Saturday, September 27, 2014

Pengertian Kostum atau Busana Tari


Yang dimaksud kostum atau busana tari adalah busana / kostum atau semua kebutuhan sandang yang dikenakan pada tubuh penari di atas pentas yang sesuai dengan peranan yang dibawakan. Tata busana dalam tari haruslah sesuai dengan konsep garapan yang akan ditampilkan baik desain busana maupun warnanya (misalnya Anoman busananya putih).

Yang harus diperhatikan dalam penataan busana tari antara lain :
1.   Memperhatikan efek lampu serta penyusunan komposisi warna.
2. Kemungkinan-kemungkinan terhadap kesesuaian gerak penari dengan karakter dan peranannya.
3. Harus memperhitungkan jarak antara panggung dan penontonnya.

Pada prinsipnya kostum tari tidak dapat dipisahkan dengan rias atau make up. Tata rias dalam tari sangat berbeda dengan rias sehari-hari, karena rias dalam pagelaran tari bukan hanya sekedar mengubah wajah penari supaya kelihatan lebih tampan atau cantik, akan tetapi harus benar-benar disesuaikan dengan peranan yang akan dibawakan oleh penari tersebut. Tidak jarang, seorang penari yang sehari-harinya sudah cantik malahan diperjelek, karena memerankan seorang yang sudah tua.

Rias dan busana dalam seni tari meliputi :
1.   Rias Baku
Rias yang tidak bisa diubah / dikreasi, biasanya digunakan untuk tari yang mengambil dari tokoh wayang. Contoh : Tari Gatutkaca, Tari Srikandhi Mustakaweni, Tari Anoman.

2. Rias Tidak Baku
Rias yang bisa diubah / dikreasi, biasanya digunakan untuk tari tradisi kreasi atau tari kreasi baru. Contoh : Tari Pang-Pung, Tari Kipas dan lain sebagainya.
Dengan demikian penataan rias dan busana pada tari meyesuaikan dengan jenis tariannya, dengan melihat rias busana dan penari, penonton dapat menangkap suatu makna dari jenis tari yang dibawakan.

Adapun fungsi rias dan busana dalam seni tari adalah :
1.   Sebagai pelengkap pendukung yang dapat memberi keindahan.
2. Membantu menghidupkan perwatakan atau karakter penari
3. Menjaga dan memberi nilai tambah pada segi estetika


Sumber : Buku Kesenian Daerah kelas 8

Sejarah dan Perkembangan Tari di Indonesia


Perkembangan seni tari dipengaruhi oleh tingkat peradaban masyarakat pada saat itu dan juga sangat ditentukan oleh situasi dan kondisi pemerintahannya. Untuk mengetahui perkembangan seni tari, secara garis besar diperkirakan pertumbuhannya didasarkan pada periode tahapan-tahapan sebagai berikut :

1.         Tari pada Jaman Prasejarah / Primitif
Pada jaman Prasejarah bentuk gerak tari sangat sederhana,hanya berupa hentakan kaki dan gerak tangan yang menimbulkan ritme pada peralatan yang dibawanya, dengan menirukan gerak binatang ataupun alam sekitarnya. Iringan yang digunakan juga sangat sederhana, monoton hanya berupa tepuk tangan ataupun nyanyian. Bentuk penyajian tari umumnya dilakukan secara kolektif (orang banyak) denagn komposisi melingkar menghadap ke dalam. Tari pada jaman prasejarah biasanya digunakan sebagai tari upacara, yang mana dalam upacara tersebut ada tujuan atau maksud tertentu yang melatarbelakanginya, maka pada umumnya bersifat sakral, magis dan dipengaruhi adanya kepercayaan animisme dan dinamisme.

