk menunjang aktifitas keluar masuknya perahu. Terdapat sebuah masjid permanen, sebuah Sekolah Dasar dan sebuah puskesmas pembantu dengan satu orang suster, pos yandu 1 buah dan dukun beranak sebanyak 2 orang. Banyak dijumpai sumur dengan air payau dan hanya digunakan untuk kebutuhan mencuci dan mandi, sementara rumah penduduk belum banyak dilengkapi dengan jamban. Instalasi listrik dari PLN dengan 2 buah generator yang beroperasi antara pukul 18.00 – 22.00 Wita, dan tersedia fasilitas telekomunikasi.

Biota yang terdapat di pesisir pulau, adalah: padang lamun, rumput laut, kepiting, keong laut, cacing pasir, teripang, sedangkan diperairan sekitar pulau.terdapat beberapa jenis ikan, karang lunak, karang keras, dan padang lamun.

Pulau Barrang Lompo

Pulau Barrang Lompo termasuk wilayah Kecamatan Ujung Tanah, dan berada di sebelah utara P. Barrang Caddi, dan berjarak 13 km dari Makassar. Pulaunya berbentuk bulat, dengn luas 19 Ha. Vegetasi yang umum tumbuh di pulau ini adalah pohon asam, pohon pisang dan pohon sukun, sedangkan pohon kelapa hanya dijumpai disisi timur dan barat pulau ini.

Pulau Barrang Lompo
Konsentrasi pemukiman penduduk berada pada sisi Timur, Selatan, dan Barat dengan jumlah penduduk mencapai 3.563 jiwa dari 800 KK. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan, dilengkapi kurang lebih 50 kapal kayu motor dan sekoci. Kondisi ekonomi masyarakatnya relatif sejahtera.

Fasilitas umum di pulau ini cukup maju dibanding pulau lainnya, tersedia transportasi reguler dari dan ke Makassar dengan kapal motor, biayanya Rp. 6.000,- per orang sekali jalan, sanitasi yang cukup baik, fasilitas pendidikan : 1 buah Taman Kanak-kanak (TK), dan 2 buah Sekolah Dasar. Pulau ini dilengkapi juga dengan fasilitas kessehatan berupa 1 buah Puskesmas dan sebuah lagi puskesmas pembantu dengan tenaga medis yang terdiri dari 1 orang dokter, 1 orang perawat, 1 orang mantri, dan 1 orang bidan. Instalasi listrik dengan 2 generator yang berkapasitas 360 KVA yang beroperasi pada pukul 18.00 – 06.00 WITA. Jalan-jalan utama dibuat dari paving blok. Fasilitas air yang baik dan memiliki 2 buah dermaga (tradisional dan semi permanen), dan di pulau ini terdapat “Marine Field Stasiun Universitas Hasanuddin”.

Tradisi masyarakat yang masih dijumpai di pulau ini adalah upacara Lahir Bathin yakni mensucikan diri sebelum masuk bulan Ramadhan, upacara Songkabala yakni upacara untuk menolak bala yang akan datang, upacara Pa’rappo yakni upacara ritual yang dilaksanakan oleh para nelayan sebelum turun ke laut, dan upacara Karangan yakni upacara ritual yang dilakukan oleh para nelayan ketika pulang melaut dengan memperoleh hasil yang berlimpah.

Selain makam-makam tua dari abad ke XIX yang terdapat di pulau ini sebagai obyek wisata budaya yang menarik dikunjungi, juga kios tempat pembuatan cindera mata dari kerang laut, berada tepat didepan dermaga utama. Pada beberapa spot di perairan pulau ini, kehidupan karang dan ikan karang umumnya masih baik, walaupun ada sebagian karangnya sudah ikut hancur akibat eksploitasi yang tidak ramah lingkungan.

Pulau Kodingareng Keke

Pulau ini terletak disebelah utara Pulau Kodingareng Lompo, dan berjarak 14 km dari Makassar. Bentuk pulaunya memanjang timurlaut – baratdlaya, dengan luas ± 1 Ha. Pada sisi selatan pulau, pantainya tersusun oleh pecahan karang yang berukuran pasir hingga kerikilan, sedangkan pada sisi utara tersusun oleh pasir putih yang berukuran sedang-halus dan bentuknya berubah mengikuti musim barat dan timur. Tidak tersedia transportasi reguler menuju pulau ini, namun dapat menngunakan perahu motor carteran (sekoci), 40 PK dengan biaya Rp. 500.000,- (pergi-pulang)

