Sunday, October 27, 2013

Sejarah Tradisi Nadran Masyarakat Cirebon dan Desa Mertasinga



1. Tradisi Nadran Pra Islam
Berdasarkan buku penelitian Dr. Heriyani Agustina, Kepel Press-2009 diceritakan tentang buku “Negara Kertabumi” karya Pangeran Wangsakerta dengan sumber cerita dari Kartani (Penasehat Budaya Cirebon) disebutkan bahwa asal-usul pelaksanaan budaya Nadran adalah berawal pada tahun 410 M, dimana Raja Purnawarman, raja ketiga Kerajaan Tarumanegara yang terletak di dekat sungai Citarum yang mengalir dari Bandung ke Indramayu, memerintahkan Raja Indraprahasta Prabu Santanu ( yang sekarang Kec. Talun, Kab. Cirebon) untuk memperdalam atau memperbaiki tanggul, yang bertujuan untuk menduplikat Sungai Gangga di India. Agar tanggul sungai lebih kuat, dibuatlah prasastinya tangan sang Prabu Purnawarman yang sekarang belum ditemukan, serta sang Prabu memberikan hadiah-hadiah untuk Brahmana 500 ekor sapi, pakaian-pakaian dan satu ekor gajah untuk Raja Indraprahasta (Prabu Santanu). Duplikat Sungai Gangga tersebut untuk keperluan mandi suci. Sungai yang dimaksud adalah sungai Gangganadi dan muaranya di sebut Subanadi (muara adalah perbatasan antara sungai dan laut). Sungai tersebut sekarang adalah sungai Kriyan, terletak di belakang Keraton Kasepuhan Kota Cirebon. Mandi suci di sungai Gangganadi dilakukan setahun sekali, sebagai acara ritual untuk menghilangkan kesialan dan sebagai sarana mempersatukan rakyat dan pemujaan kepada sang pencipta.( Sumber Kartani dan Kaenudin)

Sebetulnya tradisi Nadran bukanlah tradisi asli daerah Cirebon apalagi masyarakat Desa Mertasinga, karena tradisi ini banyak juga ditemukan dibeberapa daerah lain dengan nama yang berbeda, seperti di Jawa Tengah dikenal dengan tradisi Labuhan, karena ada beberapa kepercayaan bahwa apabila mereka tidak melakukan sedekah ini, mereka berkeyakinan bahwa Dewa Baruna akan murka dan segera mengirim bencana melalui dewa petir, Dewa Halilintar dan Dewa Angin yang mengakibatkan nelayan tidak dapat melaut. Akhirnya tidak dapat mencari ikan sebagai sumber kehidupan utama.
Penggunaan daging kerbau sebagai persembahan dan bukanya daging sapi, dikarenakan daging kerbau lebih banyak, juga ada kemungkinan sapi merupakan hewan yang dianggap suci dalam agama Hindu, sehingga harus dipelihara dan tidak boleh dibunuh. Selain itu juga sapi dianggap jelmaan dari dewa.

Selain melarung ritual lainnya adalah pembacaan mantra-mantra sambil membakar dupa atau kemenyan yang bertujuan memohon keselamatan kepada para Dewa Laut. Mantra juga berfungsi untuk memanggil arwah para leluhur yang telah ikut menjaga keselamatan mereka dalam mencari rejeki di laut. Kesan magis pada asap dupa dan kemenyan bertujuan untuk ketenangan sekaligus permohonan kehadirat Yang Maha Kuasa, agar permohonan mereka lebih cepat sampai ke hadapan Tuhan serta cepat dikabulkan segala permohonan atau permintaannya.

Dalam rangkaian tradisi Nadran juga di tampilkan hiburan Wayang yang merupakan kesenian dari Hinduisme dan animisme, yang dapat diperankan seperti tokoh Mahabarata dan Ramayana. Pertunjukan lain dari wayang yang sangat kental dengan Hinduisme dan animismenya adalah wayang dengan lakon Wudug Basuh, yang menceritkan tentang pencarian Tirta Amerta (air kehidupan) oleh para Dewa, dengan cara mengaduk air laut menggunakan ekor naga Basuki. Tirta Amerta diperlukan untuk mengurapi para Dewa agar mereka terhindar dari kematian, tapi mereka tidak dapat terhindar dari sakit. Oleh karena itu, masing-masing-masing dewa diberi tempat dikayangan Suralaya. Namun demikian ada kelanjutannya, air laut yang diaduk oleh para dewa tersebut mengakibatkan mahluk laut terganggu, lalu bermuculan ke daratan sambil membawah wabah penyakit wudug, budug (bisul), penyakit-penyakit lainnya. untuk mengatasi wabah ini para Dewa meminta bantuan pada Sanghiyang Baruna untuk menentramkan mahluk laut supaya tidak mengganggu penghuni daratan. Sangyang Baruna melantunkan jampa mantra di baskom air kembang, lalu air kembang yang telah diberi mantra disiramkan pada layar perahu nelayan (Prawiraredja,2005:164).