2.        Tari pada Jaman Kerajaan Hindu
Pada jaman Kerajaan Hindu seni tari banyak dipengaruhi oleh kebudayaan dari India antara lain cerita Ramayama dan Mahabarata. Karena pengaruh Agama Hindu, seni tari digunakan sebagai media penyembahan terhadap para dewa, maka seni tari menjadi bagian yang sangat penting dalam upacara-upacara keagamaan, adapun bentuk-bentuk gerak tari peninggalan jaman Hindu dapat kita lihat pada relief-relief dinding Candi Prambanan, Candi Penataran dan candi-candi lainnya yang merupakan peninggalan kebudayaan Indonesia-Hindu dengan bentuk ragam gerak yang sudah mulai dikenalkan. Seni Tari pada jaman Kerajaan Hindu mengalami perkembangan yang sangat pesat. Karena mendapat perhatian dari raja dan para bangsawan seperti tari-tarian upacara adat, keagamaan yang bernilai artistik tinggi yang sekarang disebut tari tradisi klasik yang berasal dari keraton. Antara lain Tari Bedhaya dan Tari Srimpi. Menurut perbedaan, Tari Bedhaya pada tari jaman Hindu berjumlah 7 orang yang melambangkan 7 bidadari dari kahyangan, sedangkan Tari Srimpi berjumlah 
4 orang penari.

3.        Tari pada Jaman Kerajaan Islam
Dengan masuknya Agama Islam ke Indonesia, ada pergeseran nilai dan fungsi seni tari. Ketika jaman Hindu, seni tari digunakan sebagai media penyembahan kepada dewa, maka pada jaman Kerajaan Islam kesenian dikembangkan sebagai sarana media penyebaran dan penyuluhan Agama Islam dengan menyesuaikan peradaban masyarakat yang sudah menganut ajaran Islam.

Sebagai contoh :
a.       Tokoh penyebar Agama Islam / Wali banyak menciptakan bentuk-bentuk sekar / tembang yang bernafaskan Islam.
b.       Tari Bedhaya yang pada jaman Hindu dengan penari 7 orang melambangkan 7 bidadari di kahyangan, pada jaman Sultan Agung menjadi 9 orang yang melambangkan Wali Sanga.
c.        Di lingkungan istana setiap peringatan lahirnya Nabi Muhammad SAW dibunyikan gamelan Sekati yang sekarang menjadi acara Sekaten.

4.       Tari Pada Jaman Penjajahan
Pada jaman Penjajahan seni tari tidak mengalami perkembangan akibat pada waktu itu negara kita dijajah oleh bangsa asing, sehingga bentuk kesenian banyak dikesampingkan, karena rakyat bergejolak ingin melepaskan diri dari penjajah. Hanya di lingkungan istana seni tari masih tetap terpelihara untuk kepentingan upacara-upacara di istana, misalnya : untuk menyambut tamu, untuk penobatan putra-putri raja dan sebagainya. Sedangkan di kalangan rakyat, hanya kadang-kadang saja timbul jenis-jenis kesenian sebagai hiburan selesai panen. Adapun peninggalan jaman penjajahan bisa kita lihat di daerah Purworejo ada kesenian Dolalak yang menirukan tingkah laku serdadu-saedadu Belanda pada waktu berbaris. Menari dan menyanyi dengan bunyi do-la-la (dari 1 6 6) hingga sampai sekarang terkanal dengan Dolalak, menggunakan busana yang menirukan pakaian opsir Belanda lengkap dengan atributnya. Disamping itu ada pula pengaruh yang timbul di lingkungan istana yang tergarap dengan cermat yaitu Tari Srimpi yang menggunakan properti berupa pistol yang melambangkan perlawanan terhadap penjajah.

5.       Tari pada Jaman Kemerdekaan sampai sekarang
Setelah kemerdekaan tercapai, seni tari banyak dipengaruhi oleh kondisi sebelumnya, yaitu adanya keinginan yang sangat kuat untuk merdeka, maka bentuk-bentuk tari banyak berupa bentuk kepahlawanan dan seni tari mulai difungsikan serta digarap kembali sebagai tari upacara, tari adat / tradisi ataupun tari hiburan. Pada saat ini pembinaan dan pengembangan kesenian di Indonesia berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) serta Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya. Kedua departemen ini merupakan lembaga pemerintahan yang menangani pembinaan dan pengembangan kesenian. Kegiatannya antara lain mengadakan kegiatan-kegiatan kesenian dan mempunyai tugas mempersiapkan berbagai misi kesenian yang dikirim keluar negeri aau dalam negeri.


