Thursday, October 31, 2013

TARI MERERE dari Kalisusu



Tari Merere merupakan tari tradisional yang berasal dari Kulisusu. Sedangkan kata merere dalam bahasa Kulisusu disebut, membuat dinding pembatas yang berarti seseorang yang belum balig harus melaksanakan prosesi merere.

Merere adalah pelaksanaan prosesi adat untuk mengislamkan agar diberi pengetahuan ilmu keagamaan dengan diajarkan mengucapkan dua kalimat sahadat sebagai pertanda telah sah menjadi penganut agama Islam sejati.

Konon, sebelum acara merere digelar terlebih dahulu dilaksanakan upacara kegembiraan pada siang dan malam hari, yakni pertunjukan seni budaya balumpa, ngibi, dan pencak silat. Usai kegiatan tersebut, dilanjutkan dengan berziarah ke Mata Morawu sebagai simbol asal mula nama Kulisusu yang letaknya terdapat di dalam Benteng Keraton. Ritual ini menandakan bahwa seseorang telah tiba di Kulisusu.

Setelah seluruh ritual adat dilaksanakan, maka dimulailah upacara merere yang dilaksanakan pada malam hari. Itupun masih melalui beberapa tahapan, seperti mebulili (memutar), mehungki (pertanda acara memere telah selesai), moato (diarak keliling kota yang diiringi dengan bunyi-bunyian alat musik tradisional), me uhu (pemberian doa selamat kepada orang yang telah melaksanakan merere).

Sedangkan puncak dari pagelaran Tari Merere, saat dua penari putra, mengusung dan mengarak-arak seorang gadis. Gadis ini menutupi wajahnya dengan sehelai selendang berwarna biru sehingga raut wajahnya tidak terlihat jelas membuat penonton penasaran.

Sepanjang mengitari panggung, gadis itu dipayungi dengan kain sutera berwarna kuning keemasan. Selanjutnya diikuti enam penari cantik, Sambil diiringi dengan musik tradisional, enam wanita cantik ini terus menerus menampilkan setiap gerakan Tari Merere. Proses selanjutnya, gadis itu diturunkan dan secara perlahan-lahan selendang yang menutupi wajahnya dibuka.

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Total Pageviews