Meskipun Nadran bernuansa magis dan animisme, masyarakat primitif pada waktu itu telaah memiliki kesadaran mistik terhadap keberadaan penguasa alam semesta, disertai rasa terima kasih dan bermohon kepada Yang Maha Kuasa suapaya diberi kebaikan dan keselamatan.

2. Tradisi Nadran setelah kedatangan Islam             
Tradisi-tradisi Nadran setelah kedatangan Islam tidak lagi dimaknai sebagai sebuah persembahan kepada Sanghyang Jagat Batara (Penguasa Alam Semesta), akan tetapi lebih dimaknai sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas karunia yang diberikan-Nya kepada para nelayan, baik itu karunia kesehatan, kekuatan maupun hasil tangkapan ikan yang berlimpah. Mantra-mantra yang dibacakan dalam prosesi Nadran diganti dengan pembacaan do’a-do’a yang dipimpin oleh seorang ulama. Lauk pauk hasil bumi yang diikutsertakan dalam upacara ini dibagi-bagikan kepada penduduk desa dangan simbolisasi pembagian berkah. (Dasuki,1979:1011).

Pelarungan kepala kerbau ke laut tetap dilakukan, tapi tidak lagi dimaknai sebagai persembahan kepada Dewa Baruna pelarungan ini lebih bersimbol pada membuang kesialan, sekaligus untuk mengingat bahwa laut merupakan sumber kehidupan bagi para nelayan, sehingga perlu dijaga dan dilestarikan.
Nuansa keislaman juga nampak dalam pementasan seni wayang dan tari. Wayang yang dipertunjukan adalah wayang Golek Cepak dan wayang kulit Dakwah (sebelumnya wayang dibuat dari gulungan kain yang bergambar lalu diubah menjadi wayang kulit yang berasal dari kulit kerbau atau lembu ) yang merupakan asli Cirebon yang alur ceritanya diambil dari Babad Cirebon, Babad Walisanga dan Babad Ambiya, yang menggambarkan sejarah Islamisasi di tanah Jawa yang dilakukan para Wali, beserta cerita perjuangan Rasullah SAW dan sahabat-sahabatnya dalam menegakkan syariat Islam.
Pagelaran wayang semalam suntuk dalam tradisi Nadran bukan hanya untuk bergadang, akan tetapi masyarakat mendapatkan penyuluhan dan pembekalan rohani. Pagelaran ini diistilahkan dengan tabarukan, yaitu mencari keberkahan atas syukur yang mendalam, dengan membuang kebiasaan-kebiasaan buruk dan menggantinya dengan nilai-nilai positif (Dahuri,2004:218)

3. Tradisi Nadran Dewasa ini
Proses pelaksanaan tradisi Nadran di kali Bondet berdasarkan cerita masyarakat setempat dari dulu hingga sekarang adalah sama dan hampir tidak ada perubahan berarti kalaupun ada hanya proses kelengkapan hiburan yang kadang disesuaikan dengan tingkat kemampuan para nelayan atau tengkulak, dan berdasarkan fakta dilapangan disetiap tahunnya hampir hampir seluruh warga masyarakat khusunya yang berdekatan dengan kali Bondet turut memeriahkan tradisi ini dengan mengelar berbagai hiburan tambahan selain hiburan utama, bahkan para pedagang pun tak ketinggalan dari pintu masuk jalan raya sampai ke pusat kegiatan (biasanya di TPI KUD Mina Waluya Desa Bondet) disesaki berbagai macam para pedagang dan hiburan tambahan lainnya seperti permainan modern.