Sumber : Buku Kesenian Daerah kelas 8 (dengan sedikit penggubahan)

Tuesday, September 23, 2014

Istilah Gerakan Kaki Pada Tari Tradisional Jawa Tengah

Karya : Tien Kusumawati 

Beberapa istilah gerakan kaki pada tari tradisional Jawa Tengah, antara lain:
1.     Nggroda
Adalah bentuk dasar gerakan kaki dimana posisi telapak kaki saling merapat bagian tumit sedang bagian depan membuka 45 derajat (menghadap sudut)

2.      Mendak
Adalah bentuk dasar kaki yang paling dominan, yaitu posisi lutut kaki ditekuk (merendah). Posisi ini dilakukan selama menari.

 3. Tanjak Kanan
Adalah posisi kaki dimana letak telapak kaki kanan agak di depan telapak kaki kiri dan kaki kiri dibelakang kaki kanan. Pada tari putri, tidak ada jarak antara telapak kaki kanan dan kaki kiri. Sedang pada tari putra alus berjarak satu telapak kaki, dan pada tari putra gagah lebih lebar lagi, dengan ukuran lebar kurang lebih 2 x telapak kaki.
     4. Tanjak Kiri
Kebalikan dari tanjak kanan.
5.      Sila
Adalah posisi duduk bersila. Kaki kanan didepan kaki kiri.

6.      Jengkeng
Adalah posisi duduk di atas kaki. Jengkeng pada ketigajenis tari sangat berbeda. Pada tari putri posisi kaki kanan sebagai tumpuan duduk, sedang posisi kaki kiri didepan kaki kanan
Pada tari putra, posisi kaki kanan sebagai tumpuan duduk, sedang kaki kiri membuka kesamping kiri.

7.      Srisig
Srisig adalah posisi atau gerakan lari-lari kecil, dengan posisi kaki jinjit dan mendak (lutut ditekuk)

8.      Jinjit
Berdiri dengan menggunakan ujung telapak kaki bagian depan.

9.      Trecet
Trecet adalah gerakan seperti lari ditempat dengan posisi kaki membuka dan jinjit.

10. Kenser
kenser adalah gerakan kaki dengan berpindah posisi menggeserkan telapak kaki secara bersamaan

11. Lumaksana
Lumaksana dalam tari Jawa adalah  gerakan berjalan. Baik itu berjalan kedepan (maju) maupun berjalan ke arah belakang (mundur).

12. Enjeran
Lumaksana/jalan yang dilakukan seperti jalan kepiting/jalan miring. Jalan kesamping baik kekanan maupun ke kiri.

13. Debeg
Debeg adalah menghentakkan telapak kaki bagian depan. Debeg kanan yang dihentakkan kaki kanan, sedang debeg kiri yang dihentakkan kaki kiri. Setiap gerakan debeg selalu diikuti gejug. Debeg dan gejug merupakan satu rangkaian, namun gejug tidak selalu diawali dengan debeg. Gejug dapat berdiri sendiri.

14. Gejug
Gejug adalah menghentakkan kaki bagian telapak kaki kebelakang kaki yang menjadi tumpuan. gejug ada 2, yaitu gejug kanan dan gejug kiri

Masih banyak istilah gerak yang belum saya tulis. namun inilah gerakan-gerakan yang sering dipakai pada pelajaran seni tari, baik praktek maupun teori seni tari. semoga bermanfaat.


Karya : Tien Kusumawati 

Tuesday, September 16, 2014

Macam-Macam Contoh Tarian Klasik di Indonesia

Beberapa jenis tari yang ada antara lain :
Tari Klasik

– Tari Bedhaya :JUMENENGAN MANGKUNEGARANBudaya Islam ikut mempengaruhi bentuk-bentuk tari yang berangkat pada jaman Majapahit. Seperti tari Bedhaya 7 penari berubah menjadi 9 penari disesuaikan dengan jumlah Wali Sanga. Ide Sunan Kalijaga tentang Bedhaya dengan 9 penari ini akhirnya sampai pada Mataram Islam, tepatnya sejak perjanjian Giyanti pada tahun 1755 oleh Pangeran Purbaya, Tumenggung Alap-alap dan Ki Panjang Mas, maka disusunlah Bedhaya dengan penari berjumlah 9 orang. Hal ini kemudian dibawa ke Kraton Kasunanan Surakarta. Oleh Sunan Pakubuwono I dinamakan Bedhaya Ketawang, termasuk jenis Bedhaya Suci dan Sakral, dengan nama peranan sebagai berikut :

a. Endhel Pojok
b. Batak
c. Gulu
d. Dhada
e. Buncit
f. Endhel Apit Ngajeng
g. Endhel Apit Wuri
h. Endhel Weton Ngajeng
i. Endhel Weton Wuri

