Sunday, November 3, 2013

Masjid Al OSmani, Masjid Tertua di Medan



Kota Medan yang merupakan salah satu kota besar di Indonesia, terkenal dengan bangunan-bangunan tua yang kerap menjadi destinasi wisata para turis baik lokal maupun mancanegara. Tidak ketinggalan dengan kunjungan wisata ke tempat-tempat religius seperti tempat peribadatan yang juga sarat dengan kisah dan sejarah.

Beberapa masjid di Medan masuk daftar tempat yang harus dikunjungi oleh para wisatawan. Ada tiga masjid di Medan yang terkenal di kalangan para wisatawan karena bangunan tuanya yang melegenda.

Sebut saja Masjid Raya di Jl. Sisingamangaraja, Masjid Lama Gang Bengkok di Jl. Mesjid, dan Masjid Raya Al Osmani di Jl. Yos Sudarso Km 17,5. Dari ketiga masjid tersebut, Al Osmani merupakan masjid tertua. Letaknya termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan.

Keberadaan Mesjid Raya Al Osmani tidak dapat dipisahkan dari eksistensi Kesultanan Deli yang masih bertahan sampai sekarang. Masjid Al Osmani yang juga disebut Masjid Raya Labuhan ini dibangun pada tahun 1854. Pembangunan masjid ini digagas oleh Sultan Deli VII Osman Perkasa Alam, seorang Sultan yang sangat dihormati oleh rakyatnya pada masanya.

Bangunan masjid ini pada awalnya terbuat dari kayu berkualitas. Hal ini tertuang di dalam prasasti berwarna hitam yang melekat di dinding masjid. Tertulis bahwa pada waktu pembangunannya menggunakan kayu-kayu pilihan yang terbaik. Namun sayangnya, tidak dituliskna jenis kayu apa yang dipergunakan.

Tepat di depan masjid ini dahulu istana Kesultanan Deli pertama dibangun, untuk memudahkan Sultan menuju ke masjid untuk beribadah. Sultan hanya perlu berjalan kaki sebentar untuk mencapai masjid tersebut. Namun, bekas-bekas kemegahan istan tersebut saat ini sudah rata dengan tanah, dan berganti menjadi bangunan sekolah dasar. Sementara halaman belakang masjid tersebut merupakan tempat pemakaman Sultan Osman Perkasa Alam yang telah wafat pada tahun 1858.

Pada saat pembangunannya pertama kali, bangunan masjid Al Osmani hanya berukuran  16 x 16 meter dengan material utama kayu, seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Dahulu, masjid ini difungsikan sebagai tempat sultan melaksanakan ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya. Namun seiring dengan perkembangan waktu dan perubahan zaman, masjid ini pun mengalami transformasi, sampai pemugaran besar-besaran dalam beberapa tahap dan pada beberapa masa yang berbeda-beda.

Transformasi dan perubahan masjid ini sampai kepada sebuah rancangan unik perpaduan arsitektur bangunan Timur Tengah, India, Spanyol, Melayu, dan China dengan kubah tembaga bersegi delapan. Masjid ini memiliki tiga pintu utama berukuran besar yang berada di sebelah utara, timur, dan selatan masjid.

Di bagian dalam masjid terdapat empat tiang besar dan kokoh yang berfungsi sebagai penyokong utama kubah masjid. Kubah ini tergolong lebih besar dari kubah masjid pada umumnya karena beratnya yang mencapai 2,5 ton. Sementara keindahan lain terlukis pada kaligrafi dan lukisan bagian dalam kubah tersebut.

Masjid ini masih menunjukkan kemegahannya yang tergambar sempurna pada masanya. Sebuah mimbar terbuat dari kayu berukir, jam dinding antik dan lampu Kristal gantung mempercantik interior masjid. Tiba di masjid ini, para pengunjung akan melihat dominasi warna kuning dan hijau pada dinding masjid yang melambangkan entitas Melayu yang melekat kuat.

Kini, selain digunakan sebagai tempat ibadah umat muslim, masjid ini juga merupakan tempat peringatan dan perayaan hari besar keagamaan, dan juga sebagai tempat pemberangkatan jemaah haji yang berasal dari wilayah Medan Utara menuju pemondokan jemaah haji.

Karena kemegahan dan keunikannya, masjid ini juga menjadi destinasi para wisatawan untuk tidak hanya sekadar melakukan wisata religi, tetapi sekaligus melakukan wisata arsitektur.

Jika Anda penasaran dengan kemegahan Masjid Al Osmani, jangan ragu untuk mengunjunginya. Berada tidak jauh dari pusat kota, yaitu sekitar 18 km dari Kota Medan atau sekitar 25 menit berkendara, dan berjarak sekitar 22 km dari Bandara Internasional Polonia Medan, atau menempuh jarak waktu kurang lebih 30 menit berkendara, Anda bisa langsung mengunjungi masjid legendaris ini.

Tempat Terkait: Masjid Raya, Masjid Gang Bengkok

Hotel Terdekat: Grand Sakura Hotel, Alpha Inn

0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Total Pageviews