Pulau Kodingareng Keke
Tidak tercatat adanya penduduk di pulau ini, namun dalam 7 tahun terakhir ini terdapat beberapa bangunan peristirahatan semi permanen bagi wisatawan yang berkunjung ke pulau ini. Bangunan dikelola oleh seorang warga negara Belanda, dan telah menanam kembali beberapa pohon pinus. Namun belakangan bangunan tersebut hancur terkena badai dan tinggal puing²nya saja. Pada sisi barat terdapat dataran penghalang yang terbentuk akibat proses sedimentasi yang tersusun atas material pecahan koral. Ada pasang terendah, terdapat dataran yang cukup luas dibagian barat pantai. Perairan sebelah baratlaut merupakan daerah yang cukup luas dengan kedalaman kecil dari 5 meter hingga mencapai 2,5 km dari garis pantai, sedangkan di perairan sebelah timur dan selatan merupakan alur pelayaran masuk dan keluar dari pelabuhan samudera Makassar.

Perairan di sekitar pulau ini merupakan tempat yang ideal bagi mereka yang menyenangi snorkeling. Kondisi terumbu karangnya umumnya terjaga dengan baik, dengan ikan-ikan karangnya yang cantik membuat panorama bawah lautnya semakin asri. Bagi anda yang tidak menggemari snorkling/diving, dapat anda menikmati hamparan pasir putihnya.

Pulau Kapoposan – Pangkep
Bisa jadi salah satu pulau terindah. Pasir putih dan biota lautnya sangat menakjubkan.
MASYARAKATNYA terbuka kepada siapa saja. Syarat untuk masuk ke pulau ini juga tidak sulit. Cukup bersedia tidak merusak lingkungan dan jangan merugikan masyarakat.

Secara administrasi, Pulau Kapoposan memang tercatat dalam wilayah Desa Mattiro Ujung, Kecamatan Liukang Tupabbiring. Wilayah ini merupakan salah satu dari empat kecamatan yang dimiliki Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) yang wilayahnya berada di pulau. Selain Liukang Tupabbiring, kecamatan lain yang wilayahnya juga berada di kepulauan, yakni Liukang Tupabbiring Utara, Liukang Kalmas, dan Liukang Tangaya.
Warga Pulau Kapoposan sangat ramah kepada setiap pendatang. Jangan heran jika Anda mencoba menelusuri jalan-jalan di pulau itu, setiap warga yang ditemui atau sedang berada di teras rumahnya, akan menyapa dan mengajak mampir.

Jalan-jalan di pagi hari mengelilingi pulau memang menjadi salah satu pilihan menarik. Kicauan burung-burung serta indahnya mentari pagi bisa disaksikan di bibir pantai. Sejuknya udara pagi di hutan-hutan mini pulau ini menambah lengkap perjalanan refreshing Anda. Memang, di Pulau Kapoposan, masih terdapat areal hutan yang belum terjamah. Hutan itu menjadi keindahan tersendiri bagi pulau.

Di hutan inilah sebagian peneliti dari kalangan pelancong ditemukan sejenis burung yang konon hanya ada di Pulau Kapoposan. Namun bagi warga setempat, burung itu dianggap biasa-biasa saja. Pelancong yang kerap ke sana menyebutnya Burung Konde karena memiliki jambul di bagian kepala mirip konde. Burung tersebut mirip Burung Maleo di Sulawesi Utara, namun jambul dan bulunya berbeda.

Namun tidak disadari bahwa burung inilah yang dapat menarik wisatawan ke  Kapoposan . Itu salah satu kekayaan yang dimiliki Pulau Kapoposan. .

Topografi Pulau Kapoposan memang sangat mendukung untuk wisata bawah laut. Makanya olahraga diving atau menyelam sangat cocok di pulau ini. Konstruksi laut yang landai dipenuhi terumbu karang indah. Di bawah pulau ini terdapat beberapa gua yang bisa menambah daya tarik bagi pecinta petualangan bawah laut. Bagi yang suka olahraga berburu ikan dengan panah juga cocok di pulau ini.
Terumbu karangnya sangat bagus dan berwarna-warni. Biar pun tidak menyelam sampai ke dasar laut, terumbu karangnya sudah bisa dilihat.

Bagi Anda yang ingin berwisata ke pulau ini, bisa ke sana saat cuaca bagus. Maklum, kondisi geografis pulau ini yang berbatasan langsung dengan laut lepas, sehingga ombak relatif tinggi terutama di musim hujan. Perjalanan ke sana, khususnya dari Makassar dan Pangkajene bisa ditempuh selama tiga hingga lima jam, tergantung jenis perahu yang digunakan.