Berbagai jenis tari Bedhaya yang belum mengalami perubahan :
– Bedhaya Ketawang lama tarian 130 menit
– Bedhaya Pangkur lama tarian 60 menit
– Bedhaya Duradasih lama tarian 60 menit
– Bedhaya Mangunkarya lama tarian 60 menit
– Bedhaya Sinom lama tarian 60 menit
– Bedhaya Endhol-endhol lama tarian 60 menit
– Bedhaya Gandrungmanis lama tarian 60 menit
– Bedhaya Kabor lama tarian 60 menit
– Bedhaya Tejanata lama tarian 60 menit

Pada umumnya berbagai jenis Bedhaya tersebut berfungsi menjamu tamu raja dan menghormat serta menyambut Nyi Roro Kidul, khususnya Bedhaya Ketawang yang jarang disajikan di luar Kraton, juga sering disajikan pada upacara keperluan jahat di lingkungan Istana. Di samping itu ada juga Bedhaya-bedhaya yang mempunyai tema kepahlawanan dan bersifat monumental.
Melihat lamanya penyajian tari Bedhaya (juga Srimpi) maka untuk konsumsi masa kini perlu adanya inovasi secara matang, dengan tidak mengurangi ciri dan bobotnya.

Contoh Bedhaya garapan baru :– Bedhaya La la lama tarian 15 menit
– Bedhaya To lu lama tarian 12 menit
– Bedhaya Alok lama tarian 15 menit
dll.

Tari SrimpiTari SrimpiTari Srimpi yang ada sejak Prabu Amiluhur ketika masuk ke Kraton mendapat perhatian pula. Tarian yang ditarikan 4 putri itu masing-masing mendapat sebutan : air, api, angin dan bumi/tanah, yang selain melambangkan terjadinya manusia juga melambangkan empat penjuru mata angin. Sedang nama peranannya Batak, Gulu, Dhada dan Buncit. Komposisinya segi empat yang melambangkan tiang Pendopo. Seperti Bedhaya, tari Srimpipun ada yang suci atau sakral yaitu Srimpi Anglir Mendhung. Juga karena lamanya penyajian (60 menit) maka untuk konsumsi masa kini diadakan inovasi. Contoh Srimpi hasil garapan baru :
Srimpi Anglirmendhung menjadi 11 menit
Srimpi Gondokusumo menjadi 15 menit
dll.

Beberapa contoh tari klasik yang tumbuh dari Bedhaya dan Srimpi :
a. Beksan Gambyong : berasal dari tari Glondrong yang ditarikan oleh Nyi Mas Ajeng Gambyong. Menarinya sangat indah ditambah kecantikan dan modal suaranya yang baik, akhirnya Nyi Mas itu dipanggil oleh Bangsawan Kasunanan Surakarta untuk menari di Istana sambil memberi pelajaran kepada para putra/I Raja. Oleh Istana tari itu diubah menjadi tari Gambyong.
Selain sebagai hiburan, tari ini sering juga ditarikan untuk menyambut tamu dalam upacara peringatan hari besar dan perkawinan.

Adapun ciri-ciri Tari ini :
– Jumlah penari seorang putri atau lebih
– Memakai jarit wiron
– Tanpa baju melainkan memakai kemben atau bangkin
– Tanpa jamang melainkan memakai sanggul/gelung
– Dalam menari boleh dengan sindenan (menyanyi) atau tidak.

b. Beksan Wireng : berasal dari kata Wira (perwira) dan ‘Aeng’ yaitu prajurit yang unggul, yang ‘aeng’, yang ‘linuwih’. Tari ini diciptakan pada jaman pemerintahan Prabu Amiluhur dengan tujuan agar para putra beliau tangkas dalam olah keprajuritan dengan menggunakan alat senjata perang. Sehingga tari ini menggambarkan ketangkasan dalam latihan perang dengan menggunakan alat perang. Ciri-ciri tarian ini :
– Ditarikan oleh dua orang putra/i
– Bentuk tariannya sama
– Tidak mengambil suatu cerita
– Tidak menggunakan ontowacono (dialog)
– Bentuk pakaiannya sama
– Perangnya tanding, artinya tidak menggunakan gending sampak/srepeg, hanya iramanya/temponya kendho/kenceng
– Gending satu atau dua, artinya gendhing ladrang kemudian diteruskan gendhing ketawang
– Tidak ada yang kalah/menang atau mati.