Menurut Dr. Heriyani Agustina, bahwa dalam kontek kekinian, Nadran terkadang lebih terlihat sebagai upaya pelestarian tradisi, dan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat. Ia sering kehilangan ruhnya, ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang telah mulai meninggalkan pesan-pesan moral para pendahulunya, terutama tokoh-tokoh Islam dan para pendiri Cirebon yang tersirat melalui simbol-simbol tradisi. Bahkan ketika menampilkan lakon para sufi atau para wali dalam pagelaran wayang sebagai media pengajaran masyarakat supaya hidup sederhana dan selalu memperhatikan kaum yang lemah.. sebaliknya justru Nadran malah dijadikan sarana untuk berfoya-foya dengan tidak menghiraukan pendekatan kaum yang lemah. Bahkan sekarang ada kecenderungan bahwa pesta tradisi Nadran lebih banyak dalam bentuk campur sari dan dangdutan, yang terkadang malah ada yang mengarah kepada kemaksiatan.

Kalau dicermati secara rinci dari sisi ekonomi, bahwa tradisi Nadran yang dilaksanakan oleh masyarakat Nalayan kali Bondet, sebenarnya sangat menguntungkan bagi masyarakat maupun daerah, hal ini dikarenakan kegiatan nadran ini sangat menarik para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Bahkan lewat tradisi ini kadang masyarakat Desa Mertasinga juga diuntungkan dari para wisatawan yang kadang juga turut bertransaksi ekonomi lainnya disamping menikmati hiburan-hiburan yang sedang ditampilkan


Desa Mertasinga merupakan bagian dari Wilayah Kec. Gunung Jati Kabupaten Cirebon, banyak sejarah yang telah ditorehkan di desa ini mengingat desa Mertasinga mempunyai jalur tranfortasi air berupa kali Bondet yang dari dulu hingga sekarang cukup ramai dan sangat berperan disegala sendi kehidupan masyarakat sekitarnya. Masyarakat Desa Mertasinga, merupakan masyarakat yang berbudaya, karena banyak tradisi lokal yang sampai sekarang masih dipertahankan, seperti melakukan doa tahlil bersama di tempat Lawang Gede serta pelaksanaan Tradisi Nadran yang perayaannya memakan waktu berhari-hari, dimana tradisi ini merupakan upacara tradisi kelautan yang dihiasi dan dilatarbelakangi semangat penyerapan nilai-nilai Islami.

Tradisi Nadran dimaknai sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menjadikan laut sebagai tempat mencari nafkah bagi mereka, dengan keleluasaan yang tanpa batas dan tidak henti-hentinya memberikan rejeki. Tradisi Nadran merupakan tradisi yang sakral dan bahkan komersial, karena dalam pelaksanaannya sudah pasti memakan biaya besar hanya demi mempertahankan tradisi. namun demikian nadran apabila tidak dipengaruhi berbagai kepentingan politik dan ekonomi atau campur tangan pihak lain, ia adalah upacara tanpa pamrih duniawi.

Apabila dicermati lebih lanjut, tradisi Nadran memiliki nilai-nilai yang sangat ideal, namun nilai-nilai tersebut belum sepenuhnya diimplikasikan dalam kehidupan dilapangan. Nadran memiliki dimensi yang sangat luas, namun masih sebatas dimensi kultural atau tradisi saja dan belum menyentuh dimensi kearifan budaya lokal dan tradisinya memiliki kelebihan bila dibandingkan dengan ketentuan-ketentuan hukum positif nasional. Nadran juga berguna dalam memperkaya konsepsi dan tujuan pembangunan nasional berbasis kelautan.

Tradisi Nadran secara umum saja, mengingat makalah ini hanya sebatas perwujudan rasa penasaran terhadap pengenalan dan penelusuran tentang Tradisi Nadran di Desa Mertasinga yang setiap tahunya dilaksanakan di Sungai Bondet setiap tanggal 1 Syuro atau bertepatan dengan Hari Jadi Kab. Cirebon, mungkin kedepan makalah ini akan menjadi bahan dasar kami untuk melakukan penelitian atau kajian-kajian lainnya yang tentunya dengan materi kajian yang berbeda dengan apa yang telah dilakukan oleh para pengkaji atau peneliti lainnya.

Satu hal yang harus kita ketahui bersama adalah bahwa persoalan yang sekarang dihadapi oleh para nelayan begitu konflek maka diperlukan peran semua unsur dan elemen bangsa ini untuk mencari solusi bagi kesejahteraan nelayan dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat nelayan. hal yang lebih penting juga bahwa tradisi Nadran dapat dijadikan sebagai nilai etika dan agama (asas-asas akhlak) yang manjadi faktor penentu agar tradisi Nadran kembali pada kesakralan, sekaligus menjadi landasan spritual bagi terbentuknya kode etik dan konvensi pesisir dan kelautan Cirebon.

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Total Pageviews