Monday, October 28, 2013

Sejarah Upacara Adat Turun Tanah Dari Aceh



Hidup manusia berproses sejak dan lahir sebagai bayi, berjalan, dewasa, menikah, menjadi tua dan akhirnya meninggal. Alangkah bahagianya bila pada setiap proses hidup itu selalu didahului atau direstui dengan suatu keberkatan. Hal ini di Indonesia telah menjadi suatu tradisi, tak terkecuali di Daerah Aceh.

Di daerah ini ada suatu upacara yang dikenal dengan “Peutron Aneuk U Tanoh” atau turun tanah. Artinya, orang tua menurunkan bayi ke tanah. Hal ini dilakukan sewaktu bayi genap berusia 44 hari. Menjelang sang bayi berumur 44 hari itu, sang ibu harus pula melakukan berbagai pantangan. Hal ini dimaksudkan, agar si bayi dapat tumbuh sehat dan baik.

Pemimpin upacara adat turun tanah
Upacara “Turun Tanah” ini dipimpin oleh seorang Ketua Adat dengan menggendong si bayi menuju tangga rumah. Sambil mengucapkan doa-doa dari ayat suci Al-Quran, Ketua Adat menuruni tangga rumah dengan sang bayi tetap dalam gendongannya.

Keluarga mengharapkan agar dengan doa-doa tersebut sang bayi dalam perjalanan hidupnya selalu mendapatkan keselamatan dan lindungan dari Allah. Setelah sampai di tanah, upacara dilanjutkan dengan mencincang batang pisang atau pohon keladi yang telah disediakan. Hal ini mengibaratkan suatu keperkasaan dan dimaksudkan agar si bayi kelak dikaruniai sifat-sifat perkasa dan kesatria.

Ketua Adat melanjutkan acara dengan membawa masuk kembali sang bayi ke dalam nimah. Di dalam rumah ia mendapat salam sejahtera dari seluruh keluarga dan para hadirin. Upacara im dimeriahkan pula dengan permainan rebana, tari-tarian, pencak silat, dan permainan kesenian lainnya. Berbagai hidangan lezat seperti nasi dan lauk pauknya, dan kue-kue ikut memeriahkan upacara ini.

Sejarah upacara adat turun tanah
Masyarakat Aceh sangat terkenal dengan ketaatan mereka kepada agama Islam, sehingga hidup berbudaya mereka banyak pula dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Islam.

Keluarga mengharapkan agar dengan doa-doa tersebut sang bayi dalam perjalanan hidupnya selalu mendapatkan keselamatan dan lindungan dari Allah. Setelah sampai di tanah, upacara dilanjutkan dengan mencincang batang pisang atau pohon keladi yang telah disediakan. Hal ini mengibaratkan suatu keperkasaan dan dimaksudkan agar si bayi kelak dikaruniai sifat-sifat perkasa dan kesatria.

Ketua Adat melanjutkan acara dengan membawa masuk kembali sang bayi ke dalam nimah. Di dalam rumah ia mendapat salam sejahtera dari seluruh keluarga dan para hadirin. Upacara im dimeriahkan pula dengan permainan rebana, tari-tarian, pencak silat, dan permainan kesenian lainnya. Berbagai hidangan lezat seperti nasi dan lauk pauknya, dan kue-kue ikut memeriahkan upacara ini.

Masyarakat Aceh sangat terkenal dengan ketaatan mereka kepada agama Islam, sehingga hidup berbudaya mereka banyak pula dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Islam.

1 comments:

Muhafiss Z said...

Upacara turun tanah seperti di atas juga masih berlaku di tempat saya. Hanya keturunan Raja yang melakukan hal tsb. Dan Alhamd, saya adalah keturunan Raja. Sebelum turun tanah ada beberapa pantangan, tidak boleh menyentuh tanah dan bunga.

Salam Blogger!

Muhammad Hafis

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Total Pageviews