c. Tari Pethilan : hampir sama dengan Tari Wireng. Bedanya Tari Pethilan mengambil adegan / bagian dari ceritera pewayangan.
Ciri-cirinya :– Tari boleh sama, boleh tidak
– Menggunakan ontowacono (dialog)
– Pakaian tidak sama, kecuali pada lakon kembar
– Ada yang kalah/menang atau mati
– Perang mengguanakan gendhing srepeg, sampak, gangsaran
– Memetik dari suatu cerita lakon.
Contoh dari Pethilan :
– Bambangan Cakil
– Hanila
– Prahasta, dll.

d. Tari Golek : Tari ini berasal dari Yogyakarta. Pertama dipentaskan di Surakarta pada upacara perkawinan KGPH. Kusumoyudho dengan Gusti Ratu Angger tahun 1910. Selanjutnya mengalami persesuaian dengan gaya Surakarta. Tari ini menggambarkan cara-cara berhias diri seorang gadis yang baru menginjak masa akhil baliq, agar lebih cantik dan menarik. Macam-macamnya :
– Golek Clunthang iringan Gendhing Clunthang
– Golek Montro iringan Gendhing Montro
– Golek Surungdayung iringan Gendhing Ladrang Surungdayung, dll.

e. Tari Bondan : Tari ini dibagi menjadi :
– Bondan Cindogo
– Bondan Mardisiwi
– Bondan Pegunungan/Tani.
Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi merupakan tari gembira, mengungkapkan rasa kasih sayang kepada putranya yang baru lahir. Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak yang ditimang-timang akhirnya meninggal dunia. Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak, serta perlengakapan tarinya sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan Cindogo.

Ciri pakaiannya :– Memakai kain Wiron
– Memakai Jamang
– Memakai baju kotang
– Menggendong boneka, memanggul payung
– Membawa kendhi (dahulu), sekarang jarang.
Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. Tapi sekarang ini menurut kemampuan guru/pelatih tarinya. Sedangkan Bondan Pegunungan, melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang, sawah, tegal pertanian. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing-gendhing lengkap.

Ciri pakaiannya :– mengenakan pakaian seperti gadis desa, menggendong tenggok, memakai caping
dan membawa alat pertanian.
– Di bagian dalam sudah mengenakan pakaian seperti Bondan biasa, hanya tidak memakai jamang tetapi memakai sanggul/gelungan. Kecuali jika memakai jamang maka klat bahu, sumping, sampur, dll sebelum dipakai dimasukkan tenggok.
Bentuk tariannya ; pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo / Mardisiwi.

f. Tari Topeng :
Tari ini sebenarnya berasal dari Wayang Wong atau drama. Tari Topeng yang pernah mengalami kejayaan pada jaman Majapahit, topengnya dibuat dari kayu dipoles dan disungging sesuai dengan perwatakan tokoh/perannya yang diambil dari Wayang Gedhog, Menak Panji. Tari ini semakin pesat pertumbuhannya sejak Islam masuk terutama oleh Sunan Kalijaga yang menggunakannya sebagai penyebaran agama. Beliau menciptakan 9 jenis topeng, yaitu topeng Panji Ksatrian, Condrokirono, Gunung sari, Handoko, Raton, Klono, Denowo, Benco(Tembem), Turas (Penthul). Pakaiannya dahulu memakai ikat kepala dengan topeng yang diikat pada kepala.

Tari Garapan Baru (Kreasi Baru)
Meskipun namanya ‘baru’ tetapi semua tari yang termasuk jenis ini tidak meninggalkan unsur-unsur yang ada dari jenis tari klasik maupun tradisional.

