Sunday, March 9, 2014

Tari Semut Asal Kamoro Memiliki Makna Tersendiri


Papua adalah tempat yang sangat kaya akan kebudayaan. 250 suku yang menghuni tanah ini memiliki kekhasan budaya mereka masing-masing. Tapi ketika seorang teman bertanya, adakah seni pertunjukan di Papua, aku terhenyak. Adakah seni pertunjukan di tanah ini? Apakah permainan perang-perangan yang dipentaskan orang Dani di Wamena itu bisa dibilang sebuah seni pertunjukan? Apakah memang memiliki sebuah plot cerita, selain sekedar dua pihak yang bertarung saling mempertontonkan keberanian mereka?
Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab oleh orang Kamoro. Suku Kamoro adalah sebuah suku yang wilayahnya berada di pesisir selatan Papua, tepatnya di Kabupaten Mimika, mulai dari Potowayburu di ujung barat hingga Sumapro di ujung timur Mimika. Bentuk kebudayaan mereka yang paling menonjol, sekalipun masih belum sepopuler orang Asmat, adalah ukiran. Pria-pria Kamoro umumnya pengukir yang handal.  Selain ukiran, budaya orang Kamoro juga kaya akan perayaan. Salah satu perayaan dalam siklus hidup orang Kamoro adalah Karapau, acara inisiasi anak muda.
Dalam acara Karapau, biasanya ada pementasan tarian yang melibatkan atraksi panjat memanjat sebuah panggung. Kisah di balik panggung itu akhirnya aku pahami pada kesempatan pementasan Tarian Semut oleh orang Kamoro dari Kaugapu di bawah pimpinan Bapak Markus Yemaro di Klub Golf Rimba Irian, Kuala Kencana/
Pada penjelasan yang diberikan Kal Muller, fotografer cum penulis yang sudah lama tinggal di Mimika, pesan dari Tari Semut adalah bahwa sebagai warga masyarakat, kita harus saling bantu membantu dan tolong menolong.
Aku kira hanya tarian biasa. Ternyata ada yang berperan sebagai troubadour, semut, dan biawak, dan sebuah jalan cerita.
Kurang lebih seperti ini ceritanya:
Pada suatu ketika, seorang paitua pergi masuk ke hutan untuk berburu. Di dalam hutan, betapa terkejutnya dia ketika mendapati sebuah menara yang menjulang tinggi. Takut bercampur kagum, dia kembali ke kampung dan tidak menceritakan temuannya itu kepada siapa-siapa.
Keesokan harinya, paitua itu kembali ke hutan untuk mencari lebih jauh soal menara itu. Dia bersembunyi dan mengamati. Ternyata menara itu dibangun oleh para semut. Mereka memasang tangga untuk meneruskan pekerjaan membangun menara serta menghiasi menara dengan dedaunan. Usai kerja, para semut kembali ke dalam sarang mereka.
Di malam hari, seekor ular menangkap biawak-biawak dan mengurungnya di ruangan bahwa menara. Para biawak yang malang itu diikat sehingga tidak berdaya.
Esoknya, paitua yang masih penasaran itu kembali ke menara dan mendapati seekor ular besar menguasai menara itu. Saat para semut datang, mereka kaget dan langsung mengusir ular dengan cara merayap naik turun. Gerakan para semut dipimpin oleh pimpinan koloni mereka yang berdiri di atas menara. Di balik dedaunan, paitua mengamati pertempuran itu.  Akhirnya ular berhasil dikalahkan dan para biawak dibebaskan.
Paitua yang diliputi rasa takjub segera kembali ke kampung dan menceritakan panjang lebar peristiwa itu ke seluruh warga kampung. Mendengar cerita itu, para warga kampung ikutan kagum dan mencoba membangun menara seperti yang diceritakan paitua itu. Dalam pembangunannya, mereka saling membagi tugas dan bekerja sama sebagaimana halnya para semut.
Usai pementasan, semua pemain langsung menyingkir dari area pertunjukan. Tinggal seorang mama yang tadi menjadi troubadour, menyanyikan sebuah lagu dalam bahasa Kamoro. Lebih mirip tuturan sebenarnya katimbang nyanyian. Suasana magisnya sangat terasa. Tidak ada satu orang pun dari rombongan pemain tadi yang meminta mama itu untuk menyingkir. Mungkin ada pesan dari Tari Semut yang hanya dipahami oleh orang Kamoro.

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Total Pageviews