Untuk tempat menginap, saat ini terdapat bungalow atau sejenis penginapan milik Pemerintah Kabupaten (pemkab) Pangkep yang bisa disewa. Penginapan lainnya saat ini sedang dibangun .

Pulau Lanjukang,
Pulau Lanjukang, atau disebut juga Pulau Lanyukang, atau Pulau Laccukang, merupakan pulau terluar yang berjarak 40 km dari kota Makassar, termasuk Kelurahan Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah. Untuk menuju pulau ini dari kota Makassar, belum ada transportasi reguler, namun bagi wisatawan dapat menggunakan perahu carteran (sekoci) dengan mesin 40 PK untuk 10 penumpang dengan biaya sewa Rp. 1.OOO.OOO,- (pulang-pergi) .

Bentuk pulau ini memanjang baratdaya – timurlaut, dengan luas mencapai lebih 6 ha, dengan rataan terumbu yang mengelilingi seluas 11 ha. Pada timur merupakan daerah yang terbuka dan terdapat dataran yang menjorok keluar (spit). Sedangkan di sisl barat bagian tengah, terdapat mercusuar. Vegetasi di pulau ini cukup padat, dengan sebaran pohon merata, didominasi oleh pohon pinus dan pohon kelapa serta pohon pisang dibagian tengah pulau.

Sarana umum yang tersedia masih relatif sangat terbatas. Fasilitas pendidikan dan kesehatan belum tersedia. Instalasi listrik dengan 2 buah generator hanya beroperasi antara pukul 17.30 – 21 .00 Wita. Terdapat sebuah sumur air payau di bagian tengah pulau untuk kebutuhan sehari-hari. Kita juga dapat menjumpai 2 buah warung kecil dengan barang dagangan yang sangat terbatas. Selain itu terdapat sebuah mushallah semi permanen. Pemukiman penduduk terkonsentrasi di sisi utara pulau yang relatif lebih aman pada musim timur dan barat.

Resort Pulau Lanjukang
Pulau ini belum dilengkapi dengan fasilitas dermaga kapal. Disisi bagian barat, pada surut terendah terdapat rataan terumbu karang yang mencapai jarak 1 km dan pada jarak 2 km terdapat daerah yang mempunyai kedalam yang curam hingga lebih 100 m. Wilayah perairan disisi selatan, timur, dan utara pulau ini merupakan alur pelayaran kapal.

Fasilitas resort sudah tersedia berupa 2 buah bangunan rumah batu semi permanen sebagai guest house bagi wisatawan ke pulau ini. Walaupun fasilitas sangat terbatas, bagi mereka yang menyenangi suasana alami, pulau ini ini salah satu tempat yang ideal bagi mereka yang ingin melakukan camping atau sekedar berjemur di pantai pasir putih yang indah dan bersih, atau bagi mereka yang gemar bersnorkling disekitar perairan pulau ini, panorama taman laut dan keanekaragaman biotanya dengan laut yang bersih menjadi daya tarik tersendiri.

Kondisi terumbu karang di sekitar pulau umumnya masih baik dan sangat menarik untuk kegiatan snorkling. Kita dapat menjumpai berbagai jenis spesies karang, karang lunak, ikan karang, dan ikan hias, serta biota lautnya. Umumnya, pulau ini dimanfaatkan oleh wisatawan pemancing sebagai tempat transit, sebelum meneruskan ke perairan Pulau Taka Bakang dan Pulau Marsende (wilayah perairan Kabupaten Pangkajene Kepulauan) untuk kegiatan “sport fishing”.

Mangrove di Tanah Keke – Takalar

 
Tanah Keke merupakan Pulau yang sangat besa, Pulau ini merupakan pulau yang terdiri dari daratan dan rawa-rawa, pulau ini masih memiliki banyak hutan mangrove yang luas dan padat. Penduduk di pulau ini memanfaatkan mangrove sebagai kayu bakar n kulit batang mangrove di jadikan timbunan.
Pulau ini bisa dikatakan kekayaan alamnya masih terjaga, terumbu karang dan mangrovenya. di pulau ini jg bisa ditemukan penyu sisik, Dugong dan kuda laut (Seahorse).
 
Di Pulau ini memiliki beberapa jenis mangrove, seperti Rhizophora, Soneratia, Ceriops dan Mangrove Jenis Lainnya. Di Pulau ini yang paling mendominasi adalah Jenis Mangrove Rhizophora dari Spesies Rhizophora stylosa, hampir 70% mangrove jenis ini yang mendominasi dari keseluruhan mangrove yang ada di Pulau ini.
Gambar dan Jenis Mangrove
1. Rhizophora stylosa
Posting Lama ►
 

Total Pageviews