Sebagai contoh :a. Tari Prawiroguno
Tari ini menggambarkan seorang prajurit yang sedang berlatih diri dengan perlengkapan senjata berupa pedang untuk menyerang musuh dan juga tameng sebagai alat untuk melindungi diri.
b. Tari Tepak-Tepak Putri
Tari yang menggambarkan kelincahan gerak remaja-remaja putri sedang bersuka ria memainkan rebana, dengan iringan pujian atau syair yang bernafas Islam.

Contoh Tari Kreasi adalah

Yang dimaksud dengan tari kreasi di sini adalah suatu bentukgarapan/karya tari setelahnya bentuk-bentuk tari tradisi hidup berkembangcukup lama di masyarakat. Bentuk tarian ini bermunculan sebagai ungkapan rasa bebas, mulai ada gejalanya setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945. Kebebasan ini mendorong pula kreativitas para seniman tari, setelahnya melihat/merasakan ada perubahan jaman dalam kehidupan masyarakatnya dan menjadikan motivasi untuk membuat karya-karya baru memenuhi kebutuhan jamannya.
Pada garis besarnya tari kreasi dibedakan menjadi dua golongan yaitu:

1.Tari Kreasi Baru Berpolakan Tradisi
Yaitu tari kreasi yang garapannya dilandasi oleh kaidah-kaidah tari tradisi, baik dalam koreografi, musik/karawitan, rias dan busana, maupun tata teknik pentasnya. Walaupun ada pengembangan tidak menghilangkan esensiketradisiannya.

2.Tari Kreasi Baru Tidak Berpolakan Tradisi (Non Tradisi)
Tari Kreasi yang garapannya melepaskan diri dari pola-pola tradisi baik dalam hal koreografi, musik, rias dan busana, maupun tata teknik pentasnya. Walaupun tarian ini tidak menggunakan pola-pola tradisi, tidak berarti sama sekali tidak menggunakan unsur-unsur tari tradisi, mungkin saja masih menggunakannya tergantung pada konsep gagasan penggarapnya. Tarian ini disebut juga tari modern, yang istilahnya berasal dari kata Latin “modo” yang berarti baru saja.
Contoh:
1. Tari Merak
2. Tari Yapong

3. Tari Manukrawa

Contoh Tari Klasik adalah

Tari yang berkembang di kalangan masyarakat golongan bangsawan atau menak yang berkembang pada zaman kerajaan. Pada waktu itu, keadaan sosial masyarakat terbagi menjadi 2 golongan, yaitu golongan bangsawan dan golongan masyarakat biasa.

Contoh:

1. Tari Keurseus

TARI KAWITAN (KEURSEUS)

(KEURSEUS) TARI KAWITAN
Istilah Kursus berasal dari bahasa Belanda, yakni Cursus atau orang sunda menyebutnya “Keurseus”. Kemudia lahirlah sebuah nama tari yaitu tari Keurseus atau kursus. Tari kursus merupakan perkembangan dari tari tayub yang tumbuh dan berkembang didaerah Priangan pada masa lalu (masa ke emasan menak baheulak kaum bangsawan)

LATAR BELAKANG TARI KAWITAN (KERSEUS)
Tari kursus merupakan perkembangan dari tari tayub yang tumbuh dan berkembang didaerah Priangan pada masa lalu (masa ke emasan menak baheulak kaum bangsawan )
1. GERAK POKOK
2. GERAK PERALIHAN
3. GERAK PENGHUBUNG

3 ragam jenis gerak dalam tari kawitan Busana Kawitan menggambarkan busana kalangan menak pada masa lalu yaitu : Sinjang rereng, Baju takwa, kewer, beber, bendo citakan, stagen, sampur, keris, aksesoris, dll

BUSANA TARI KAWITAN RIAS TARI KAWITAN
Dalam rias tari kawitan make up setipis mungkin dan gunakan :
Alis pasekon
Eye shadow warna natural
Kumis tipis
Lipstik merah
Cedo 
Godek

2. Tari Bedhaya
3. Tari Klono

Contoh Tari Rakyat adalah

Tari rakyat adalah tari yang berkembang di kalangan rakyat biasa. Ungkapkan gerak bersifat bebas tanpa ada aturan yang mengikat.

Contoh:

1. Tari Reog Ponorogo

2. Tari Ketuk Tilu

3. Tari Joged
◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Total Pageviews

Copyright 2013 Macam-Macam Tarian di Indonesia Template by Hand's. Powered by Blogger